BUMDes Jadi Ujung Tombak Pemasaran
Yang membuat usaha melon di Wanasari berjalan bukan hanya soal menanam. Setelah panen, petani sempat kebingungan memasarkan buah mereka. Di titik itulah peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wanasari menjadi kunci. BUMDes membeli langsung hasil panen petani, sehingga warga tidak perlu mencari pembeli sendiri di tengah waktu panen yang singkat.
Peran BUMDes tidak berhenti di pembelian. Kehadirannya juga membantu menyediakan bibit dan pupuk, serta memberikan modal tanpa bunga bagi warga yang ingin mulai menanam melon. Dukungan itu mengurangi beban awal petani baru, terutama mereka yang belum punya pengalaman bertani hortikultura.
Dari sisi pemasaran, hasil panen melon Wanasari kini dipasarkan hingga ke Makassar, masuk dalam program dapur MBG, dan sempat menembus jaringan ritel modern. Rentetan tujuan pemasaran itu menunjukkan produk desa bisa menembus pasar yang lebih luas bila ada lembaga yang mengorganisasi hasil panen.
Literasi Desa dan Pelajaran untuk Desa Lain
Pengalaman Wanasari menunjukkan wajah lain literasi. Perpustakaan desa tidak berhenti sebagai tempat membaca, tetapi menjadi pintu masuk bagi warga untuk memperoleh pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan mereka. Warga dilibatkan, diberi ruang belajar, lalu didorong memanfaatkan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pola ini bisa dibaca sebagai jalan tengah bagi desa-desa yang ingin mengembangkan ekonomi tanpa meninggalkan sektor pertanian. Beberapa kunci yang terlihat di Wanasari adalah adanya lahan contoh yang mudah dilihat warga, keberadaan lembaga desa yang siap menampung hasil panen, dan keterlibatan pihak luar sebagai pendamping.
Tantangannya juga nyata. Ketika semakin banyak warga menanam komoditas yang sama, risiko kelebihan pasokan bisa muncul. Karena itu peran BUMDes untuk membuka tujuan pemasaran baru, termasuk ke luar daerah, menjadi pekerjaan yang harus terus berjalan.
Rentang Pendapatan dan Catatan Kehati-hatian
Selain angka Rp50 juta dari lahan 25 are, catatan lapangan lain menyebut petani yang mengikuti program ini dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta hingga Rp80 juta dalam satu siklus tanam yang berlangsung kurang lebih dua bulan. Rentang itu bersifat perkiraan hasil kotor dan sangat bergantung pada luas lahan, kualitas bibit, perawatan, serta harga jual saat panen.
Karena itu, angka-angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran peluang, bukan janji hasil yang berlaku sama untuk semua orang. Petani yang baru memulai tetap perlu menghitung biaya produksi, menyiapkan tenaga kerja, dan menyisihkan cadangan untuk risiko gagal panen. Pengalaman Nilo Devi pada percobaan pertama menunjukkan risiko itu nyata.
Yang membuat hitungan ini lebih masuk akal adalah adanya lembaga yang menampung hasil panen. Ketika pembeli sudah ada dan pasokan sarana produksi bisa diakses, ketidakpastian yang dihadapi petani berkurang. Di sisi lain, desa tetap perlu menjaga keragaman komoditas agar tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa penghasilan dari budidaya melon di Wanasari?
Petani Nilo Devi menyebut hasil kotor dari lahan 25 are dengan sekitar 2.300 pohon bisa mencapai Rp50 juta dalam satu siklus tanam sekitar 60 hari. Angka itu bersifat kotor, belum dikurangi biaya produksi.
Siapa yang membeli hasil panen melon warga?
BUMDes Wanasari membeli langsung hasil panen petani. Produk itu dipasarkan hingga ke Makassar, masuk program dapur MBG, dan sempat menembus jaringan ritel modern.
Hama apa yang menjadi kendala utama?
Petani menyebut hama tikus sebagai kendala yang paling sulit dikendalikan, di samping lalat dan penyakit jamur. Karena itu ada periode tertentu ketika petani memilih tidak menanam.
Untuk liputan lain soal ekonomi warga Luwu Timur, SuaraLutim pernah menulis soal kawasan lada terpadu Loeha Raya dan strategi 4K menjaga harga di Luwu Timur. Dua artikel itu melengkapi gambaran bagaimana sektor pertanian dan pangan daerah bergerak.
Sumber rujukan: Sarambang.id dan laporan literasi inklusi sosial Wanasari.


