Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Jalan Mahalona-Bantilang Rp27 Miliar

26 September 2026 • Admin • 21 kali dibaca
Jalan poros Mahalona Bantilang di Kecamatan Towuti sebagai akses wisata luwu timur menuju Danau Mahalona dan Towuti
Gambar: Fakta Jurnalis (fakta-jurnalis.com)
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Kabar baik datang bagi warga dan pelaku wisata di Kecamatan Towuti. Ruas jalan Mahalona–Bantilang dipastikan mulai dikerjakan pada 2026–2027 dengan total anggaran mencapai Rp27 miliar. Kepastian itu disampaikan Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Luwu Timur, Hendro Prabowo, sebagaimana diberitakan Fakta Jurnalis, Kamis (24/9/2026).

Proyek tersebut masih berada pada tahap administrasi dan teknis di balai terkait sebelum pekerjaan fisik dimulai di lapangan. Bagi sektor pariwisata, ruas ini penting karena menjadi penghubung utama menuju kawasan Danau Mahalona dan sejumlah desa di lingkar Towuti yang selama ini aksesnya terbatas.

Wisata Luwu Timur dan Akses Menuju Tiga Danau

Kawasan Towuti menyimpan destinasi yang sudah lama dikenal, mulai dari Taman Wisata Alam Danau Mahalona hingga Pulau Loeha di Danau Towuti. Namun, perjalanan darat menuju sebagian titik masuk masih menjadi kendala, terutama saat hujan karena kondisi badan jalan yang rusak di beberapa ruas.

Perbaikan jalan Mahalona–Bantilang diharapkan memangkas waktu tempuh dan menurunkan biaya perjalanan. Bagi wisatawan, akses yang lebih baik membuat perjalanan menuju area danau lebih nyaman; bagi warga, jalur itu mempermudah pengangkutan hasil kebun seperti merica dan kopi ke pasar.

Tata Atur
Iklan

Dinas PU menargetkan pekerjaan berjalan bertahap mengikuti kesiapan administrasi dan teknis. Pemerintah kabupaten menyebut langkah ini merupakan bagian dari upaya menjawab kebutuhan nyata masyarakat, baik dari sisi ekonomi kerakyatan maupun konektivitas wilayah.

Tambahan Dana Bantuan Keuangan Khusus Provinsi

Selain ruas Mahalona–Bantilang, alokasi Dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Provinsi Sulawesi Selatan tahun ini diarahkan ke dua titik krusial di Kecamatan Towuti. Pertama, peningkatan jalan ruas Bantilang–Masiku–Rauta yang mengarah ke batas Sulawesi Tenggara dengan nilai Rp3.050.000.000.

Kedua, peningkatan jalan ruas Pekaloa–Bantilang, Desa Mahalona, dengan nilai Rp4.500.000.000. Ruas Pekaloa–Bantilang menjadi salah satu jalur yang paling sering dilalui wisatawan dan warga menuju kawasan danau.

Dengan tambahan itu, total anggaran untuk pembenahan infrastruktur jalan di wilayah Mahalona dan sekitarnya semakin besar. Efeknya diharapkan terasa pada kelancaran mobilitas warga sekaligus mendorong roda perekonomian lokal, termasuk usaha penginapan dan kuliner di sekitar danau.

Menuju Danau Mahalona

Danau Mahalona berada di Kecamatan Towuti dan merupakan bagian dari sistem Danau Malili bersama Danau Matano dan Danau Towuti. Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979, bersama dua danau lainnya.

Secara administratif, kawasan TWA Danau Mahalona terletak di wilayah Kecamatan Towuti. Beberapa desa menjadi titik masuk, antara lain Timampu dan Pekaloa, dengan batas kawasan mencakup sejumlah gunung dan dusun di sekelilingnya, seperti Gunung Matampo, Dusun Tominanga, hingga Dusun Wungausa.

Ketinggian kawasan ini sekitar 300 meter di atas permukaan laut dengan tipe iklim basah. Aktivitas yang biasa dilakukan pengunjung adalah menyusuri danau dengan perahu ketinting, mengamati burung air, serta menikmati mata air dingin di tepi danau. Beberapa jenis ikan endemik Sulawesi seperti opudi (Telmatherina) menjadi daya tarik bagi pengunjung yang menaruh minat pada biota danau purba.

Waktu dan Rute Perjalanan

Perjalanan darat dari Makassar menuju kawasan danau di Luwu Timur menempuh jarak sekitar 620 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 12 jam, melewati Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Palopo, hingga Malili. Jalur alternatif udara tersedia melalui penerbangan menuju Bandara Sorowako, lalu dilanjutkan perjalanan darat.

Waktu kunjungan yang umum disarankan adalah musim kemarau, ketika cuaca lebih cerah dan permukaan danau relatif tenang sehingga perjalanan perahu lebih aman. Pemerintah daerah dan pengelola kawasan mengingatkan pengunjung menerapkan prinsip tidak meninggalkan sampah di kawasan konservasi.

  • Ruas yang dikejar: jalan Mahalona–Bantilang, anggaran Rp27 miliar, dikerjakan 2026–2027.
  • BKK Provinsi Sulsel: Bantilang–Masiku–Rauta Rp3,05 miliar dan Pekaloa–Bantilang Rp4,5 miliar.
  • Kawasan tujuan: TWA Danau Mahalona, Danau Towuti, dan lingkar desa di Kecamatan Towuti.
  • Akses: jalan poros dari Malili menuju Timampu dan Pekaloa, atau penerbangan ke Bandara Sorowako.

Danau Towuti dan Pulau Loeha

Dari jalur yang diperbaiki, perjalanan bisa berlanjut ke Danau Towuti, danau air tawar terluas kedua di Indonesia setelah Danau Toba dengan luas sekitar 561 kilometer persegi. Di tengah danau terdapat sejumlah pulau, antara lain Pulau Loeha, Pulau Bolong, dan Pulau Kembar, yang dicapai dengan speedboat atau perahu ketinting dalam waktu sekitar satu sampai dua jam tergantung cuaca dan angin.

Kawasan Danau Towuti juga berstatus Taman Wisata Alam dan menjadi rumah bagi flora khas, termasuk kantong semar (Nepenthes), anggrek epifit yang menempel di pepohonan, serta pohon Macadamia hildebrandii yang endemik Sulawesi. Pemandangan tepian danau dengan vegetasi rapat menjadi alasan banyak pengunjung memilih menyusuri danau, bukan sekadar berhenti di dermaga.

Apabila jalan Mahalona–Bantilang selesai, rangkaian perjalanan darat dari Malili menuju titik masuk lingkar Towuti menjadi lebih efisien. Wisatawan dapat menempuh rute tiga danau dalam satu perjalanan: Matano di Kecamatan Nuha, Mahalona, lalu Towuti, yang semuanya terhubung dalam sistem Danau Malili.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga