Apa yang Bisa Diukur Setelah Pendampingan
Pendampingan seperti ini mudah dinilai dari jumlah peserta, tetapi sulit dinilai dari perubahan di kelas. Karena itu, ada baiknya sekolah menetapkan ukuran sederhana sebelum dan sesudah kegiatan.
Pertama, kemampuan membaca pemahaman. Guru bisa membandingkan hasil asesmen awal dengan asesmen setelah beberapa pekan menggunakan media baru. Kedua, kemampuan numerasi dasar, terutama pada soal cerita yang menuntut penalaran.
Ketiga, keterlibatan siswa. Media interaktif yang baik membuat siswa bertanya dan berdiskusi; media yang buruk hanya memindahkan kebosanan dari buku ke layar. Keempat, kemampuan guru menyusun media sendiri, bukan sekadar memakai yang sudah jadi.
Tanpa ukuran semacam ini, laporan kegiatan cenderung berhenti pada kalimat “berjalan lancar”. Padahal, yang dibutuhkan sekolah adalah bukti bahwa cara mengajar berubah dan hasil belajar membaik.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SPMI dan Kultur Perbaikan
SPMI menempatkan sekolah sebagai penanggung jawab mutu, bukan objek penilaian semata. Siklusnya sederhana: menetapkan standar, melaksanakan, mengevaluasi, lalu memperbaiki. Yang sulit adalah menjalankannya konsisten.
Pendampingan BOSKIN menyentuh salah satu titik paling rawan dalam siklus itu, yaitu evaluasi. Sekolah yang berani mempresentasikan kegagalan lebih mungkin memperbaiki diri dibanding sekolah yang hanya melaporkan keberhasilan.
Karena itu, enam sekolah ini layak dipantau bukan hanya saat kegiatan, tetapi beberapa bulan setelahnya. Apakah media yang dipresentasikan masih dipakai? Apakah guru lain ikut memakainya? Apakah nilai literasi dan numerasi bergerak?
Konteks Pendidikan Luwu Timur
Luwu Timur memiliki tantangan khas daerah luas dengan sekolah tersebar. Sejumlah persoalan yang pernah diberitakan SuaraLutim memperlihatkan hal itu, mulai dari prestasi siswa di ajang bahasa dan sastra hingga beasiswa jenjang magister bagi putra daerah.
Keduanya menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak tunggal. Ada sekolah yang berjuang dengan sarana dasar, ada pula sekolah yang sudah melangkah ke penguatan kompetensi dan prestasi. Kebijakan yang baik harus mengakomodasi keduanya.
Program BOS Kinerja mengambil jalur berbeda dari bantuan umum: ia memberi insentif pada sekolah yang menunjukkan kinerja. Pendekatan ini punya risiko, yaitu memperlebar jarak antara sekolah kuat dan sekolah lemah bila sekolah yang tertinggal tidak mendapat pendampingan.
Karena itu, pendampingan yang melibatkan sekolah dari dua kecamatan perlu diperluas. Sekolah di Kecamatan Towuti, Nuha, Burau, Wotu, dan Mangkutana menghadapi kondisi geografis yang tidak ringan. Mereka membutuhkan format pendampingan yang mempertimbangkan jarak dan biaya perjalanan.
Rujukan kebijakan pendidikan dasar bisa dilihat di situs Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sedangkan rincian kegiatan ini dimuat Input Rakyat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Sekolah mana saja yang ikut pendampingan BOSKIN 2026?
Dari Wasuponda: UPT SDN 259 Balambano, SDN 261 Limbua, dan SDN 245 Tole-Tole. Dari Malili: SDN 229 Waru, SDN 227 Puncak, dan SDN 226 Patande.
Di mana kegiatan berlangsung?
Dipusatkan di UPT SDN 259 Balambano, Kecamatan Wasuponda, Selasa (3/11/2026), dengan fasilitator Indra Wulan, S.Pd., M.Pd. dari Kecamatan Nuha.
Apa yang dibahas dalam pendampingan?
Penerapan SPMI, penguatan literasi dan numerasi, serta digitalisasi pembelajaran melalui multimedia interaktif berbasis pemanfaatan interaktif digital.
Sumber: Input Rakyat (3 November 2026), keterangan Disparmudora dan sekolah peserta.
Baca juga
- Luwu Timur: Empat Siswa Juara Dua FTBI Sulawesi Selatan
- Berita Luwu Timur: 1.226 Bibit Alpukat di Pesantren
- Pelatihan Housekeeping Perhotelan: Standar Kamar yang Menentukan Nilai Sewa
Kumpulan berita terbaru seputar kabar Luwu Timur ada di kanal kabar Luwu Timur.


