Sabtu, 31 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pendidikan

Luwu Timur: Pejuang Subuh di SDN 183 Buyuntana Tomoni

26 Oktober 2026 • Admin • 40 kali dibaca
Siswa dan guru mengikuti kegiatan Pejuang Subuh di SDN 183 Buyuntana, Kecamatan Tomoni, Luwu Timur
Gambar: Dok. Kilas Publik News (kegiatan Pejuang Subuh di SDN 183 Buyuntana, 25 Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Program Pejuang Subuh kembali digelar di salah satu sekolah dasar di Luwu Timur. Kali ini kegiatan berlangsung di SDN 183 Buyuntana, Kecamatan Tomoni, pada Minggu (25/10/2026). Program itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menanamkan nilai religius kepada generasi muda sejak usia sekolah.

Yang dijalankan bukan sekadar ajakan salat Subuh berjamaah. Sekolah menempatkan kegiatan itu sebagai bagian dari pembinaan karakter: kedisiplinan bangun pagi, tanggung jawab menjalankan kewajiban, dan pembiasaan nilai keagamaan yang diharapkan terbawa sampai ke rumah.

Luwu Timur: Pembiasaan Subuh di Sekolah

Kepala SDN 183 Buyuntana, Rismasari, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pembiasaan ibadah sejak dini penting untuk membentuk generasi yang disiplin, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran menjalankan kewajiban sebagai umat beragama.

Ia juga berharap program yang digagas Pemerintah Kabupaten Luwu Timur itu dapat terus berjalan berkelanjutan dengan dukungan pihak sekolah dan orang tua siswa, seperti dilaporkan Kilas Publik News.

Dalam pelaksanaannya, program ini tidak berhenti pada kehadiran siswa di masjid pada waktu Subuh. Sekolah memandangnya sebagai sarana membangun karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta memperkuat pendidikan moral dan spiritual. Nilai-nilai itu diharapkan masuk ke kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Mengapa Sekolah Dasar

Usia sekolah dasar adalah fase pembentukan kebiasaan. Anak-anak pada jenjang ini lebih mudah mengikuti rutinitas yang diulang setiap hari, terutama jika contohnya datang dari orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, sekolah memilih pendekatan pembiasaan, bukan ceramah sesekali.

Pendekatan itu punya konsekuensi praktis. Pembiasaan menuntut konsistensi jadwal, kesiapan guru, dan dukungan keluarga. Tanpa tiga hal itu, program mudah berhenti setelah kegiatan pembukaan yang ramai. Sebaliknya, jika sekolah dan orang tua menjaga ritmenya, kebiasaan bisa bertahan meski tanpa acara besar.

Selain itu, kegiatan semacam ini menyentuh hal yang jarang disentuh kurikulum formal: kedisiplinan waktu. Bangun sebelum Subuh dan datang ke tempat ibadah tepat waktu melatih anak mengelola waktu, sesuatu yang berguna jauh setelah mereka lulus.

Karakter, Disiplin, dan Tanggung Jawab

Dalam keterangan yang dipublikasikan, program Pejuang Subuh digambarkan sebagai upaya membangun karakter peserta didik melalui pendekatan keagamaan. Ada tiga nilai yang paling sering disebut: disiplin, tanggung jawab, dan akhlak.

Ketiganya saling terkait. Disiplin terbentuk dari pengulangan; tanggung jawab tumbuh ketika anak memahami bahwa kehadirannya bagian dari kesepakatan bersama; dan akhlak terbentuk dari kebiasaan memperlakukan orang lain dengan baik. Pendidikan karakter semacam ini tidak bisa diukur dengan nilai ujian, tetapi terlihat dari perilaku sehari-hari.

Karena itu, sekolah menempatkan program ini sebagai bagian dari pembinaan, bukan lomba. Orientasinya bukan mencari peserta terbaik, melainkan memastikan sebanyak mungkin siswa mengalami pengalaman beribadah bersama secara rutin.

Peran Orang Tua di Rumah

Keberhasilan pembiasaan di sekolah sangat bergantung pada rumah. Anak yang diantar ke kegiatan Subuh tetapi tidak didampingi di rumah cenderung menjalani rutinitas sebagai formalitas. Sebaliknya, orang tua yang ikut membangunkan dan mengingatkan akan membuat anak memahami bahwa kegiatan itu bagian dari kehidupan keluarga, bukan tugas sekolah semata.

Karena itu, imbauan agar program berjalan berkelanjutan dengan dukungan sekolah dan orang tua bukan kalimat basa-basi. Ia menunjuk pada pembagian peran: sekolah menyediakan ruang dan pembinaan, keluarga menyediakan keteladanan dan waktu.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga