Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Suso Fest 2026 Jaga Pantai Ujung Suso

22 September 2026 • Admin • 7 kali dibaca
Suso Fest 2026 di Pantai Ujung Suso, agenda wisata luwu timur berbasis lingkungan di Kecamatan Burau
Gambar: Penalutim.com
ASM Group
Iklan

Malili – Pantai Ujung Suso di Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, tidak hanya menjadi tempat liburan akhir pekan. Selama dua hari, 19 sampai 20 September 2026, kawasan pantai itu berubah menjadi ruang kampanye wisata ramah lingkungan lewat Suso Fest 2026. Festival tersebut mengusung tema “Eco-Escape: Fun, Clean and Connect”.

Dalam satu tarikan napas, tema itu merangkum hampir semua yang disiapkan panitia: hiburan, olahraga, seni, edukasi lingkungan, layanan kesehatan, hingga aksi bersih pantai. Publikasi seputar wisata luwu timur pun kembali menempatkan kawasan pesisir Burau sebagai salah satu titik yang serius digarap, bukan sekadar pelengkap agenda tahunan.

Yang membedakan gelaran ini adalah konsepnya yang tegas: green event dan zero waste. Pengunjung tidak diajak sekadar datang dan bersenang-senang. Mereka diminta mengurangi pemakaian wadah sekali pakai dan membawa tumbler sendiri selama berada di lokasi.

Wisata Luwu Timur: Siapa yang Menggagas Suso Fest 2026

Suso Fest 2026 digagas secara kolaboratif oleh empat kelompok berbeda: Karang Taruna Kecamatan Burau, Selaras Batara Guru, Famajjah Art, dan PIK Remaja Matundreng SMAN 7 Luwu Timur. Komposisi itu penting dicatat karena menunjukkan festival ini tidak dimiliki satu lembaga.

Tata Atur
Iklan

Karang Taruna mewakili energi pemuda kecamatan. Selaras Batara Guru dan Famajjah Art membawa sisi kreatif dan komunitas. Sementara PIK Remaja dari SMAN 7 Luwu Timur menambahkan dimensi kesehatan remaja ke dalam rangkaian acara. Empat latar belakang berbeda itu duduk dalam satu kepanitiaan.

Pola kolaborasi seperti ini punya nilai praktis. Kegiatan wisata di daerah sering bergantung pada satu penyelenggara, sehingga keberlanjutannya rapuh begitu orang-orang di dalamnya berganti. Ketika beberapa komunitas terlibat sejak awal, beban kerja dan gagasan tidak bertumpu pada satu pihak saja.

Rangkaian Kegiatan Sepanjang Dua Hari

Rangkaian acara disusun padat sejak pagi hari pertama. Pembukaannya adalah Sabtu Sehat Juara (SSJ), kegiatan olahraga bersama yang biasa digelar di Luwu Timur. Setelah itu peserta mengikuti sosialisasi bantuan hidup dasar dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Pada hari yang sama berlangsung donor darah bersama RSUD I Lagaligo Wotu serta lomba mewarnai untuk anak sekolah dasar. Kedua kegiatan itu membuat suasana pantai tidak hanya ramai oleh orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak dan keluarga.

Edukasi lingkungan dan layanan warga

Bagian edukasi diisi lewat talk show bertajuk “Peduli Sampah, Peduli Masa Depan”. Sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan pengelolaan sampah di kawasan wisata, persoalan yang selama ini sering muncul di destinasi pantai. Layanan kesehatan gratis dan donor darah melengkapinya dengan manfaat yang langsung dirasakan warga sekitar.

Olahraga, seni, dan sesi inspiratif

Keseruan berlanjut lewat aksi gowes Bike to Suso Fest, pertunjukan seni dan hiburan, serta sesi inspiratif bersama Duta Wisata Sulawesi Selatan, Irfan Syauqi Madani dan Dzakira Maharani. Kehadiran kedua duta wisata itu menautkan festival di tingkat kecamatan dengan promosi provinsi.

Kombinasi itu menunjukkan satu hal sederhana: daya tarik wisata tidak selalu harus dibangun dari infrastruktur besar. Susunan acara yang melibatkan warga, pelajar, tenaga kesehatan, dan komunitas seni bisa membuat sebuah pantai punya alasan untuk dikunjungi berulang kali.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Mitra

Gelaran ini didukung Pemkab Luwu Timur melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparmudora) serta Dinas Lingkungan Hidup. Dukungan juga datang dari PT Vale Indonesia, PT Mars, BUMD, Puskesmas, PMI, para sponsor, dan warga setempat.

Pelibatan dua dinas tersebut menandakan festival ini menyentuh dua urusan sekaligus. Disparmudora berkepentingan pada sisi kunjungan dan promosi destinasi, sedangkan Dinas Lingkungan Hidup pada tata kelola sampah dan kelestarian kawasan. Keduanya sulit dipisahkan di destinasi pantai.

Dukungan perusahaan yang beroperasi di Luwu Timur juga memberi gambaran bahwa pembangunan wisata di daerah ini tidak berjalan sendiri. Ada ruang kerja sama antara pemerintah kabupaten, dunia usaha, dan komunitas lokal, walau bentuk dan besaran dukungannya tidak selalu mudah diukur dari luar.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga