Lutim, SuaraLutim – Berita Luwu Timur dari dunia pendidikan: dua sekolah luar biasa di Kabupaten Luwu Timur mengikuti simulasi kebencanaan pada 21–24 September 2026. Kegiatan itu berlangsung di SLB Tunas Harapan Bangsa, Kecamatan Tomoni, dan SLB La Ketu, Kecamatan Malili, dengan melibatkan siswa, orang tua, guru, serta tenaga kependidikan. Program bertajuk “Inisiatif Ketangguhan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Anak dan Pemuda” itu digelar Yayasan Save the Children Indonesia bersama Yayasan Celosia Marennu Indonesia.
Berita Luwu Timur: Dua Cluster SPAB di Tomoni dan Malili
Kesiapsiagaan bencana bagi kelompok rentan menjadi fokus kegiatan ini. Pendekatannya bukan ceramah satu arah, melainkan sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dibagi dalam dua cluster agar materi bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
| Cluster | Hari dan Tanggal | Lokasi |
|---|---|---|
| Cluster I | Senin–Selasa, 21–22 September 2026, mulai 07.30 WITA | SLB Tunas Harapan Bangsa, Kecamatan Tomoni |
| Cluster II | Rabu–Kamis, 23–24 September 2026, mulai 07.30 WITA | SLB La Ketu, Kecamatan Malili |
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan, ketangguhan bencana, dan kemandirian ekonomi anak serta pemuda penyandang disabilitas. Harapannya, kegiatan semacam ini melahirkan kelompok pemuda disabilitas yang aktif, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi di komunitasnya.
Melibatkan orang tua menjadi pilihan penting. Anak dengan kebutuhan khusus sering membutuhkan pendampingan yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah. Ketika orang tua ikut berlatih, prosedur evakuasi tidak berhenti sebagai catatan di dinding kelas, tetapi bisa dilatih ulang di rumah.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Materi Disesuaikan dengan Kebutuhan Anak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Luwu Timur memberi edukasi sekaligus praktik langsung mengenai langkah yang perlu dilakukan saat menghadapi situasi darurat. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan potensi risiko bencana, pertolongan pertama, prosedur evakuasi yang aman, hingga praktik penyelamatan.
Yang membedakan kegiatan ini adalah penyesuaian materi dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas. Instruksi yang biasa dipakai untuk siswa umum belum tentu bisa diterapkan begitu saja. Karena itu, pendampingan dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan agar kelompok rentan benar-benar memahami langkah penyelamatan yang bisa mereka lakukan.
Potensi risiko bencana di Luwu Timur bukan hal abstrak. Wilayah ini pernah menghadapi gempa berkekuatan kecil, kebakaran lahan pada musim kemarau, serta banjir dan genangan pada musim hujan. Bagi sekolah, kesiapan menghadapi situasi darurat menyangkut dua hal sekaligus: jalur evakuasi yang aman dan kebiasaan berlatih sebelum kejadian berlangsung.
Pertolongan pertama dan prosedur evakuasi
Dalam praktik di lapangan, peserta diajak mengenali tanda-tanda bahaya, memahami siapa yang harus dihubungi, serta mencoba langkah pertolongan pertama sederhana. Prosedur evakuasi juga dilatih, mulai dari cara keluar ruang kelas sampai titik kumpul yang aman.
Untuk siswa dengan keterbatasan fisik maupun komunikasi, simulasi memerlukan pendampingan khusus. Guru dan orang tua berperan memastikan setiap anak tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi. Latihan yang dilakukan berulang dinilai lebih efektif dibanding satu kali penjelasan.
Kepala SLB La Ketu: Kami Butuh Panduan Konkret
Sekolah menyambut baik kolaborasi lintas lembaga ini. Kepala SLB La Ketu, Awaluddin Tadda, SE, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, sekolah membutuhkan panduan konkret untuk menyiapkan siswa menghadapi bencana, terutama karena kondisi peserta didik yang beragam.
“Dengan adanya simulasi langsung dari BPBD dan PMI, guru-guru kami jadi lebih paham langkah evakuasi yang aman. Orang tua juga ikut dilibatkan, sehingga di rumah pun mereka bisa melanjutkan latihan kesiapsiagaan,” kata Awaluddin, Kamis (24/9/2026).
Pernyataan itu menegaskan satu hal: kesiapsiagaan bukan sekadar dokumen kurikulum. Sekolah memerlukan latihan bersama pihak yang punya pengalaman di lapangan, seperti BPBD dan PMI, agar prosedur yang dimiliki benar-benar bisa dijalankan saat keadaan darurat.


