Berita viral dari industri nikel: produsen bahan baku baterai asal China, CNGR Advanced Material Co., dilaporkan sedang bernegosiasi untuk mengakuisisi 80 persen saham PT Gunbuster Nickel Industry. Kabar itu pertama kali dilaporkan Bloomberg dan dikutip media nasional pada Rabu, 14 Oktober 2026. Bila terealisasi, transaksi ini berpotensi mengubah peta pengolahan nikel di Indonesia.
Berita Viral: Negosiasi 80 Persen Saham GNI
CNGR disebut tengah menjajaki pembelian 80 persen saham PT Gunbuster Nickel Industry. Perusahaan itu merupakan salah satu smelter nikel besar di Indonesia. Nilai transaksi belum diungkap ke publik.
Menurut laporan Bloomberg Technoz yang mengutip Bloomberg, negosiasi masih berlangsung. Tidak ada jaminan kesepakatan akan tercapai. Sumber yang mengetahui pembicaraan meminta tidak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Rencana akuisisi diperkirakan baru dapat terlaksana setelah proses restrukturisasi utang GNI selesai. Restrukturisasi itu berjalan melalui mekanisme penundaan kewajiban pembayaran utang atau PKPU. Penyelesaiannya diperkirakan berlangsung pada awal 2027.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Posisi GNI dan Proses PKPU
PT Gunbuster Nickel Industry mengoperasikan smelter nikel di Sulawesi. Kapasitas produksi nickel pig iron perusahaan dilaporkan mencapai sekitar 1,8 juta ton per tahun. Skala itu menempatkannya sebagai salah satu pemain besar di sektor pengolahan nikel nasional.
Seperti dilaporkan IDX Channel, GNI menjalani proses PKPU setelah pengadilan menetapkan penangguhan sementara kewajiban pembayaran utang pada Juni 2026. Sebelumnya, perusahaan juga memangkas produksi pada 2025 di tengah tekanan industri nikel.
Proses PKPU membuat setiap rencana transaksi harus menunggu kepastian penyelesaian utang. Struktur kepemilikan setelah restrukturisasi akan menentukan bentuk akhir kesepakatan. Karena itu, waktu pelaksanaan akuisisi masih bersifat perkiraan.
Hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai komposisi pemegang saham baru GNI. Pihak-pihak yang disebut dalam laporan juga belum menyampaikan keterangan rinci soal nilai dan skema transaksi.
Siapa CNGR dan Kaitannya dengan Emiten Indonesia
CNGR Advanced Material merupakan produsen material baterai asal China. Perusahaan ini tercatat sebagai entitas induk utama PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk atau PACK melalui kepemilikan tidak langsung. Keterkaitan itu membuat kabar akuisisi turut menjadi perhatian investor pasar modal, sebagaimana diuraikan EmitenHub.
Dalam keterangan kepada Bloomberg, CNGR menyatakan secara rutin mengevaluasi berbagai peluang strategis dalam menjalankan kegiatan usaha. Namun manajemen tidak memberikan konfirmasi khusus mengenai rencana pengambilalihan GNI. Alasannya, perusahaan smelter tersebut masih menjalani proses PKPU.
Artinya, laporan ini masih berstatus penjajakan transaksi. Belum ada penandatanganan perjanjian jual beli saham yang diumumkan. Pasar pun diminta menunggu keterbukaan informasi resmi sebelum menyimpulkan hasil akhirnya.
Bagi investor, status perusahaan yang menjalani PKPU membuat skema transaksi lebih rumit. Pembeli biasanya menunggu kesepakatan damai dengan kreditur sebelum menyerap saham. Dalam banyak kasus, sebagian hasil restrukturisasi dipakai untuk melunasi kewajiban tertentu.
Bagaimana PKPU Bekerja dalam Transaksi Tambang
PKPU adalah mekanisme hukum tempat debitur dan kreditur merundingkan ulang kewajiban pembayaran. Hakim menetapkan penangguhan sementara agar aset perusahaan tidak dieksekusi selama proses berjalan. Hasil akhirnya bisa berupa rencana perdamaian yang disahkan pengadilan atau pailit.
Selama proses itu, rencana masuknya investor baru harus sejalan dengan rencana perdamaian. Calon pembeli biasanya menempatkan dana segar sebagai bagian dari solusi utang. Karena tahapannya panjang, jadwal transaksi sering bergeser dari perkiraan awal.
Ketidakpastian itu menjelaskan mengapa laporan Bloomberg menyebut transaksi baru berpeluang terlaksana setelah restrukturisasi tuntas. Semua pihak yang berkepentingan menunggu kepastian struktur utang lebih dulu.
Di sisi lain, konsolidasi di sektor smelter bukan hal baru. Pemain besar dengan akses modal lebih kuat cenderung mengambil alih aset yang sedang kesulitan. Pola itu mempercepat penguasaan rantai pasok dari tambang sampai material baterai.


