Sabtu, 31 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Peristiwa

Luwu Timur: Polres Ingatkan Hoaks AI ke Jemaat Malili

26 Oktober 2026 • Admin • 33 kali dibaca
Jemaat dan personel Polres saat kegiatan Minggu Kasih di Malili, luwu timur, membahas hoaks berbasis AI
Gambar: Dok. Kilaspubliknews.com (Minggu Kasih Polres Luwu Timur di GKST Imanuel Malili, 25 Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Luwu timur kembali menyoroti persoalan informasi di ruang digital. Polres Luwu Timur menggelar kegiatan Minggu Kasih bersama Jemaat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Imanuel Malili, Minggu (25/10/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA di Jalan Andi Djemma, Kelurahan Malili, itu dihadiri sekitar 120 jemaat.

Selain mempererat hubungan Polri dengan masyarakat, agenda ini membawa satu pesan utama: kewaspadaan terhadap berita bohong yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ibadah dalam kegiatan itu dipimpin Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, S.Th. Setelah ibadah, AKP M. Wemben, S.Sos., yang mewakili Kapolres Luwu Timur, menyampaikan materi bertema “Bijak Bermedia Sosial dan Waspada Berita Hoaks di Era Kecerdasan Buatan”.

Luwu Timur dan Pesan Kamtibmas dari Ruang Ibadah

Minggu Kasih adalah kegiatan rutin kepolisian yang dijalankan dengan mendatangi tempat ibadah. Formatnya sederhana: hadir, menyapa warga, lalu menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pilihan lokasi dan audiens bukan tanpa alasan. Rumah ibadah biasanya menghimpun warga dari berbagai latar pekerjaan dan usia dalam satu waktu. Kesempatan itu dipakai untuk menyampaikan hal yang berlaku umum, termasuk soal informasi.

Dalam pemaparannya, AKP M. Wemben mengingatkan jemaat agar lebih bijak menerima, menilai, dan menyebarkan informasi di media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi AI memungkinkan pembuatan foto, video, dan suara yang menyerupai kondisi sebenarnya.

Kemampuan itu, bila disalahgunakan, berpotensi menghasilkan hoaks, penipuan, provokasi, hingga informasi menyesatkan. Ia menekankan pentingnya memeriksa sumber, memverifikasi kebenaran berita, dan mengonfirmasi informasi kepada pihak berwenang sebelum mempercayai atau membagikannya.

Jemaat juga diimbau tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta menghindari penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian yang dapat memicu perselisihan dan mengganggu situasi kamtibmas.

Kegiatan itu didampingi sejumlah personel Polres Luwu Timur, yakni Iptu Jemi Sikala, S.H., Iptu Ayub Ngaluama, S.H., dan Ipda Demianus T., A.Md.

Apa yang Berubah ketika AI Masuk ke Ruang Informasi

Sebelum teknologi AI mudah diakses, berita bohong umumnya berbentuk teks yang salah kutip atau foto lama yang diberi keterangan baru. Pemeriksaannya relatif mudah: bandingkan dengan sumber asli, lalu cari versi lain dari peristiwa yang sama.

Sekarang situasinya berbeda. Model pembuat gambar dan video dapat menghasilkan wajah, ruangan, dan suara yang tampak wajar. Suara seseorang bisa ditiru untuk membuat rekaman percakapan yang tidak pernah terjadi.

Bagi warga, konsekuensinya praktis. Kesalahan tidak lagi hanya soal percaya berita palsu, tetapi juga soal menyebarkannya. Satu unggahan yang diteruskan tanpa diperiksa bisa memicu reaksi berantai, terutama bila isinya menyentuh agama, suku, atau konflik antarwarga.

Tiga Jenis Hoaks AI yang Paling Sering Muncul

  • Penipuan suara. Rekaman suara yang menyerupai anggota keluarga atau pejabat, dipakai untuk meminta uang atau data pribadi.
  • Video palsu. Klip pendek yang menampilkan tokoh tertentu seolah mengatakan hal kontroversial, biasanya dipotong agar konteksnya hilang.
  • Tangkapan layar rekayasa. Gambar percakapan atau pengumuman resmi yang dibuat menyerupai aslinya untuk memicu kepanikan.

Ketiganya punya ciri yang sama: dirancang untuk memicu emosi cepat, bukan pemahaman. Karena itu, jeda sebelum meneruskan pesan menjadi kebiasaan yang paling murah untuk dipraktikkan.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga