Berita viral di pasar energi pagi ini adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Brent naik 86 sen atau 0,75 persen menjadi US$115,74 per barel pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 01.22 GMT. Kenaikan terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan setelah Houthi meningkatkan serangan ke fasilitas energi Arab Saudi.
Berita Viral: Brent di US$115,74 dan WTI di US$102,72
Minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat juga menguat. Harganya naik 72 sen atau 0,71 persen menjadi US$102,72 per barel. Angka itu dikutip Reuters dan dipublikasikan CNN Indonesia.
Secara bulanan, kenaikan jauh lebih besar dari pergerakan harian. Brent diperkirakan menutup Oktober dengan kenaikan hampir 14 persen. WTI menuju kenaikan sekitar 15 persen dan berpotensi ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak April.
Pergerakan itu membalik pola beberapa hari sebelumnya. Pada awal pekan, harga sempat turun karena pasar mengharapkan jalur diplomasi. Harapan itu memudar setelah serangan terbaru dilaporkan.
Bagi konsumen global, efeknya bertahap. Harga bahan bakar di pompa biasanya mengikuti pergerakan minyak mentah dengan jeda beberapa pekan. Negara pengimpor seperti Indonesia paling terpapar lewat biaya impor dan nilai tukar.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Pemicu: Klaim Serangan Houthi ke Fasilitas Aramco
Houthi pada Kamis, 29 Oktober 2026, mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi. Target yang disebut mencakup kilang terbesar negara itu, Ras Tanura, serta kilang Rabigh dan fasilitas Aramco di Abqaiq. Klaim itu belum dikonfirmasi otoritas Saudi.
Ras Tanura bukan fasilitas biasa. Kilang itu berkapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari dan menjadi salah satu simpul utama ekspor minyak Saudi. Gangguan di sana langsung memengaruhi persepsi pasar soal pasokan.
Sindonews mencatat klaim serangan sebelumnya menyebut kebakaran di kompleks kilang. Otoritas Saudi dilaporkan menembak jatuh beberapa rudal yang diarahkan ke Riyadh dan Provinsi Timur. Rincian kerusakan masih simpang siur.
Pola serangan yang berulang membuat pasar memberi premi risiko. Setiap klaim baru cukup untuk mengangkat harga, meski belum ada bukti kerusakan besar. Premi itu bertahan karena jalur diplomasi belum menunjukkan hasil.
Selat Hormuz dan Tiga Tanker
Perhatian pasar juga tertuju ke Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran menyatakan tiga kapal tanker terkena ranjau laut, meledak, dan terbakar saat mencoba memakai jalur yang tidak diizinkan di selatan selat. Keterangan itu belum diverifikasi pihak lain.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling strategis bagi minyak dunia. Sebagian besar ekspor dari kawasan Teluk melewati jalur sempit itu. Gangguan di sana langsung menaikkan biaya asuransi pelayaran dan ongkos angkut.
Kepala Riset Energi MST Marquee Saul Kavonic menilai kombinasi serangan militer dan ketidakpastian diplomasi menahan harga tetap tinggi. Pasar memperkirakan konflik meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Pernyataan itu dikutip dalam laporan Reuters.
Karena itu, harga minyak saat ini bukan hanya mencerminkan pasokan hari ini. Harga juga memuat ekspektasi tentang apa yang mungkin terjadi bulan depan. Premi ketidakpastian itulah yang paling sulit diukur.
Jalur Diplomasi AS dan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran. Menurut Trump, kontak itu untuk membantu Iran memperoleh pasokan medis. Pernyataan tersebut disampaikan Kamis, 29 Oktober 2026.
Media AS sebelumnya melaporkan Vance mengirim surat kepada pejabat keamanan tertinggi Iran. Tujuannya menghidupkan kembali pembicaraan damai. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut surat itu sudah diterima, tetapi Iran belum memberi tanggapan.
Iran disebut menginginkan AS memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran. Belum ada rincian resmi soal syarat tersebut. Perbedaan posisi itu membuat pasar menilai peluang kesepakatan masih tipis.
Di titik ini, harga minyak bergerak mengikuti berita, bukan data. Setiap sinyal positif menurunkan harga sehari, setiap klaim serangan mengangkatnya lagi. Pola itu terlihat sepanjang pekan terakhir.


