Tambang Lutim — PT Vale Indonesia Tbk menargetkan Blok Tanamalia di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mulai beroperasi paling cepat pada tahun 2029. Proyek tambang baru ini disiapkan untuk memasok bahan baku nikel, khususnya bijih limonit, bagi ekosistem rantai pasok kendaraan listrik global.
Rencana tersebut masih berada pada tahap penyiapan. Perusahaan menjajaki kerja sama pengembangan tambang baru di Blok Sorowako itu dengan menggandeng mitra dari kalangan perusahaan otomotif (automaker) asal Eropa, sejalan dengan strategi hilirisasi nikel yang tengah dijalankan perseroan.
Tambang Lutim: Blok Tanamalia dan Target Operasi 2029
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, menyatakan proyek tersebut rencananya akan terintegrasi dengan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang membutuhkan bijih nikel limonit sebagai bahan baku.
“Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kita, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar Hipmi, Kamis (6/8/2026), sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz.
Pernyataan itu menegaskan posisi Tanamalia sebagai proyek jangka panjang, bukan tambang yang beroperasi dalam waktu dekat. Untuk tambang baru, rentang waktu antara penjajakan hingga produksi biasanya dihitung dalam tahun, mengingat panjangnya tahapan studi, perizinan, dan pembangunan fasilitas pengolahan.
Tahap Studi dan Rencana Smelter HPAL
Dalam bahan paparan yang ditayangkan pada forum tersebut, pengembangan tambang Tanamalia sedang berada pada tahap studi front end loading (FEL) tahap II. Tahap ini melingkupi penyusunan feasibility study, kajian keekonomian, rancangan teknis pengembangan, rencana operasional, aspek legal, serta aspek environmental, social, and governance (ESG).
Smelter HPAL yang akan memasangkan hasil tambang ini direncanakan dibangun bersama mitra, dan saat ini prosesnya masih berada pada tahap pemilihan mitra. Fasilitas HPAL berfungsi mengolah bijih limonit kadar rendah menjadi produk antara nikel yang dibutuhkan industri baterai kendaraan listrik, sehingga keberadaan smelter menentukan nilai tambah dari bijih yang ditambang.
Dalam pemberitaan yang mengutip paparan perusahaan, disebutkan bahwa jika kandungan nikel dinilai cukup memadai, konstruksi bakal dilakukan mulai 2027 hingga 2028 dan penambangan dimulai paling cepat 2031. Rentang target itu menunjukkan bahwa kepastian jadwal masih bergantung pada hasil studi dan evaluasi cadangan di lapangan.
Di Mana Letak Blok Tanamalia
Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia. IUPK tersebut meliputi subblok Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas 13.556 hektare. Selain itu, Blok Tanamalia berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 hektare.
Secara administratif, area Tanamalia mencakup Desa Loeha dan sebagian kecil Desa Rante Angin di Kabupaten Luwu Timur. Wilayah itu berada tidak jauh dari kawasan Danau Towuti, salah satu kawasan yang selama ini dikenal sebagai sentra perkebunan merica dan kawasan wisata alam di Luwu Timur.
Cadangan dan Sumber Daya Nikel Vale
Proyek baru ini bersandar pada basis sumber daya yang besar. Head of Studies and Exploration Vale Indonesia, Tyas Agustinus Rabudianto, mengungkapkan posisi cadangan nikel perseroan per 31 Desember 2025 mencapai 1,18 miliar ton basah, atau sekitar 664 juta ton kering, dengan kemampuan penambangan hingga sekitar 20 tahun.
Perusahaan juga memiliki sumber daya nikel sekitar 1,67 miliar ton basah atau setara 1 miliar ton kering. Dengan angka itu, cadangan perseroan dinilai masih dapat ditingkatkan hingga menopang penambangan puluhan tahun ke depan.
| Komponen | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Cadangan nikel per 31 Des 2025 | 1,18 miliar ton basah (±664 juta ton kering) | Dapat ditambang hingga sekitar 20 tahun |
| Cadangan belum ditambang | 695,57 juta ton basah limonit; 489,40 juta ton basah saprolit | Limonit kadar rendah, saprolit kadar tinggi |
| Sumber daya nikel | 1,67 miliar ton basah (±1 miliar ton kering) | Potensi menopang penambangan hingga 50 tahun |
| Sumber daya per jenis bijih | 657,1 juta ton basah limonit; 1,02 miliar ton basah saprolit | Data disampaikan manajemen perseroan |
“At least 20 tahun. Untuk yang kita, cadangan itu kita masih punya resource yang belum kita,” ujar Tyas dalam paparannya, memberikan gambaran bahwa umur tambang masih panjang.