Lutim, SuaraLutim – Tambang Luwu Timur sedang masuk babak baru. Setelah hampir lima dekade menjadi pusat produksi nikel lewat jalur pirometalurgi, Sorowako kini diarahkan memproduksi bahan baku baterai. Pertanyaan yang lalu muncul bukan lagi soal cadangan bijih, melainkan soal air yang menopang seluruh rantainya.
Kajian yang dipublikasikan The Sawerigading Institute (TSI) pada 25 September 2026 menyoroti hal itu secara rinci. Fokusnya bukan pada investasi atau target produksi, tetapi pada neraca air kawasan: berapa air yang diambil, untuk apa, berapa yang dikembalikan, dan bagaimana kondisinya saat musim kering tiba.
Isu ini relevan bagi warga karena tiga danau di Luwu Timur, yaitu Matano, Mahalona, dan Towuti, bukan hanya sumber air industri. Ketiganya menopang perikanan, pertanian, transportasi warga, dan ekosistem yang terbentuk dalam waktu sangat panjang.
Tambang Luwu Timur: Tiga PLTA dan Satu Bentang Air
Menurut kajian tersebut, operasi PT Vale di Sorowako sejak awal memanfaatkan sistem sungai dan danau yang saling terhubung dalam satu bentang hidrologi. Ada tiga fasilitas pembangkit listrik tenaga air, yakni Larona, Balambano, dan Karebbe, dengan kapasitas terpasang total sekitar 365 MW.
Sebagian listrik itu dipakai untuk mendukung operasi perusahaan, sementara sekitar 10,7 MW disalurkan melalui PLN untuk kebutuhan masyarakat Luwu Timur. Artinya, air di kawasan ini bukan hanya bahan baku, tetapi sudah menjadi bagian dari infrastruktur energi daerah.
Karena fungsinya berlapis, perhitungan yang hanya melihat volume pengambilan air dianggap belum cukup. Yang dinilai perlu dibangun adalah neraca air kawasan yang mempertemukan kebutuhan industri, energi, warga, dan daya dukung ekosistem.
Angka pengambilan air di laporan perusahaan
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025 PT Vale, pengambilan air di Sorowako tercatat 15.079.167 meter kubik sepanjang tahun. Seluruhnya disebut berasal dari Danau Matano.
Pada tahun yang sama, produksi nickel matte tercatat 72.027 ton. Laporan itu juga mencatat intensitas pengambilan air sekitar 209,35 meter kubik per ton nickel matte. Jika dibagi rata sepanjang tahun, angka 15 juta meter kubik setara sekitar 41 ribu meter kubik per hari.
Angka itu tidak otomatis berarti seluruh airnya hilang. Sebagian besar sistem industri bekerja lewat pengolahan, penggunaan kembali, dan pengembalian air ke lingkungan. Laporan yang sama menyebut total air yang dilepaskan kembali dari operasi Sorowako pada 2025 sekitar 89,7 juta meter kubik, dialirkan ke sejumlah badan air, antara lain Danau Matano, Danau Mahalona, Salo Lamunto, dan Sungai Petea.
Mengapa air masuk dan air keluar tidak bisa dibandingkan langsung
TSI menekankan bahwa pengambilan dan pelepasan air tidak bisa diperlakukan seperti air di satu ember. Karakter sistem hidrologi, pengolahan air, limpasan, serta aliran yang menggerakkan pembangkit listrik berbeda satu sama lain.
Karena itu, pertanyaan lanjutannya bukan sekadar berapa volume yang diambil, melainkan kapan air itu tersedia. Pola musiman membuat angka rata-rata tahunan bisa terlihat aman, meski pada bulan kering tekanannya jauh lebih besar.


