Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Lutim, SuaraLutim – Berita Lutim kembali diwarnai prestasi olahraga. Kontingen Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) Kabupaten Luwu Timur membawa pulang 8 medali emas dan 2 medali perak dari Kejuaraan Daerah (Kejurda) karate yang berlangsung di Aula GOR SMKN 2 Palopo pada 25–26 September 2026.
Kejuaraan itu mempertemukan peserta dari kawasan Luwu Raya bersama kontingen dari Wajo, Parepare, Sinjai, dan Pinrang. Total peserta yang turun bertanding mencapai 387 orang, sementara penyelenggaraannya dilakukan INKAI Cabang Palopo sebagai ruang pengujian kemampuan sekaligus ajang menambah pengalaman bertanding bagi para karateka.
Berita Lutim: Delapan Emas dari Tatami Palopo
Dari dua dojo yang mengirim atlet ke Palopo, yakni Dojo SMKN 1 Luwu Timur dan Dojo Batara Guru, para karateka Luwu Timur tampil penuh percaya diri. Sebagian atlet yang berlaga masih duduk di bangku sekolah dasar, sebagian lagi berusia remaja pada kategori junior.
Hasilnya tercatat rapi. Kategori junior usia 16–17 tahun dari Dojo SMKN 1 Luwu Timur menyumbang sejumlah medali emas, dilengkapi emas dari nomor kata beregu. Sementara dari Dojo Batara Guru, medali datang dari kategori usia dini hingga pemula, termasuk dua perak yang diraih atlet dari sekolah dasar yang sama.
Rincian perolehan medali tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan di Luwu Timur tidak terpusat pada satu kelompok usia saja. Ada atlet yang baru mulai bertanding di usia 8 tahun, dan ada pula yang sudah masuk kategori junior.
Daftar Atlet dan Kategori yang Meraih Medali
Berikut rincian capaian kontingen INKAI Kabupaten Luwu Timur berdasarkan laporan yang diterima media:
| Atlet | Kategori | Nomor | Medali |
|---|---|---|---|
| Aulia Jessica | Junior 16–17 tahun (Dojo SMKN 1 Luwu Timur) | Kata perorangan putri | Emas |
| Haikal | Junior 16–17 tahun | Kata perorangan putra | Emas |
| Komang Rahayu | Junior 16–17 tahun | Kata perorangan putri | Emas |
| Aulia Ramadhani, Komang Rahayu, Sarti | Junior 16–17 tahun | Kata beregu | Emas |
| Andi Al-Quds Filistin MS (SD IT Insan Rabbani) | Usia dini 8–9 tahun (Dojo Batara Guru) | Kata perorangan putra | Emas |
| Muh. Fathur Hajar (SD IT Insan Rabbani) | Pra-pemula 10–11 tahun | Kata perorangan putra | Emas |
| Muh. Fathir Hajar (SMP 1 Malili) | Pemula 12–13 tahun | Kata perorangan putra | Emas |
| Azzam Rajmal Maulana (SDN 238 Mallaulu) | Pra-pemula 10–11 tahun | Kata perorangan putra | Perak |
| A. Muhammad Zaki Darajat M (SDN 238 Mallaulu) | Pra-pemula 10–11 tahun | Kata perorangan putra | Perak |
Sejumlah nama pada kategori junior berasal dari Dojo SMKN 1 Luwu Timur, sedangkan atlet usia dini hingga pemula berlatih di Dojo Batara Guru. Dua atlet yang meraih perak tercatat sebagai siswa SDN 238 Mallaulu.
Pembinaan Usia Dini Mulai Menunjukkan Hasil
Salah satu hal yang menonjol dari capaian ini adalah munculnya nama-nama atlet usia dini. Andi Al-Quds Filistin MS, yang masih berusia 8–9 tahun, berhasil meraih emas pada nomor kata perorangan putra. Muh. Fathir Hajar dari SMP 1 Malili juga menambah koleksi emas pada kategori pemula 12–13 tahun.
Kemunculan atlet belia tersebut menandakan bahwa pembinaan di tingkat dojo mulai berjalan konsisten. Latihan rutin di sanggar karate, dukungan orang tua, dan kesempatan bertanding di ajang seperti Kejurda menjadi kombinasi yang menentukan.
Kejurda sendiri berfungsi ganda. Bagi atlet pemula, kejuaraan daerah menjadi pengalaman pertama mengukur kemampuan di luar dojo. Bagi pelatih, ajang ini menjadi bahan evaluasi untuk menyusun program latihan berikutnya, terutama menjelang kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional.
Kerja Sama Dojo, Pelatih, dan Orang Tua
Keberhasilan sebuah kontingen tidak bisa dilepaskan dari kerja kolektif. Di balik medali ada pelatih yang menyusun program latihan, pengurus dojo yang mengelola jadwal, serta orang tua yang mengantar anak-anak berlatih setiap pekan. Peran sekolah juga terlihat, karena sebagian atlet berasal dari sekolah dasar dan menengah yang memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler.
Pola ini sejalan dengan pembinaan olahraga prestasi di daerah yang bertumpu pada klub dan dojo. Selama sarana latihan tersedia dan kompetisi rutin digelar, atlet muda Luwu Timur punya jalur yang jelas untuk berkembang.


