Proyeksi Bank Dunia
Bank Dunia merilis Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2026. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas secara keseluruhan naik 23,1 persen pada 2026, sebelum turun 7 persen pada 2027. Harga energi diproyeksikan naik 32 persen tahun ini.
Untuk minyak, Bank Dunia memperkirakan rata-rata Brent US$91 per barel pada 2026. Angka itu naik dari rata-rata US$69 per barel pada 2025. Pada 2027, harga diperkirakan turun ke US$79 per barel.
Proyeksi itu disertai catatan risiko. Dalam skenario negatif, Brent bisa mencapai rata-rata US$105 per barel pada 2027. Bank Dunia juga memperkirakan pasokan minyak global turun 5,2 persen pada 2026, penurunan terbesar dalam lebih dari 40 tahun di luar resesi 2020.
Konsumsi minyak diperkirakan menyusut 2,5 persen. Penyebabnya kombinasi harga tinggi dan percepatan elektrifikasi, terutama di Tiongkok. Rincian itu dipublikasikan Medcom.id dengan kutipan Anadolu Ajansi.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Dampak ke Indonesia
Indonesia adalah importir minyak bersih, sehingga harga tinggi menekan neraca perdagangan. Biaya impor bahan bakar dan minyak mentah naik, sementara penerimaan ekspor tidak otomatis mengikuti. Tekanan itu biasanya muncul di nilai tukar dan defisit fiskal.
Di sisi anggaran, subsidi dan kompensasi energi menjadi pos yang paling sensitif. Setiap kenaikan harga minyak memperbesar kebutuhan belanja negara bila harga jual dalam negeri tidak disesuaikan. Pemerintah menghadapi pilihan antara menjaga daya beli dan menjaga kas negara.
Pasar keuangan juga ikut bereaksi. Ketika harga minyak melonjak, investor biasanya mengurangi posisi di aset berisiko negara pengimpor. Tekanan itu sudah terlihat pada pergerakan pasar saham dalam negeri, seperti dibahas dalam artikel soal IHSG yang anjlok 3,49 persen.
Bagi rumah tangga, efeknya terasa lewat harga transportasi dan pangan. Biaya logistik naik lebih dulu sebelum harga barang di pasar menyesuaikan. Karena itu, lonjakan minyak sering diikuti tekanan inflasi beberapa bulan kemudian.
Serangan Sebelumnya dan Pola Eskalasi
Rangkaian serangan ke infrastruktur energi Saudi sudah berlangsung sejak pertengahan Oktober. Pada 15 Oktober, serangan Houthi dilaporkan menghantam markas Aramco, seperti dibahas dalam artikel soal serangan Houthi ke markas Aramco. Pola itu berulang dengan target bergeser.
Setiap eskalasi menaikkan ambang harga baru. Pasar yang semula bereaksi pada US$110 kini menganggap US$115 sebagai level wajar. Pergeseran ekspektasi itu membuat penurunan harga membutuhkan berita yang lebih kuat.
Di sisi lain, OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi Desember pada pertemuan akhir pekan. Tiga sumber yang dikutip Reuters menyebut keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar. Produksi tujuh anggota utama masih di bawah target masing-masing.
Ekspor minyak Rusia dari pelabuhan Laut Baltik dan Laut Hitam juga berpotensi turun bulan depan. Pedagang menyebut penurunan terjadi seiring meningkatnya produksi solar kilang domestik Rusia. Faktor itu menambah ketatnya pasokan global.
Apa yang Diketahui
Brent naik 0,75 persen menjadi US$115,74 per barel pada 30 Oktober 2026 pukul 01.22 GMT. WTI naik 0,71 persen menjadi US$102,72. Brent menuju kenaikan bulanan hampir 14 persen, WTI sekitar 15 persen.
Houthi mengklaim menyerang Ras Tanura, Rabigh, dan Abqaiq pada 29 Oktober. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan mencegat rudal jelajah menuju wilayah barat kerajaan. Bank Dunia memproyeksikan rata-rata Brent US$91 pada 2026 dan US$79 pada 2027.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Otoritas Saudi belum mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas yang diklaim diserang. Klaim Garda Revolusi Iran soal tiga tanker yang terkena ranjau juga belum diverifikasi pihak independen. Kedua klaim berasal dari pihak yang terlibat konflik.
Dampak nyata terhadap volume ekspor minyak Saudi belum diumumkan. Begitu pula hasil kontak antara AS dan Iran. Pasar masih menunggu konfirmasi resmi sebelum menilai apakah premi risiko akan bertahan.
FAQ Seputar Harga Minyak Dunia
Berapa harga minyak Brent pada 30 Oktober 2026?
Brent diperdagangkan di US$115,74 per barel pada pukul 01.22 GMT, naik 86 sen atau 0,75 persen. WTI berada di US$102,72 per barel, naik 72 sen atau 0,71 persen.
Apa penyebab kenaikan harga minyak?
Kekhawatiran gangguan pasokan setelah Houthi mengklaim menyerang kilang dan fasilitas Aramco di Arab Saudi. Ketidakpastian jalur diplomasi AS-Iran dan insiden di Selat Hormuz memperkuat tekanan.
Apakah harga minyak akan turun pada 2027?
Bank Dunia memproyeksikan rata-rata Brent turun ke US$79 per barel pada 2027. Namun proyeksi itu bisa meleset bila konflik meluas, dengan skenario negatif mencapai US$105 per barel.
Baca juga
- Berita Politik: MK Tolak Gugatan Warga Korban Karhutla
- Viral Nusantara: ChatGPT Ads Tulis Ulang Iklan Otomatis
- Viral Hari Ini: Indodax Setop Transaksi Usai Serangan Siber
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


