Wisata Luwu Timur bertambah satu wajah dari sisi barat kabupaten. Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, mengembangkan Agrowisata Kebun Nanas Ponda’ta dari lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi kawasan pertanian sekaligus ruang wisata. Perubahan itu tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan panjang desa dalam mengelola potensi lokal bersama warga dan sejumlah pihak yang mendampingi.
Kabupaten Luwu Timur dikenal lewat tiga danau besarnya, Matano, Mahalona, dan Towuti. Namun, potensi wisata daerah ini juga tumbuh dari desa-desa yang mengolah pertanian, perkebunan, dan hasil bumi sebagai daya tarik. Agrowisata Kebun Nanas Ponda’ta di Tabarano adalah contoh bagaimana lahan tidur bisa berubah fungsi tanpa harus menunggu proyek besar.
Wisata Luwu Timur dari Lahan Kurang Produktif
Lahan yang menjadi lokasi agrowisata ini tercatat sebagai lahan yang sebelumnya kurang produktif. Pengelolaan diarahkan agar lahan tersebut menghasilkan nilai ekonomi sekaligus berfungsi sebagai ruang wisata. Dengan pola itu, warga tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut menikmati hasil dari lahan yang mereka kelola.
Konsep agrowisata menempatkan kegiatan pertanian sebagai atraksi utama. Pengunjung datang untuk melihat langsung bagaimana komoditas ditanam dan dipanen, sementara petani tetap menjalankan usaha tani sebagai sumber penghasilan utama. Pendekatan seperti ini membuat musim tanam dan musim panen menjadi bagian dari pengalaman berkunjung, bukan sekadar latar belakang.
Bagi desa, fungsi ganda lahan itu penting. Nilai jual hasil pertanian tetap berjalan, sementara kunjungan membuka peluang tambahan bagi pedagang kecil, penyedia makanan, dan pelaku usaha jasa di sekitar lokasi. Karena itu, pengembangan agrowisata sering disebut sebagai cara memperpanjang rantai manfaat dari satu bidang lahan.
Kebun Nanas Ponda’ta dan Cerita Desa Tabarano
Perjalanan Desa Tabarano menuju desa yang lebih mandiri tidak terlepas dari sosok Rimal Manukallo. Ia tercatat lebih dari satu dekade mendorong warga untuk terlibat aktif membangun desa. Pengalamannya dimulai ketika terlibat dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) selama kurang lebih lima tahun, sebelum kemudian dipercaya memimpin Desa Tabarano selama dua periode.
Dalam sejumlah kesempatan, Rimal menekankan bahwa pemberdayaan bukan sekadar menjalankan program. Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam proses pembangunan agar potensi lokal bisa berkembang sekaligus menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi desa. Ia juga menyebut pentingnya melibatkan warga dan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan sebagai lompatan yang harus dilewati desa yang masih tertinggal.
Di bawah kepemimpinan itu, sejumlah potensi Desa Tabarano mulai dikembangkan, mulai dari UMKM, pertanian, perkebunan, peternakan, hingga peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Agrowisata Kebun Nanas Ponda’ta menjadi salah satu wajah dari arah pembangunan tersebut karena menyatukan dua hal sekaligus: usaha tani dan ruang kunjungan.
Dukungan Program Pemberdayaan dan Penghargaan Desa
Upaya pengembangan potensi Desa Tabarano tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Vale Indonesia di wilayah pemberdayaannya, dinilai membuka ruang bagi desa dan warga untuk mengembangkan potensi secara berkelanjutan. Pola kemitraan semacam ini lazim dipakai untuk mempercepat pembelajaran desa, terutama pada tahap perencanaan dan penguatan kelembagaan.
Jejak pengakuan atas kerja tersebut tercatat dalam beberapa momentum. Pada 2019, Rimal meraih penghargaan Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) PT Vale Indonesia. Pada 2026, Desa Tabarano kembali mendapat apresiasi melalui Bupati Awards kategori Inovasi Pengelolaan BUMDes. Penghargaan itu dinilai bukan hanya kebanggaan, tetapi juga dorongan untuk terus mengembangkan desa.
Selain sektor ekonomi, Desa Tabarano melakukan inovasi pelayanan pemerintahan melalui digitalisasi layanan desa. Langkah itu diambil untuk memudahkan warga mengakses layanan administrasi, terutama bagi mereka yang harus menempuh jarak cukup jauh ke kantor desa. Bagi wisatawan, layanan administrasi yang tertib juga membantu ketika desa menerima kunjungan dalam jumlah lebih besar.


