Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Pariwisata Lutim: Ekowisata Mangrove dan Wisata Pesisir

4 Oktober 2026 • Admin • 20 kali dibaca
Warga dan nelayan di kawasan pesisir Luwu Timur, gambaran pariwisata Lutim berbasis mangrove
Gambar: Dokumentasi SuaraLutim (peninjauan kawasan nelayan pesisir Luwu Timur).
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Pariwisata Lutim mendapat wajah baru dari kawasan pesisir. Hamparan mangrove di pesisir Kabupaten Luwu Timur tidak hanya berfungsi menahan abrasi dan menjadi rumah bagi biota laut, tetapi juga tumbuh menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang mulai dilirik wisatawan lokal maupun pendatang.

Di kawasan Banua Pangka, Kabupaten Luwu Timur, sebuah destinasi ekowisata mangrove dikelola secara kolaboratif dengan melibatkan warga pesisir, seperti tercatat dalam studi akademik Jurnal Destinasi Pariwisata. Sementara di Pasi-Pasi, Malili, ribuan bibit mangrove ditanam bersama nelayan, pemerintah daerah, dan sejumlah pihak sebagai bagian dari pemulihan ekosistem pesisir, sebagaimana dilaporkan ANTARA News. Dua contoh itu memperlihatkan bahwa pariwisata Lutim tidak hanya bertumpu pada danau purba, tetapi juga pada lanskap pantai dan hutan bakau.

Pariwisata Lutim dan Ekowisata Mangrove: Menahan Abrasi Sekaligus Jadi Daya Tarik

Mangrove memiliki fungsi ganda. Secara ekologis, akar bakau menahan sedimen dan meredam gelombang sehingga garis pantai lebih stabil. Rumpun mangrove juga menjadi tempat pemijahan ikan, kepiting, dan udang — komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung nelayan kecil di pesisir Luwu Timur.

Fungsi berikutnya adalah wisata. Kawasan mangrove menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata danau. Pengunjung bisa menyusuri rimbun bakau, mengamati aktivitas nelayan, dan belajar langsung soal ekosistem pesisir dari pemandu yang merupakan warga setempat. Model seperti ini membuat manfaat wisata tidak berhenti di kunjungan, tetapi berputar di ekonomi kampung.

Tata Atur
Iklan

Kekayaan mangrove Indonesia sendiri tercatat sebagai yang terluas di dunia. Namun berdasarkan keterangan yang dirilis dalam kegiatan penanaman mangrove di Pasi-Pasi, lebih dari separuh luas mangrove nasional mengalami degradasi. Kondisi itulah yang menjadikan upaya pemulihan di daerah pesisir seperti Luwu Timur penting, bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk keberlanjutan pariwisata.

Belajar dari Tata Kelola Ekowisata Mangrove Banua Pangka

Sebuah studi bertajuk Studi Kasus Eksploratif Tentang Tata Kelola Kolaboratif Berbasis Komunitas di Destinasi Ekowisata Mangrove Banua Pangka, Luwu Timur yang terbit di Jurnal Destinasi Pariwisata Universitas Udayana menempatkan kawasan ini sebagai contoh destinasi ekowisata bahari berbasis komunitas. Penelitian itu mencatat bahwa pengelolaan berbasis masyarakat merupakan strategi penting untuk destinasi yang secara ekologis rentan.

Studi tersebut juga mengingatkan satu hal krusial: ketika lembaga formal mengambil alih pengelolaan dari komunitas perintis, partisipasi warga bisa melemah. Sebagai respons, warga membentuk kelompok usaha alternatif agar tetap terlibat. Temuan ini menjadi pelajaran bagi pengelolaan destinasi mana pun di Luwu Timur — keikutsertaan warga bukan pelengkap, melainkan syarat agar wisata bertahan lama.

Pelajaran itu berlaku umum untuk pariwisata Lutim. Destinasi yang dibangun tanpa melibatkan warga cenderung cepat kehilangan penjaga, sementara destinasi yang tumbuh dari inisiatif kampung biasanya lebih terawat karena warga merasa memiliki.

Lokasi, Akses, dan Waktu Terbaik Berkunjung

Kawasan mangrove di Luwu Timur berada di sepanjang garis pantai yang membentang dari arah Malili hingga wilayah pesisir lain di kabupaten ini. Pasi-Pasi di Kecamatan Malili menjadi salah satu titik yang disebut dalam kegiatan pemulihan ekosistem, sedangkan Banua Pangka tercatat sebagai destinasi ekowisata mangrove dalam kajian akademik.

Untuk mencapai Malili, pengunjung umumnya menempuh jalur darat dari Makassar melalui Parepare dan Palopo, atau memanfaatkan penerbangan menuju Sorowako. Dari pusat kota Malili, perjalanan ke titik-titik pesisir ditempuh dengan kendaraan darat, sebagian dilanjutkan dengan perahu warga.

  • Waktu terbaik: pagi hari, saat air relatif tenang dan cahaya cukup untuk pengamatan.
  • Peralatan: alas kaki yang tidak licin, pelindung matahari, dan air minum.
  • Pemandu: gunakan jasa pemandu warga agar interpretasi ekosistem lebih akurat.
  • Etika: jangan memetik propagul atau menangkap biota untuk suvenir.

Sebagai gambaran lain soal wisata pesisir Luwu Timur, kawasan pantai di Burau dan pulau-pulau kecil di Teluk Bone juga dikembangkan sebagai destinasi. Rekomendasi kami, baca juga ulasan pulau Bulu Polo’e dan terumbu karangnya serta catatan tentang Pantai Lemo di Burau dan ekonomi warga.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga