Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pendidikan

Wahdah Lutim: Guru Dirosa dan Gerakan Melek Aksara Al-Qur’an

1 Oktober 2026 • Admin • 28 kali dibaca
Peserta munaqosyah Dirosa Wahdah Lutim di Masjid Nurul Afiat Sorowako saat uji baca Al-Qur'an
Dok. Wahdah.or.id (Medikom Lutim / Wahdah Islamiyah)
ASM Group
Iklan

Konteks Nasional: Gerakan 10.000 Guru Al-Qur’an

Pada Sabtu (22/8/2026), Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar mengukuhkan 10.000 guru Al-Qur’an Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, bersamaan dengan pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah. “Saya kukuhkan sekali lagi 10.000 guru ngaji, selamat jalan, selamat berjuang,” ucapnya seperti diberitakan ANTARA News.

Dalam kesempatan itu Menteri Agama menyebut angka buta huruf Al-Qur’an di Indonesia masih sekitar 60 persen dan menegaskan pemerintah tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Menurutnya, peran organisasi masyarakat keislaman menjadi penentu, dan ia menyebut kontribusi Wahdah Islamiyah sebagai salah satu yang paling konkret.

Bagi Luwu Timur, konteks nasional ini menjelaskan posisi pengajar Dirosa di Nuha, Towuti, dan Wasuponda. Mereka bukan pekerja lepas yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari jaringan pembinaan Al-Qur’an yang dibangun organisasi. Catatan pentingnya: berapa persis jumlah guru Al-Qur’an asal Luwu Timur yang ikut dikukuhkan belum dirinci dalam laporan yang kami baca, sehingga angka itu tidak kami sebutkan di sini.

Manfaat yang Bisa Dirasakan Warga Luwu Timur

Kalau program seperti ini berjalan terus, dampaknya bisa ditelusuri pada hal-hal yang dekat dengan rumah tangga warga:

Tata Atur
Iklan

  • warga dewasa yang sebelumnya malu mengaji punya jalur belajar yang tidak menghakimi;
  • orang tua bisa mendampingi anaknya belajar Al-Qur’an karena bacaan mereka sendiri sudah diperbaiki;
  • pengajar muda tumbuh dari peserta yang lulus munaqosyah, sehingga jumlah pembina bertambah;
  • kegiatan keagamaan di masjid dan mushala kecamatan lebih hidup;
  • silaturahmi antarkecamatan — Nuha, Towuti, Wasuponda — menguat lewat kegiatan bersama.

Sejumlah kegiatan Wahdah Lutim yang sudah terbit di SuaraLutim menunjukkan pola yang sama, dari pemantapan program dakwah DPD sampai kegiatan pendidikan seperti wisuda tahfiz di Luwu Timur. Untuk melihat bagaimana pendidikan dipakai sebagai pintu pemberdayaan warga, pernah kami ulas pula lewat artikel tentang perpustakaan sebagai ruang pemberdayaan.

Yang Perlu Diketahui Sebelum Ikut Kelas Dirosa

Dirosa terbuka bagi remaja dan orang dewasa, termasuk mereka yang belum bisa membaca Al-Qur’an sama sekali. Kelas diselenggarakan di masjid atau tempat yang disepakati bersama peserta, dan jadwalnya dibicarakan di awal agar tidak bentrok dengan pekerjaan. Karena itu, warga yang berminat biasanya menanyakan jadwal kepada pengurus DPC Wahdah Islamiyah di kecamatannya atau takmir masjid setempat.

SuaraLutim belum memperoleh nomor kontak resmi kelas Dirosa untuk wilayah Luwu Timur, sehingga tidak mencantumkan nomor apa pun di artikel ini. Kami memilih tidak menebak daripada menyebarkan kontak yang belum dipastikan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah program Dirosa berbayar?

Biaya pendidikannya berbentuk infaq. Menurut keterangan resmi program, peserta jenjang pemula menyediakan dua buku sekitar Rp20 ribu, sedangkan jenjang lanjutan menyediakan lima buku sekitar Rp50 ribu.

Berapa lama peserta sampai bisa membaca Al-Qur’an?

Metodenya dirancang 20 kali pertemuan dengan durasi sekitar 90 menit per pertemuan, kurang lebih 2,5 bulan, dengan pembinaan yang diarahkan sampai peserta lancar membaca.

Apakah program ini untuk anak-anak juga?

Dirosa menyasar remaja, orang dewasa, kakek-nenek, dan muallaf. Untuk jenjang anak, pembinaan biasanya berjalan lewat jalur taman pendidikan Al-Qur’an, bukan kelas Dirosa.

Penutup: Kerja Kecil yang Menyentuh Rumah Tangga

Munaqosyah delapan peserta di Masjid Nurul Afiat mungkin terdengar kecil dibanding angka 10.000 guru Al-Qur’an yang dikukuhkan di Istiqlal. Namun gerakan besar memang tersusun dari kelas-kelas kecil seperti itu: dua puluh pertemuan, satu masjid, beberapa pengajar sabar, dan warga yang akhirnya berani membaca Al-Qur’an dengan lantang.

Bagi Wahdah Lutim, ukuran keberhasilannya sederhana. Ketika peserta munaqosyah menularkan semangat belajar kepada tetangganya, kelas berikutnya akan terisi sendiri. Dari sanalah angka buta aksara Al-Qur’an di Luwu Timur berangsur turun, satu rumah satu rumah.

Sumber: Wahdah Islamiyah (wahdah.or.id) — laporan munaqosyah Dirosa DPC Nuha, laman resmi program Dirosa, dan laporan kegiatan DPC Towuti; ANTARA News (antaranews.com) — pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an pada Muktamar V Wahdah Islamiyah.

Gambar: Dok. Wahdah.or.id (Medikom Lutim / Wahdah Islamiyah).

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga