Berita viral hari ini dari Aceh Barat: banjir merendam 12 desa di tiga kecamatan setelah hujan deras mengguyur wilayah pedalaman sejak akhir pekan. Ketinggian air di sejumlah titik mencapai puluhan sentimeter, dan badan jalan serta pagar sekolah di satu desa tergerus arus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat mengerahkan tim gabungan untuk penanganan.
Apa yang Terjadi Sejak 31 Oktober
Banjir mulai muncul pada Sabtu, 31 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Air menggenangi permukiman dan akses jalan warga. Pemicunya hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak dua hari sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat menyebut luapan sungai besar di pedalaman sebagai penyebab utama. Sungai Krueng Meureubo di Kecamatan Pante Ceureumen dan Krueng Woyla di Kecamatan Sungai Mas meluap. Kedua sungai itu melintasi kawasan yang selama ini dikenal rawan genangan.
Data awal pada Sabtu malam menyebut enam desa terdampak di satu kecamatan. Pada Minggu siang, jumlahnya bertambah menjadi 12 desa di tiga kecamatan. Perkembangan angka itu wajar dalam bencana yang masih berlangsung, karena pendataan dilakukan bertahap.
Rincian resmi bisa dibaca di Antara dan CNN Indonesia. Keduanya mengutip keterangan BPBD Aceh Barat yang disampaikan di Meulaboh pada Minggu, 1 November 2026.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Sebaran Desa di Tiga Kecamatan
Di Kecamatan Pante Ceureumen, banjir melanda tujuh desa. Desa yang terdampak adalah Keutambang, Lawet, Jambak, Puloe Teungoh, Lango, Canggai, dan Sikundo. Tujuh desa itu berada di sepanjang aliran sungai yang meluap.
Di Kecamatan Sungai Mas, empat desa terendam. Desa tersebut adalah Tungkop, Kajeung, Lancong, dan Geudong. Ketinggian air di kawasan ini dilaporkan naik cukup cepat pada Sabtu malam.
Kecamatan Woyla Barat mencatat satu desa terdampak, yaitu Napai. Debit air di wilayah itu meningkat signifikan hingga mulai masuk ke rumah warga. Sejumlah laporan menyebut kenaikan terjadi dalam hitungan jam, bukan hari.
Pola sebaran ini menunjukkan banjir datang dari beberapa titik sekaligus. Bukan satu sungai saja yang meluap, tetapi beberapa aliran di pedalaman. Kondisi itu menyulitkan penanganan karena tim harus bergerak ke lokasi yang berjauhan.
Kerusakan di Sikundo dan Akses Warga
Desa Sikundo mencatat kerusakan paling menonjol. Arus banjir mengikis badan jalan dan merusak pagar sekolah. Hingga Minggu siang, arus sungai di wilayah tersebut masih terpantau deras.
Kerusakan jalan berdampak langsung pada mobilitas warga. Akses yang terpotong membuat distribusi bantuan harus melewati jalur lain atau berjalan kaki. Kondisi itu juga menyulitkan petugas yang hendak mendata kerusakan rumah.
Dampak pada sekolah membuat proses belajar terganggu. Sejumlah siswa kehilangan perlengkapan karena rumah mereka terendam. Pemerintah kabupaten menyalurkan bantuan pakaian sekolah, sepatu, dan tas bagi puluhan siswa terdampak, seperti dilaporkan Liputan6.
Bantuan itu menyasar siswa dari beberapa sekolah, termasuk TK Jambak, SD Swasta Sikundo, SDN Keutambang, SDN Alue Lhok, dan SMPN 3 Pante Ceureumen. Penyaluran melibatkan dinas yang menangani pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana. Relawan posyandu ikut mendampingi proses penyaluran.


