Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Berita Tambang Nasional: Ekspor Nikel Melonjak 51 Persen

6 Oktober 2026 • Admin • 27 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Jakarta — Berita tambang nasional pekan ini diwarnai satu data yang jarang muncul: nilai ekspor nikel Indonesia melesat jauh di atas rata-rata komoditas lain. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor nasional Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar, tumbuh 6,72 persen dibanding Agustus 2025. Dari angka itu, nikel dan barang daripadanya pada pos tarif HS 75 naik 51,67 persen secara tahunan dengan andil 1,84 persen terhadap total kenaikan ekspor. Bagi Luwu Timur, yang menjadi salah satu pusat produksi nikel nasional lewat kawasan Sorowako di Kecamatan Nuha, lonjakan ini bukan sekadar statistik dagang: ia menegaskan posisi daerah penghasil dalam peta industri nikel Indonesia.

Berita tambang nasional: nikel jadi motor ekspor nonmigas

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa kenaikan ekspor tahunan Agustus 2026 terutama didorong komoditas nonmigas. Ekspor nonmigas sendiri tercatat US$25,62 miliar atau naik 7,23 persen, sementara ekspor migas justru turun 5,10 persen menjadi US$0,99 miliar. Rincian ini dirilis BPS pada Kamis, 1 Oktober 2026, dan dilaporkan sejumlah media nasional, antara lain melalui pemberitaan Katadata.

Yang menarik, nikel tidak berjalan sendiri. Besi dan baja (HS 72) naik 20,38 persen, sedangkan aluminium dan barang daripadanya (HS 76) melonjak 206,78 persen. Ketiganya adalah wajah hilirisasi mineral: bahan mentah yang diolah lebih dulu di dalam negeri sebelum dikirim ke pasar global. Dari total ekspor nonmigas Agustus, sektor industri pengolahan menyumbang US$22,29 miliar, atau bagian terbesar. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, ekspor Indonesia sudah mencapai US$193,64 miliar atau naik 4,74 persen, dengan Tiongkok sebagai tujuan utama senilai US$47,44 miliar.

Iklan

Tata Atur
Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

CORE: hilirisasi mulai ubah struktur ekonomi

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan hilirisasi nikel mulai mengubah struktur ekonomi Indonesia melalui tiga jalur: peningkatan nilai tambah komoditas, penerimaan negara, dan tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. Penilaian itu disampaikan pada Ahad, 4 Oktober 2026, dan dikutip ANTARA.

Datanya mendukung arah itu. Nilai ekspor nikel dan barang pada semester I 2026 naik 69,3 persen menjadi US$6,54 miliar atau sekitar Rp117,05 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi penerimaan negara, PNBP dari komoditas nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, naik dibanding Rp10 triliun pada periode yang sama 2025. Kementerian ESDM juga mencatat PNBP subsektor mineral dan batu bara secara keseluruhan menembus Rp108 triliun hingga tanggal yang sama, sementara produksi bijih nikel per 1 September 2026 tercatat 173,79 juta ton.

Meski begitu, Yusuf mengingatkan bahwa capaian itu baru fondasi. “Ini merupakan fondasi industrialisasi, tetapi belum menjadi tujuan akhir,” katanya. Sebab, sebagian besar pengolahan di dalam negeri masih berhenti pada produk antara seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel yang dipakai industri baja nirkarat. Ia menilai rantai produksi perlu diperpanjang hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir, supaya lebih banyak pemasok dalam negeri ikut menikmati nilainya.

Harga nikel masih lemah, ujian bagi rantai nilai

Optimisme di sisi nilai tambah berbenturan dengan kenyataan harga. Mengacu perdagangan London Metal Exchange, harga nikel pada Selasa, 6 Oktober 2026, berada di US$15.626 per ton atau turun tipis 0,05 persen dibanding hari sebelumnya, sebagaimana dilaporkan kumparanBISNIS. Angka itu masih jauh dari puncak yang pernah disentuh ketika pemerintah mengumumkan pengendalian produksi pada akhir 2025.

Sebaliknya, batu bara justru menguat 0,70 persen ke US$150 per ton, level tertinggi dalam hampir empat bulan, seiring pasokan global yang ketat. Kontras ini penting bagi daerah penghasil: harga nikel yang belum pulih membuat tambahan nilai harus dicari dari pengolahan, bukan dari harga jual bijih semata.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga