Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SUARALUTIM.COM, WASUPONDA — Pariwisata Lutim di Kecamatan Wasuponda mendapat perhatian yang jarang dibicarakan dalam promosi destinasi: keselamatan orang yang masuk ke hutan di sekitarnya. Pada 2 Oktober 2026, seorang warga berusia 57 tahun dari Dusun Lahumpangi Barat, Desa Parumpanai, ditemukan selamat setelah tiga hari dilaporkan hilang di kawasan Gunung Lahumpangi Barat. Ia berangkat pada 30 September 2026 sekitar pukul 08.30 WITA untuk survei kayu, tanpa bekal, dan nomor teleponnya tidak lagi aktif saat dihubungi keluarganya pada siang hari.
Kisah itu tidak berakhir buruk. Tim SAR gabungan menemukannya pada hari ketiga, dan operasi pencarian ditutup dengan kelegaan bagi keluarga serta warga desa. Tetapi rangkaian peristiwanya menyimpan pelajaran yang relevan bagi siapa pun yang datang ke Luwu Timur untuk menikmati alam: hutan di sekitar kawasan danau bukan taman kota, dan jarak tempuh di dalamnya tidak sebanding dengan yang terlihat di peta.
Bagi pariwisata Lutim, pembicaraan soal keselamatan bukan pengurangan semangat promosi. Justru sebaliknya: destinasi yang dikenal aman dan tertib akan lebih sering dikunjungi ulang, terutama oleh rombongan keluarga dan komunitas kecil yang datang tanpa pemandu profesional.
Pariwisata Lutim dan Kronologi Tiga Hari di Gunung Lahumpangi
Berdasarkan laporan Luwuraya, warga tersebut berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke gunung dengan berjalan kaki, dengan tujuan melakukan survei kayu. Ia tidak membawa bekal. Menjelang siang, keluarganya mencoba menghubungi, tetapi nomor yang digunakan tidak aktif. Kekhawatiran keluarga berkembang menjadi pencarian mandiri bersama warga setempat sebelum akhirnya dilaporkan ke Pemerintah Desa Parumpanai dan diteruskan ke tim SAR gabungan.
Operasi pencarian melibatkan Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur, TNI-Polri, Pemerintah Desa Parumpanai, relawan, serta masyarakat. Memasuki hari ketiga, tim memperluas area dan membagi personel ke beberapa kelompok untuk menyisir titik-titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan warga tersebut.
Hingga laporan itu diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai titik penemuan, pihak yang pertama menemukan, maupun kondisi fisik setelah ditemukan. Karena itu, artikel ini tidak menyimpulkan detail yang belum dipublikasikan. Yang tercatat adalah hasil akhirnya: warga ditemukan dalam keadaan selamat dan operasi pencarian dihentikan.
Mengapa kawasan ini mudah “menelan” waktu
Gunung Lahumpangi berada di wilayah Desa Parumpanai, kecamatan yang sama dengan pintu masuk sejumlah destinasi air di Luwu Timur. Medannya berbukit, dengan tutupan vegetasi rapat dan jalur yang sebagian besar berupa jalan setapak warga, bukan jalur pendakian resmi dengan penanda arah. Pada kondisi seperti itu, jarak dua kilometer di dalam hutan bisa terasa jauh lebih panjang daripada dua kilometer di jalan poros.
Faktor kedua adalah komunikasi. Sinyal di kawasan perbukitan tidak merata, sehingga nomor yang tidak aktif sulit dibedakan antara telepon mati karena baterai, berada di luar jangkauan, atau sebab lain. Ketika informasi awal yang tersedia hanya “tidak aktif”, tim di lapangan harus bekerja dengan asumsi paling luas, dan itu memakan waktu.
Wasuponda: Titik Masuk Wisata Alam yang Perlu Dikelola Serius
Posisi Wasuponda penting bagi pariwisata Lutim karena kecamatan ini menjadi salah satu jalur menuju kawasan tiga danau purba: Matano, Mahalona, dan Towuti. Dari sisi data kunjungan, Malili masih mendominasi dengan 194.654 kunjungan pada 2025, sementara Burau mencatat 26.691 kunjungan dan Towuti 8.423 kunjungan dalam data Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Luwu Timur. Angka-angka itu menunjukkan bahwa kunjungan masih terkonsentrasi di pusat kabupaten dan kawasan danau, bukan di jalur perbukitan.
Di sisi akses, konektivitas Wasuponda masih menjadi pekerjaan rumah. Dua jembatan kayu di Desa Parumpanai, yakni Jembatan Rende-Rende dan Lintu, diusulkan dibangun permanen dan sudah masuk pembahasan RAPBD Luwu Timur 2027. Kondisi Jembatan Lintu disebut mulai mengalami penurunan di bagian tengah. Bagi warga, jembatan itu adalah jalur harian; bagi pengunjung, konektivitas semacam ini menentukan apakah perjalanan menuju objek wisata bisa direncanakan dengan pasti.
Karena itu, pembahasan pariwisata Lutim yang serius tidak bisa berhenti pada daftar destinasi. Ia harus mencakup tiga hal yang saling terkait: akses yang layak, informasi jalur yang jelas, dan prosedur keselamatan yang diketahui warga maupun pengunjung.


