SOROWAKO, SUARALUTIM.COM — Wahdah Lutim tidak menunggu warga datang ke pengajian. Melalui program Dirosa (Dirasah Orang Dewasa) yang dikelola Departemen Khidmatul Qur’an DPC Wahdah Islamiyah Nuha, warga Sorowako yang belum lancar membaca Al-Qur’an dibimbing bertahap selama 20 pertemuan, lalu diuji dalam munaqosyah di Masjid Nurul Afiat, Sorowako, Ahad (10/8/2025). Delapan peserta mengikuti ujian itu, mayoritas anak muda, dengan materi bacaan huruf hijaiyah, tajwid, dan kelancaran membaca Al-Qur’an.
Wahdah Lutim dan Munaqosyah Dirosa di Masjid Nurul Afiat
Munaqosyah itu bukan seremoni kecil. Kegiatan berlangsung satu hari penuh, dari pagi hingga menjelang salat zuhur, diawali pembukaan oleh Ketua DPC Wahdah Islamiyah Nuha dan diakhiri dengan foto bersama. Tim pengujinya adalah para pengajar dan pembina Dirosa yang sehari-hari mendampingi peserta dewasa memperbaiki bacaan mereka.
Di depan penguji, peserta diuji pada tiga hal: pengenalan dan pengucapan huruf hijaiyah beserta huruf sambung, kaidah tajwid dasar, dan kelancaran membaca. Seluruh peserta yang ikut tercatat sudah menuntaskan 20 kali pertemuan pembelajaran sebelum dinyatakan layak mengikuti ujian — jumlah pertemuan yang memang menjadi pakem metode Dirosa.
Ketua Departemen Khidmatul Qur’an DPC Wahdah Islamiyah Nuha, Ust. Eki Arif, menyampaikan rasa syukurnya atas semangat peserta. “Kami bangga melihat perkembangan para peserta. Harapannya, setelah munaqosyah ini, semangat belajar Al-Qur’an terus terjaga, bahkan bisa menularkan motivasi kepada masyarakat sekitar,” ujarnya seperti dikutip laporan resmi Wahdah Islamiyah mengenai uji baca Al-Qur’an metode Dirosa di Nuha.
Yang menarik, peserta munaqosyah di Sorowako itu mayoritas anak muda. Artinya kelas orang dewasa tidak identik dengan usia senja saja; di Nuha, kalangan muda justru menjadi peserta yang paling antusias memperbaiki bacaan. Pesannya sederhana: belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia maupun rasa malu.
Kenapa Metode Dirosa Cocok untuk Orang Dewasa
Banyak warga dewasa segan masuk pengajian karena merasa terlambat atau takut dieja di depan orang lain. Dirosa dirancang justru untuk kelompok itu. Program ini menyasar pemula dari remaja sampai kakek dan nenek, termasuk muallaf, dengan pengelolaan yang sistematis dan berjenjang. Tujuh keunggulan yang dicantumkan pada laman resmi program Dirosa menjelaskan mengapa pendekatan ini berbeda:
- dirancang khusus untuk peserta dewasa, bukan anak-anak;
- metodenya bertahap dan cepat, ditempuh 20 kali pertemuan;
- biaya pendidikannya berbentuk infaq;
- waktu dan tempat belajar fleksibel, menyesuaikan kesibukan peserta;
- pembinaan diarahkan sampai peserta lancar membaca;
- disertai bimbingan materi dasar keislaman;
- terbuka bagi pemula maupun yang sudah bisa membaca namun belum tartil.
Dirosa membagi pesertanya ke dalam dua jenjang. Program klasikal pemula untuk yang benar-benar mulai dari nol, dan program lanjutan bagi yang sudah lancar tetapi masih ada kesalahan bacaan. Keduanya ditempuh 20 kali pertemuan, masing-masing sekitar 90 menit, sehingga totalnya kira-kira 2,5 bulan. Pada jenjang pemula, peserta menyediakan dua buku dengan nilai sekitar Rp20 ribu; pada jenjang lanjutan lima buku sekitar Rp50 ribu. Angka itu diambil dari keterangan resmi program, bukan taksiran.
Target akhirnya pun konkret: peserta mampu mengenal dan mengucapkan huruf sesuai makhrajnya, memahami tajwid dasar, dan membaca surah Al-Fatihah dengan benar. Pada jenjang lanjutan, sasarannya naik menjadi tadarus yang lancar serta pemahaman waqaf dan ibtida’. Inilah yang membuat kelas Dirosa di Luwu Timur terasa berbeda dari pengajian biasa: ada kurikulum, ada ujian, dan ada ukuran kemajuan.
Dari Sorowako ke Towuti dan Wasuponda: Denyut Kegiatan Kecamatan
Gerakan ini tidak berdiri sendiri di satu kecamatan. Pada Jumat (22/8/2025), Departemen Kesehatan, Olahraga, dan Lingkungan DPC Wahdah Islamiyah Towuti menggelar Badminton Ikhwan di Lapangan Badminton Alexa, Kecamatan Towuti. Edisi kedua itu tidak lagi diisi peserta Towuti saja; kader dari DPC Wahdah Islamiyah Nuha dan DPC Wasuponda ikut bertanding.
Ketua Depkesorling DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur, Ust. Haerullah, hadir mendampingi. “Kami sangat bahagia serta antusias mengikuti event kali ini, semoga event ini sebagai pemicu untuk turnamen cabang olahraga lain seperti panahan,” ujarnya dalam laporan kegiatan silaturahmi DPC Towuti. Juara tahun itu adalah pasangan Ketua DPC Wahdah Islamiyah Towuti, Ustadz Makbul.
Di balik lomba badminton, ada maksud yang lebih jauh. Pengurus berharap kegiatan seperti ini membuat warga makin dekat dengan kegiatan rutin organisasi — ta’lim pekanan, kelas tahsin, hingga Dirosa. Pola ini masuk akal untuk wilayah Luwu Timur yang kecamatannya berjauhan: silaturahmi lewat olahraga lebih dulu, pembinaan keagamaan menyusul.


