Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Harga nikel kembali menjadi sorotan setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga mineral acuan (HMA) nikel paruh kedua Oktober 2026 pada level lebih rendah dari paruh pertama bulan yang sama. Penurunan itu terjadi justru ketika pemerintah menahan laju produksi bijih nikel melalui kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Bagi daerah penghasil seperti Luwu Timur, dinamika ini bukan sekadar angka di layar bursa, tetapi menyangkut penerimaan negara, rencana produksi smelter Sorowako, dan arah belanja daerah tahun depan.
Harga nikel turun saat pasokan dikerem
Berdasarkan data harga mineral acuan yang dirilis ESDM dan dikutip Shanghai Metals Market (SMM) pada 15 Oktober 2026, HMA nikel periode kedua Oktober 2026 ditetapkan US$15.847,67 per ton. Angka itu turun US$475 per ton atau sekitar 2,91 persen dibandingkan periode pertama Oktober 2026 yang berada di US$16.322,67 per ton.
Penetapan periode pertama Oktober sebelumnya tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026 yang ditandatangani pada 30 September 2026 dan mulai berlaku 1 Oktober 2026, sebagaimana dilaporkan Warta Ekonomi. HMA sendiri ditarik dari rata-rata harga logam nikel cash seller and settlement di bursa London Metal Exchange (LME) pada rentang tanggal tertentu setiap periode.
Koreksi harga acuan itu juga menekan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel. Untuk periode kedua Oktober 2026, HPM bijih nikel kadar 1,2 persen berada di US$22,44 per wmt, kadar 1,3 persen US$44,58 per wmt, kadar 1,4 persen US$50,05 per wmt, kadar 1,5 persen US$54,48 per wmt, dan kadar 1,6 persen US$59,12 per wmt. Semua kadar bergerak turun dibandingkan periode sebelumnya.
Artinya, pengereman pasokan yang dijalankan pemerintah belum otomatis mendongkrak harga acuan dalam jangka pendek. Pasar masih dibayangi stok yang menumpuk di luar negeri, terutama di gudang LME dan China.
Klaim pasar mulai seimbang dan sisa stok global
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah, dalam pemberitaan CNBC Indonesia pada 15 Oktober 2026, menilai kebijakan pasokan yang lebih ketat sejak akhir 2025 secara teoritis sudah menyeimbangkan kembali pasar nikel dunia. Menurutnya, penumpukan kelebihan pasokan dari tahun-tahun sebelumnya mulai berkurang.
FINI memperkirakan total produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 turun sekitar 3,5 hingga 4 persen dibandingkan produksi 2025 yang sebesar 2,5 juta ton nikel. Indonesia sendiri disebut menguasai sekitar 60 persen pasokan nikel dunia. Pengetatan produksi, kata Arif, menaikkan biaya marginal produsen dan memberi ruang bagi harga yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Namun FINI menggarisbawahi satu pemberat besar: inventori nikel di LME dan China tahun ini diperkirakan bisa menembus 600 ribu ton. Tumpukan stok itu, ditambah ketidakpastian kebijakan dan geopolitik global, dinilai masih membatasi kenaikan harga nikel.
Dari sisi regulasi, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan tidak ada kenaikan produksi bijih nikel yang signifikan. Kuota RKAB nikel 2026 masih dipatok pada rentang 260 hingga 270 juta ton per tahun, dan penambahan hanya diberikan secara selektif bagi smelter yang benar-benar kekurangan pasokan bijih. Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Cecep Mochammad Yasin memperkirakan realisasi produksi bijih nikel 2026 bisa mencapai sekitar 290 juta ton, atau di atas kuota.
Perlu dicatat pula bahwa formula harga acuan ikut berubah dua kali dalam setahun terakhir. Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 yang berlaku 15 April 2026, harga patokan bijih nikel dihitung dari empat unsur sekaligus, yakni nikel, besi, kobalt, dan krom, dengan satuan dolar AS per wmt. Kemudian Kepmen ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026 yang berlaku 15 September 2026 menurunkan corrective factor untuk bijih nikel kadar rendah, langkah yang oleh FINI dinilai memberi kepastian operasional bagi smelter berbasis teknologi high pressure acid leach (HPAL).


