Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SuaraLutim.com – Dua dari lima pusat data milik raksasa teknologi Rusia, Yandex, dilumpuhkan serangan drone Ukraina pada 8 dan 9 Oktober 2026. Berita viral ini menandai pertama kali pusat data berskala besar di Rusia menjadi sasaran langsung dalam perang yang berlangsung sejak 2022. Perusahaan mengakui layanan intinya terganggu dan belum bisa memastikan kapan fasilitas itu kembali beroperasi normal. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan tersebut sebagai respons simetris atas serangan Rusia ke pusat data Ukraina.
Berita Viral: Dua Data Center Yandex Kena Serangan Drone
Fasilitas pertama yang dihantam adalah pusat data Sasovo di wilayah Ryazan, Rusia, pada Kamis 8 Oktober 2026. Yandex menyatakan lokasi itu mengalami kerusakan serius dan operasinya dihentikan sepenuhnya. Serangan itu memicu kebakaran di salah satu pusat data terbesar milik perusahaan yang sering dijuluki Google-nya Rusia tersebut.
Sehari kemudian, Jumat 9 Oktober 2026, giliran pusat data Kaluga di barat daya Moskow yang diserang. Kaluga merupakan fasilitas terbesar Yandex dengan luas bangunan sekitar 130.000 meter persegi dan konsumsi listrik tahunan setara kebutuhan 220.000 rumah tangga di Inggris. Perusahaan menyatakan beberapa modul di lokasi itu sama sekali tidak bisa dioperasikan.
Kementerian Pertahanan Ukraina mengonfirmasi serangan terhadap infrastruktur data tersebut. Menurut pernyataan kementerian, serangan itu dapat memaksa Rusia mengalihkan sumber daya untuk memperbaiki kapasitas yang rusak. Perusahaan drone Ukraina, Firepoint, menyatakan drone serang satu arah FP-1 terlibat dalam serangan terbaru ke pusat data Kaluga.
Sasovo Menyimpan Superkomputer Pelatihan Model AI
Pusat data Sasovo menyimpan dua dari tiga superkomputer yang dipakai Yandex untuk mengembangkan model kecerdasan buatannya, YandexGPT. Belum ada keterangan resmi apakah perangkat superkomputer itu ikut rusak dalam serangan. Kerusakan pada baris perangkat pelatihan model berpotensi memperlambat pengembangan produk kecerdasan buatan perusahaan.
Yandex sebelumnya menggambarkan pusat data sebagai infrastruktur yang kritis bagi operasi layanannya. Perusahaan menyebut waktu pemulihan sangat sulit diprediksi. “Tim kami bekerja siang dan malam untuk memastikan layanan tetap berjalan. Untuk saat ini itu tugas terpenting kami, tetapi sayangnya bukan perkara mudah,” demikian pernyataan resmi perusahaan yang dikutip media internasional.
Dampak ke Layanan dan Pengguna
Yandex menegaskan tidak ada karyawan yang terluka dalam serangan itu. Meski demikian, perusahaan mengakui sebagian layanan terganggu. Kepada kantor berita negara Tass, Yandex menyampaikan sejumlah fungsi chatbot kecerdasan buatannya sempat tidak tersedia dan perangkat rumah pintar berpotensi mengalami masalah.
Media independen Rusia, Meduza, melaporkan pengguna Tanah Air kesulitan mengakses sejumlah aplikasi populer. Keluhan muncul pada layanan streaming video Ivi, aplikasi bank digital T-Bank, dan situs perusahaan kereta api negara Russian Railways. Gubernur wilayah Kaluga, Vladislav Shapsha, menyatakan sembilan orang terluka akibat serangan drone di infrastruktur kota, meski ia tidak berkomentar soal pusat data Yandex.
Skala gangguan secara rinci masih belum jelas. Yandex tidak mempublikasikan daftar layanan yang terdampak maupun perkiraan waktu pemulihan. Perusahaan juga belum mengungkap nilai kerugian material akibat dua serangan beruntun tersebut.
Kenapa Pusat Data Jadi Sasaran Baru
Serangan ini adalah bagian dari perubahan pola perang yang berlangsung sepanjang 2026. Kedua negara memperluas sasaran dari pangkalan militer dan jalur pasokan ke fasilitas ekonomi, kilang minyak, pelabuhan, kapal pengangkut gandum, gudang e-commerce, hingga pusat data. Sebelumnya, Rusia menyerang pusat data Ukraina sejak akhir September 2026, termasuk fasilitas di Kyiv yang membuat sekitar 100.000 rumah tangga mengalami gangguan internet.
Zelensky menyebut serangan Ukraina sebagai cermin dari serangan Rusia. “Kami selalu merespons dengan cara serupa. Anda semua tahu mereka telah dan terus menyerang pusat data kami. Kami merespons,” katanya kepada wartawan. Sejumlah perusahaan Ukraina dilaporkan mulai memindahkan data dari server yang rusak ke fasilitas di luar negeri.
Moskow membenarkan serangan ke pusat data Ukraina dengan alasan fasilitas itu dipakai intelijen militer. Kyiv menuduh Rusia sengaja menyasar infrastruktur sipil. Karena layanan pencarian, transportasi, dan pembayaran Yandex dipakai puluhan juta orang setiap hari, gangguan pada dua pusat datanya berdampak langsung ke kehidupan warga biasa, bukan hanya ke industri teknologi.
Serangan terhadap pusat data Ukraina berlangsung sejak akhir September 2026. Salah satu serangan menghantam pusat bisnis di Kyiv, menewaskan empat orang dan merusak sebuah pusat data. Akibat rangkaian serangan tersebut, sekitar 100.000 rumah tangga di Kyiv dan sekitarnya sempat kehilangan akses internet. Sejumlah perusahaan Ukraina mulai memindahkan data ke fasilitas di luar negeri.
Pola ini memperlihatkan ruang server kini diperlakukan sebagai target strategis setara kilang minyak atau pelabuhan. Ketergantungan layanan publik, pembayaran, dan transportasi pada pusat data membuat gangguan singkat berdampak luas bagi warga. Perusahaan teknologi pun mulai menghitung ulang risiko menempatkan kapasitas komputasi di wilayah perang.


