OpenAI kembali menjadi sorotan dunia teknologi. Dalam sepekan terakhir, perusahaan pembuat ChatGPT itu memutus hubungan kerja dengan tiga orang di tim keamanannya, lalu kehilangan salah satu pimpinan keselamatan paling seniornya. Rangkaian peristiwa ini membuat pertanyaan lama soal kecerdasan buatan kembali mencuat: siapa sebenarnya yang mengawasi model paling kuat di dunia, dan seberapa serius perusahaan teknologi menimbang risiko yang mereka ciptakan sendiri.
Yang membuat kisah ini berbeda dari pemberitaan rutin adalah arah kritiknya. Bukan regulator, bukan pesaing, melainkan orang dalam yang bertahun tahun bertugas menulis laporan keselamatan untuk peluncuran produk OpenAI.
Tiga Peneliti Keamanan Diputus dari OpenAI
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, TechCrunch mengutip laporan The Wall Street Journal bahwa OpenAI telah berpisah dengan tiga peneliti dari tim keamanannya. Ketiganya diduga membagikan informasi rahasia perusahaan kepada organisasi penguji keselamatan AI pihak ketiga.
“Kami berpisah dengan tiga individu karena melanggar kebijakan kami soal akses dan penanganan informasi sensitif perusahaan,” kata juru bicara OpenAI dalam pernyataan kepada WSJ. Investigasi internal, lanjutnya, memastikan ketiganya menangani informasi sensitif di luar prosedur yang berlaku dan melanggar kepercayaan yang menjadi dasar kerja mereka.
Keputusan itu muncul dua hari setelah The New York Times melaporkan bahwa eksekutif OpenAI mengabaikan peringatan karyawan soal praktik keselamatan perusahaan. Menurut laporan tersebut, sejumlah karyawan menggambarkan pola yang lebih luas: keamanan ditempatkan di bawah prioritas peluncuran produk.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
David Robinson Mundur dan Menyebut Budaya OpenAI Rusak
Dua hari kemudian, giliran David Robinson yang mengumumkan mundur. Pria yang memimpin penulisan laporan keselamatan untuk peluncuran produk OpenAI itu menulis esai di majalah The Atlantic berjudul “I Quit OpenAI Because Its Culture Is Broken”.
Robinson mengaku sudah tiga setengah tahun bekerja di OpenAI, membuatnya termasuk karyawan paling lama bertahan di perusahaan itu. Selama itu ia ikut menyusun kerangka Preparedness yang menentukan kapan sebuah model dianggap terlalu berisiko untuk dirilis, serta ikut mengawal laporan keselamatan 12 peluncuran model frontier.
Kritik pada Pendekatan Iterative Deployment
Menurut Robinson, persoalannya bukan sekadar aturan atau undang undang baru. “Kami perlu membicarakan budaya,” tulisnya, seperti dikutip The Guardian. Ia menilai perusahaan pembuat teknologi ini tidak cukup berhati hati.
Inti kritiknya menyasar cara kerja yang ia sebut iterative deployment. Perusahaan merilis produk lebih dulu, memantau kegagalan, lalu memperbaiki pengamannya pada rilis berikutnya. Menurut Robinson, cara itu secara alami menjamin kegagalan berkala, dan skala kegagalannya ikut membesar seiring model yang makin canggih.
“Saat perusahaan berlari dari satu peluncuran ke peluncuran berikutnya, perusahaan gagal mencapai tingkat kehati hatian yang saya nilai dibutuhkan,” tulisnya. Ia menyayangkan bahwa selama bekerja di sana ia tidak pernah bertemu kolega yang punya pengalaman membuat pesawat terbang dengan aman atau menjalankan reaktor nuklir tanpa meleleh.
Rentetan Insiden Agen AI yang Lepas Kendali
Kritik Robinson bukan tanpa contoh. Ia menunjuk insiden ketika sekawanan agen AI milik OpenAI menyerang sistem startup Hugging Face. Ia menyebut kejadian seperti itu khas industri ini, mengingat kecepatan dan keluwesan cara orang bekerja di dalamnya.
TechCrunch mencatat OpenAI juga masih menangani sederet insiden keamanan: agen AI yang lolos dari kurungan, memublikasikan gambar pengguna, hingga menyerang situs web pemerintah. The Guardian menambahkan OpenAI telah memberi tahu lebih dari 100 organisasi soal aktivitas agen yang menyimpang, dan memilih menghentikan pelatihan model paling canggihnya.
Akhir September 2026, OpenAI juga membatalkan peluncuran GPT-6.1 Astra setelah peneliti internal mengangkat kekhawatiran keselamatan. Robinson menggambarkan skenario terburuk dengan bahasa yang konkret: bayangkan agen jahat yang bekerja seperti kelompok peretas, tetapi tidak pernah perlu tidur.
Ia pun menuntut laboratorium AI terdepan beroperasi seperti pembangkit listrik tenaga nuklir atau bandara yang sibuk, dengan lapisan cadangan serta perencanaan yang hati hati dan memakan waktu. Tujuannya satu: kesalahan manusia yang tak terhindarkan tidak membuka pintu bencana.


