Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Peristiwa

Viral Luwu Timur: 533 Hektare Terbakar Sepanjang Oktober

1 November 2026 • Admin • 47 kali dibaca
Penyerahan armada pemadam kebakaran di Malili, Luwu Timur, untuk memperkuat penanganan karhutla
Gambar: Dok. Tekape.co (penyerahan armada damkar di Malili, 29 Oktober 2026)
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Isu viral luwu timur sepanjang akhir Oktober bukan soal politik atau harga, melainkan asap. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Luwu Timur mencatat sekitar 533,1 hektare hutan dan lahan terbakar selama Oktober 2026, tersebar dalam 124 titik kebakaran di delapan kecamatan. Angka itu disampaikan Kepala Dinas Damkar Luwu Timur, Guntur Hafid, kepada Tribun-Timur.com pada Sabtu (31/10/2026), dan menjadi rekap bulanan yang memperlihatkan skala persoalan secara utuh.

Yang membuat rekap ini penting bukan hanya luasannya, tetapi sebarannya. Dari 124 titik, Kecamatan Towuti menyumbang 69 titik atau sekitar 56 persen dari seluruh kejadian. Artinya, lebih dari separuh pekerjaan pemadaman di Luwu Timur selama Oktober terkonsentrasi di satu kecamatan yang wilayahnya mencakup Danau Towuti dan kawasan penyangganya.

Viral Luwu Timur: Rincian 124 Titik Kebakaran

Menurut Guntur, komposisi kejadian didominasi kebakaran lahan. “Sebanyak 121 titik adalah kebakaran lahan. Ada dua titik kebakaran hutan. Satu titik lain berupa kebakaran pohon,” kata dia, seperti dikutip Tribun-Timur.com.

Rincian itu penting karena tiga jenis kejadian menuntut respons berbeda. Kebakaran lahan umumnya berkaitan dengan bekas olahan, semak, dan padang kering. Kebakaran hutan menyangkut kawasan bervegetasi rapat yang lebih sulit dijangkau kendaraan. Sementara kebakaran pohon sering luput dari pantauan karena api menjalar di dalam batang dan baru terlihat setelah membesar.

Tata Atur
Iklan

Kategori kejadian Jumlah titik Catatan
Kebakaran lahan 121 titik Dominan, tersebar di delapan kecamatan
Kebakaran hutan 2 titik Wilayah bervegetasi rapat, akses terbatas
Kebakaran pohon 1 titik Api di dalam batang, sulit terdeteksi awal
Total 124 titik Luas terbakar sekitar 533,1 hektare

Data yang dipublikasikan tidak merinci jumlah titik per kecamatan selain Towuti. Karena itu, gambaran sebaran di tujuh kecamatan lain belum bisa disusun dari sumber ini, dan sebaiknya tidak ditebak.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Towuti dan Beban Terbesar

Konsentrasi di Towuti bukan hal baru. Sepanjang Oktober, kawasan Loeha Raya berulang kali dilaporkan terbakar. Pada 26 Oktober, api masih menyebar di beberapa lokasi, dan asap tebal menyelimuti lima desa, yakni Loeha, Rante Angin, Bantilang, Masiku, dan Tokalimbo, seperti dilaporkan Tribun Palu.

Dalam laporan yang sama, warga menduga sebagian kebakaran tidak semata dipicu cuaca panas dan lahan kering. Mereka mencurigai adanya pembakaran berulang untuk membuka lahan perkebunan lada, dan meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan itu. Perlu dicatat, dugaan tersebut merupakan pandangan warga yang belum disertai putusan hukum. SuaraLutim belum memperoleh konfirmasi resmi mengenai penyebab kebakaran dari pihak berwenang, sehingga penyebab pasti setiap titik masih terbuka untuk diverifikasi.

Selain faktor cuaca, karakter wilayah Towuti ikut menentukan. Kecamatan ini memiliki luas daratan yang besar dengan tutupan semak, kebun, dan hutan sekunder yang mengering pada musim kemarau. Titik api di lahan seperti ini cepat membesar bila angin bertiup kencang, terutama pada sore hingga malam.

Pekaloa: Kronologi Satu Malam

Kasus terbaru yang dirinci cukup lengkap terjadi di Desa Pekaloa, Kecamatan Towuti, pada Kamis hingga Jumat, 29–30 Oktober 2026. Kebakaran itu menghanguskan sekitar satu hektare lahan.

Kepala Bidang Pemadam, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana Damkar Luwu Timur, Hamka, menyebut laporan diterima Kamis pukul 23.27 Wita. Dua menit kemudian, pukul 23.29 Wita, petugas bergerak menuju lokasi dan tiba pukul 23.41 Wita. “Operasi pemadaman selesai pukul 01.34 Wita,” kata Hamka, dikutip Tribun-Timur.com, Sabtu (31/10/2026).

Rentang waktu itu menunjukkan pola kerja yang jarang terlihat publik: laporan masuk tengah malam, petugas bergerak cepat, dan pemadaman berlangsung lebih dari dua jam. Untuk kebakaran lahan seluas satu hektare, durasi tersebut wajar karena petugas harus memastikan tidak ada bara yang tertinggal agar api tidak menyala lagi pada pagi hari.

Armada Bertambah, Personel Masih Pekerjaan Rumah

Di tengah tekanan itu, kapasitas armada bertambah. Pada Kamis (29/10/2026), Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam menyerahkan satu unit mobil pemadam berkapasitas 4.000 liter untuk kawasan Mahalona Raya, Kecamatan Towuti. Kendaraan diserahkan di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Luwu Timur di Malili dan diterima Camat Towuti, Amri Mustari, bersama sejumlah kepala desa, seperti diberitakan Tekape.co.

“Semoga unit kendaraan ini segera ditempatkan dan dapat segera difungsikan,” kata Irwan saat menyerahkan kunci kendaraan, dikutip media tersebut.

Namun laporan yang sama mencatat sisi lain: kebutuhan armada, alat pelindung diri, dan personel masih menjadi pekerjaan rumah. Bagi warga, tiga hal itu sama pentingnya dengan kendaraan. Mobil pemadam tidak bisa bekerja optimal tanpa personel terlatih, selang yang cukup panjang, dan jalur air yang bisa dijangkau di medan kebun.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga