Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Politik: Obama Sindir Renovasi Gedung Putih Trump

25 Oktober 2026 • zul • 38 kali dibaca
Gedung Putih di Washington DC dilihat dari sisi timur
Library of Congress, Public domain, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita politik dari Amerika Serikat: Barack Obama menyindir proyek renovasi Gedung Putih yang dijalankan Presiden Donald Trump. Dalam pidato kampanye di Ohio pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mantan presiden itu mengatakan Gedung Putih kini tampak seperti Saddam Hussein membuka restoran Cheesecake Factory. Kalimat itu langsung menyebar di media sosial.

Berita Politik: Sindiran di Panggung Kampanye

Obama menyampaikan sindiran itu saat berkampanye untuk kandidat Partai Demokrat di Cleveland, Ohio. Ia menilai Trump lebih sibuk mengurus renovasi rumah daripada menangani persoalan yang dirasakan pemilih. Menurutnya, Trump seharusnya tampil di saluran televisi HGTV yang mengangkat acara renovasi rumah.

Kalimat yang paling banyak dikutip adalah perbandingan dengan Saddam Hussein. “Dia membuat Gedung Putih tampak seperti Saddam Hussein membuka Cheesecake Factory,” kata Obama seperti dilaporkan The Hill. Ia juga menyebut interior gedung itu kini penuh warna emas.

Sindiran itu bukan satu-satunya. Obama mengkritik pengaspalan Rose Garden, rencana pembangunan ballroom yang disebut lebih besar dari Gedung Putih, dan proyek kolam Reflecting Pool. “Yang terkuras hanya kolamnya,” ujarnya, merujuk pada proyek yang dikerjakan lewat kontrak tanpa tender.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Kritik soal Prioritas Anggaran

Inti kritik Obama bukan sekadar soal selera dekorasi. Ia mempertanyakan prioritas belanja ketika harga kebutuhan pokok dan bahan bakar menjadi keluhan utama warga. Menurutnya, perhatian presiden seharusnya tertuju pada penurunan biaya hidup, bukan pada proyek yang tampak megah.

Obama menyebut renovasi itu menelan biaya lebih dari US$900 juta atau sekitar Rp16,3 triliun. Angka tersebut mencakup sejumlah proyek pembangunan dan perbaikan di kompleks Gedung Putih. Rinciannya tersebar dalam beberapa kontrak dan tahap pekerjaan.

Kritik semacam ini biasa muncul ketika proyek pemerintah berbiaya besar dikerjakan saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Di Amerika, perdebatan soal belanja publik selalu sensitif karena berkaitan langsung dengan defisit anggaran dan prioritas legislatif.

Renovasi Senilai Rp16 Triliun

Proyek yang disorot mencakup penambahan ballroom baru, perubahan tata taman Rose Garden, dan sejumlah penyesuaian interior. Newsweek menyebut laporan tentang tambahan dekorasi emas menjadi salah satu pemicu sindiran Obama. Publik kemudian membandingkan foto ruangan sebelum dan sesudah renovasi.

Pendukung renovasi berargumen bahwa Gedung Putih adalah bangunan tua yang memerlukan perawatan dan pembaruan fasilitas. Mereka menyebut sebagian pekerjaan bersifat teknis, seperti perbaikan sistem dan ruang penerimaan tamu negara. Argumen itu dipakai untuk menepis kesan pemborosan.

Namun besaran biaya membuat proyek ini mudah dijadikan bahan kritik politik. Ketika angka mencapai ratusan juta dolar, publik biasanya menuntut transparansi kontrak dan penjelasan manfaat. Pertanyaan tentang siapa pemenang kontrak dan bagaimana proses tendernya pun ikut menguat.

Respons dan Perdebatan Publik

Di media sosial, potongan pidato Obama dibagikan ribuan kali dalam hitungan jam. Sebagian warganet menilai sindiran itu lucu dan tepat sasaran. Sebagian lain menganggapnya berlebihan karena renovasi Gedung Putih lazim dilakukan setiap pergantian presiden, seperti diberitakan Fox News dari kampanye di Ohio.

CNN Indonesia melaporkan sindiran itu sebagai kritik pedas terhadap proyek renovasi yang dilakukan Trump. Laporan tersebut menempatkan pernyataan Obama dalam konteks ketegangan politik antara kedua tokoh yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Sorotan terhadap pejabat komunikasi Gedung Putih juga pernah muncul, seperti pada pencopotan jubir Gedung Putih setelah lima hari bertugas.

Pendukung Trump membalas dengan menyoroti proyek Presidential Center milik Obama di Chicago. Bangunan itu dikritik karena biaya dan bentuknya, bahkan mendapat julukan “Obamalisk” dari sejumlah pengamat. Balasan ini menunjukkan perdebatan bergeser dari isi kebijakan ke saling kritik soal proyek pribadi.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga