Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pendidikan

Wahdah Islamiyah Luwu Timur: 22 Sekolah dan Pesantren

9 Oktober 2026 • Admin • 11 kali dibaca
Warga dan pengurus Wahdah Islamiyah Luwu Timur dalam kegiatan buka puasa bersama di Malili, Luwu Timur
Dok. Pedoman Rakyat (buka puasa bersama DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur di SDIT Insan Rabbani Malili, 21 Maret 2025)
ASM Group
Iklan

MALILI — Nama Wahdah Islamiyah Luwu Timur lebih sering dikenal lewat gerakan sosial dan dakwah. Namun ada satu jejak yang jarang disorot: Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) Luwu Timur tercatat telah mendirikan 22 sekolah dan pondok pesantren, mulai tingkat TKIT hingga SMA dan pondok pesantren. Jaringan pendidikan itu tumbuh dari Malili sampai kecamatan-kecamatan lain, dan kini menjadi salah satu pilihan orang tua yang mencari pendidikan agama sekaligus akademik di Bumi Batara Guru.

Jejak itu bukan sekadar catatan organisasi. Bagi warga, kehadiran sekolah-sekolah itu menentukan di mana anak mereka belajar membaca Al-Qur’an setiap hari, sekaligus tetap menempuh kurikulum nasional seperti siswa lain. Artikel ini merangkum bagaimana jaringan sekolah Wahdah Lutim dibangun, siapa yang mengawalnya, dan apa dukungan pemerintah daerah untuk lembaga pendidikan tersebut.

Wahdah Islamiyah Luwu Timur dan 22 Sekolah di Bawah YPWI

Dalam laporan resmi kanal Wahdah Islamiyah, YPWI Luwu Timur tercatat berhasil mendirikan 22 sekolah dan pondok pesantren mulai dari tingkat TKIT hingga SMA dan pondok pesantren. Angka itu disampaikan dalam workshop kelembagaan pendidikan yang digelar di Aula Kantor Dinas Pendidikan Luwu Timur, seperti dilaporkan kanal resmi Wahdah Islamiyah, Kamis (30/05/2024), dengan tema “Strategi Integrated Komunikasi Dalam Membangun Kekuatan Lembaga”.

Kegiatan itu diikuti sekitar 150 peserta, terdiri dari pengurus inti Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Luwu Timur, pengurus YPWI, kepala sekolah, pimpinan pondok, dan guru-guru YPWI Lutim. Bagi pengelola, forum semacam ini dipakai untuk menyamakan arah: guru dan kepala sekolah dari unit-unit pendidikan yang tersebar di Luwu Timur bertemu dalam satu ruang, bertukar pengalaman, dan menyusun langkah penguatan lembaga.

Tata Atur
Iklan

Ketua YPWI Lutim, Sudarsono, S.Ag, menjelaskan bahwa tujuan workshop adalah mendapatkan ilmu dari narasumber sekaligus mempererat silaturahim antara guru dan kepala sekolah di seluruh unit pendidikan YPWI. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur, Muhammad Syukri, S.Sos, memberi apresiasi atas inisiatif tersebut dan berharap komunikasi antara YPWI dan dinas pendidikan terus berjalan intensif agar konsep pendidikan yang diharapkan bersama dapat terwujud.

Dari TKIT sampai SMA, Satu Jaringan Sekolah Islam Terpadu

Yang membuat jaringan ini penting bagi Luwu Timur adalah rentang jenjangnya. Seorang anak bisa masuk sejak taman kanak-kanak Islam terpadu, melanjutkan ke sekolah dasar, lalu ke jenjang menengah, tanpa berpindah jauh dari lingkungan yang sama. Model sekolah Islam terpadu memadukan kurikulum nasional dengan pembinaan Al-Qur’an dan adab, sehingga orang tua tidak perlu memilih antara nilai akademik dan pendidikan agama.

Bagi kecamatan yang jaraknya berjam-jam dari kota, kehadiran sekolah seperti ini mengurangi beban keluarga. Anak tidak harus dikirim ke luar daerah untuk mendapat pendidikan agama yang tertata, dan biaya yang dikeluarkan orang tua pun lebih ringan dibanding menempuh sekolah di ibu kota provinsi.

Selain sekolah formal, jaringan pendidikan Wahdah Lutim juga menyentuh pendidikan nonformal. Pada awal Oktober lalu, SuaraLutim mencatat bagaimana guru Dirosa — yang pernah kami ulas di rubrik pendidikan SuaraLutim — menjadi ujung tombak gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an bagi warga dewasa di Luwu Timur, gerakan yang berjalan berdampingan dengan sekolah-sekolah formal di bawah yayasan.

SMP IT Wahdah Islamiyah Malili: Sekolah Penggerak di Puncak Indah

Salah satu unit yang paling sering muncul dalam pemberitaan lokal adalah SMP IT Wahdah Islamiyah Malili, yang berlokasi di Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili. Sekolah ini menawarkan pendidikan berbasis Islam yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan Al-Qur’an dan Hadis.

Beberapa keunggulan yang disebutkan dalam pemberitaan Luwuraya antara lain lingkungan sekolah syar’i dengan pemisahan kelas putra dan putri, pembinaan adab dan akhlak, fasilitas kelas yang nyaman, serta capaian prestasi hingga tingkat nasional. Sekolah ini juga disebut berstatus sebagai sekolah penggerak, artinya ikut menjalankan program inovasi pendidikan dari pemerintah.

Dari sisi penerimaan siswa, SMP IT Wahdah Islamiyah Malili menerima peserta didik tanpa sistem asrama dengan kuota terbatas. Pada tahun ajaran 2025/2026, pendaftaran dibuka 6 Januari hingga 15 Februari 2025, dengan seleksi ujian pada 17 Februari 2025. Calon siswa melengkapi berkas berupa ijazah SD atau sederajat, akta kelahiran, kartu keluarga, pas foto 3×4 sebanyak empat lembar, serta surat keterangan masih duduk di kelas 6 SD.

Menumbuhkan Literasi Lewat Kunjungan ke Perpustakaan Daerah

Jejak pendidikan yang lebih kecil tetapi bermakna terlihat dari kunjungan puluhan pelajar SMP IT Wahdah Islamiyah Malili ke Gedung Perpustakaan Luwu Timur, Jumat (10/01/2025). Rombongan yang didampingi para guru itu disambut langsung oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur, Nirmalasari.

“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan pelajar dari SMP IT Wahdah Islamiyah. Kami berharap para siswa tidak bosan-bosan mengunjungi perpustakaan ini,” ujar Nirmalasari, seperti dilaporkan Patikala. Guru pendamping, Dahlima Jufri, menyebut kunjungan itu bertujuan mensosialisasikan pentingnya literasi dalam membangun generasi yang religius dan unggul. Seorang siswi, Fausiah Ramadhani, mengaku senang karena menemukan banyak buku agama dan cerita Islami di sana.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga