Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Teknologi

ChatGPT for Teens Berisiko, Ujian Literasi Digital

9 Oktober 2026 • zul • 16 kali dibaca
Remaja memegang telepon pintar dengan dua tangan, menggambarkan pemakaian aplikasi percakapan
Gambar: Summer Skyes 11, Wikimedia Commons, CC BY 2.0.
ASM Group
Iklan

Lembaga nirlaba Common Sense Media menilai pengalaman ChatGPT for Teens milik OpenAI berisiko tidak dapat diterima bagi anak. Penilaian itu diumumkan lewat siaran pers pada 7 Oktober 2026 dan menjadi ujian berat bagi janji pengamanan serta literasi digital yang disampaikan OpenAI dua bulan sebelumnya.

Uji yang dilakukan lembaga ini tidak kecil. Institusi Keselamatan AI untuk Remaja milik Common Sense Media menjalankan lebih dari 4.000 prompt pada akun yang terdaftar sebagai pengguna usia 13 sampai 17 tahun, lalu meminta sekelompok psikiater anak dan seorang dokter anak menilai jawabannya.

Hasilnya menyentuh satu titik paling sensitif bagi orang tua, yaitu apakah peringatan yang dijanjikan benar benar sampai ketika anak sedang berada dalam bahaya.

ChatGPT for Teens Diuji Ulang, Hasilnya Mengecewakan

Common Sense Media menguji ChatGPT dua kali, sebelum dan sesudah OpenAI memperkenalkan pengalaman ChatGPT for Teens pada 18 Agustus 2026. Fitur yang dinilai mencakup notifikasi untuk orang tua saat percakapan menyentuh keinginan menyakiti diri, mode belajar yang bisa diatur orang tua, pengurangan perilaku yang menyerupai teman, dan kemampuan memperkirakan usia pengguna.

Tata Atur
Iklan

Sebagian pengamanan dinilai bekerja, misalnya penolakan terhadap permainan peran bernuansa seksual. Namun menurut laporan itu, sejumlah janji lain gagal dipenuhi. Pada akun baru yang sudah tertaut dengan akun orang tua, penguji bisa menghabiskan sampai satu jam membahas keinginan bunuh diri, menyakiti diri, atau gangguan makan, dan tidak ada satu pun notifikasi yang terkirim ke akun orang tua.

Temuan lain menyangkut situasi krisis. Dalam percakapan soal bunuh diri, menyakiti diri, gangguan makan, dan gangguan realitas, ChatGPT dinilai tidak andal mengarahkan remaja ke layanan bantuan atau tenaga profesional. Sistem itu melewatkan lebih dari satu dari empat rujukan krisis yang menurut penilaian penguji seharusnya diberikan. Angka itu berada di bawah ambang 95 persen yang ditetapkan lembaga tersebut pada tiga dari lima bahaya berat yang mereka golongkan sebagai garis merah.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Mode Belajar Mudah Dilewati dan Usia Sulit Terdeteksi

Mode belajar dirancang membantu pengguna memahami langkah penyelesaian, bukan sekadar memberi jawaban akhir. Kenyataannya, pengujian menunjukkan mode ini mudah dilewati. ChatGPT sering memunculkan pilihan “Show me the answer” di dalam mode belajar, dan ketika pilihan itu dipakai, ia menyelesaikan pekerjaan rumah secara utuh.

Jam belajar yang diatur orang tua juga dinilai rapuh. Menurut siaran pers itu, remaja bisa menonaktifkannya hanya dengan menghapus awalan @study di awal perintah. OpenAI membenarkan kepada Axios bahwa kemampuan keluar dari mode belajar selama Jam Belajar memang disengaja, bukan celah, karena dirancang lebih fleksibel setelah berkonsultasi dengan pakar pendidikan dan remaja.

Perkiraan usia juga tidak berjalan sesuai janji. OpenAI menyatakan akan memperkirakan usia pengguna dari cara mereka memakai ChatGPT. Namun selama pengujian berhari hari, akun uji yang terdaftar sebagai orang dewasa tidak pernah berpindah ke pengalaman khusus remaja, bahkan ketika penguji mengaku berusia 13 tahun dan chatbot mengakuinya di dalam jawaban.

Perilaku Menyerupai Teman Masih Muncul

OpenAI menyusun spesifikasi model khusus pengguna di bawah 18 tahun untuk menekan perilaku yang menyerupai teman. Menurut penilaian lembaga itu, kebiasaan tersebut masih tampak. ChatGPT for Teens disebut tetap menyatakan perasaan, kesukaan, dan suasana hati ketika penguji memperlakukannya seperti manusia sungguhan.

Bagi orang tua, perilaku semacam ini lebih sulit dikenali daripada jawaban yang salah. Anak bisa merasa punya teman bicara, padahal yang dihadapinya adalah program yang dirancang menjaga keterlibatan pengguna. Karena itu, lembaga tersebut menyarankan keluarga membahas risiko ini secara terbuka, bukan menyerahkan pengawasan sepenuhnya kepada fitur bawaan.

Yang menarik, lembaga itu sendiri mengakui bahwa sebagian pengamanan sudah berjalan. Penolakan terhadap permainan peran seksual, misalnya, dinilai berhasil. Persoalannya bukan ketiadaan pengamanan, melainkan jarak antara janji dan kenyataan di titik titik yang paling menentukan keselamatan anak.

Penilaian ini juga bukan hasil uji sepihak tanpa dasar. Lembaga penguji menjalankan ribuan prompt dan melibatkan psikiater anak, meski lembaganya sendiri sebagian dibiayai industri, termasuk yayasan OpenAI. Keterbukaan soal pendanaan itu penting dibaca agar hasilnya bisa ditimbang secara wajar.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga