Jumat, 23 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Viral: KPPG Bogor Bantah Susu MBG Kedaluwarsa

23 Oktober 2026 • zul • 15 kali dibaca
Ilustrasi hidangan program Makan Bergizi Gratis di sebuah sekolah
Wikimedia Commons, CC0
ASM Group
Iklan

Berita viral hari ini: Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Bogor Haidir membantah kabar bahwa susu dalam menu Makan Bergizi Gratis yang diduga memicu keracunan 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua sudah kedaluwarsa pada 2025. Menurut dia, susu tersebut tercatat kedaluwarsa pada 2027. Bantahan itu disampaikan kepada wartawan pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Kabar soal susu kedaluwarsa menyebar cepat di media sosial setelah insiden keracunan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Unggahan berisi foto kemasan dan klaim tanggal kedaluwarsa lama beredar tanpa verifikasi. Banyak warganet meneruskan informasi itu sebagai penyebab pasti, padahal hasil uji laboratorium belum keluar.

Kasus ini menyentuh dua hal sekaligus: keselamatan anak di program makan bergizi dan cara publik membaca informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah daerah menyatakan biaya pengobatan ditanggung negara, sementara dapur pemasok dihentikan sementara selama 20 hari.

Berita Viral: Apa yang Terjadi di SMPN 2 Cisarua

Insiden bermula pada Rabu pagi. Sebanyak 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah. Sebagian siswa dibawa ke Puskesmas Cisarua, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo.

Tata Atur
Iklan

Kepala KPPG Bogor menyebut total penerima manfaat MBG di sekolah itu sebanyak 881 siswa. Dari jumlah tersebut, 103 siswa mengalami gejala, sebagian dipulangkan dan sebagian lain masih diobservasi. Dapur pemasok menghentikan operasi selama 20 hari sejak hari kejadian, seperti diberitakan detikcom pada 21 Oktober 2026.

Status penghentian disebut sebagai suspend kategori sedang. Penghentian berlaku sambil menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah dan evaluasi internal. Selama masa itu, tidak ada pasokan baru dari dapur tersebut ke sekolah.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Bantahan soal Tanggal Kedaluwarsa Susu

Haidir menyatakan susu yang diberikan kepada siswa tercatat kedaluwarsa pada 2027. Ia membantah informasi yang menyebut produk itu kedaluwarsa pada 2025. Pernyataan itu dimuat detikcom pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Bantahan tersebut tidak otomatis menghapus dugaan bahwa susu menjadi pemicu. KPPG Bogor tetap menyebut susu sebagai dugaan awal karena gejala muncul setelah siswa meminumnya. Namun dugaan awal bukan kesimpulan, dan penyebab pasti baru bisa dipastikan lewat uji laboratorium.

Pemerintah Kabupaten Bogor menyatakan sampel makanan dan minuman sudah dikirim ke laboratorium. Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan bahwa biaya pengobatan siswa ditanggung pemerintah daerah. Sampel itu menjadi rujukan utama untuk menentukan penyebab keracunan, seperti dirangkum Republika dari laporan Antara Foto.

Kronologi Versi Laporan Dapur Pemasok

Menurut laporan klarifikasi SPPG, distribusi makanan tiba di sekolah sekitar pukul 08.03 WIB. Pihak sekolah menghubungi kepala SPPG pada 08.30 WIB setelah sejumlah siswa muntah. Kepala SPPG tiba di lokasi sekitar 08.40 WIB.

Pada tahap awal, satu siswa mendapat perawatan bersama wali kelas dan orang tua. Siswa itu mengaku hanya meminum susu. Keluhan kemudian menyebar ke siswa lain dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Laporan itu juga menyebut dugaan kemasan rusak pada salah satu produk minuman. Informasi tersebut belum diverifikasi laboratorium dan belum diumumkan resmi sebagai penyebab. Sampai hasil keluar, semua dugaan masih bersifat sementara.

Jumlah Korban dan Data yang Berbeda

Angka korban bergerak sejak hari pertama. Sejumlah laporan awal menyebut 56 siswa, lalu 101 siswa dan guru, kemudian 103 siswa sesuai keterangan KPPG Bogor. Perbedaan itu lazim dalam peristiwa yang masih berjalan karena pendataan dilakukan bertahap.

Jumlah penerima manfaat MBG di sekolah tersebut tercatat 881 siswa. Dari jumlah itu, 103 siswa mengalami gejala. Sebagian sudah dipulangkan dan sebagian lain masih diobservasi pada hari kejadian.

Media daerah melaporkan angka yang lebih tinggi pada hari berikutnya, termasuk siswa yang kembali ke rumah setelah observasi. Untuk keperluan pemberitaan, angka 103 yang disebut otoritas gizi setempat dipakai sebagai rujukan utama. Data masih bisa berubah bila ada tambahan laporan.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga