Selasa, 3 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Produksi Tembaga Chile Turun 8,4 Persen

2 November 2026 • zul • 19 kali dibaca
Tambang tembaga terbuka Chuquicamata di Chile, salah satu operasi yang memengaruhi pasokan tembaga dunia.
Owen Cliffe, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
ASM Group
Iklan

Tambang nasional hari ini mendapat sinyal dari pasar tembaga dunia. Komisi Tembaga Chile, Cochilco, memangkas proyeksi produksi negaranya untuk 2026 menjadi 4,94 juta ton, turun 8,4 persen dari perkiraan sebelumnya. Pada saat yang sama, lembaga itu menaikkan proyeksi harga tembaga menjadi 6,18 dolar Amerika Serikat per pon untuk tahun ini.

Tambang Nasional dan Sinyal dari Produsen Terbesar Dunia

Chile adalah pemasok tembaga terbesar dunia. Ketika produksi negara itu turun, dampaknya terasa ke seluruh rantai pasok, termasuk ke negara pengolah seperti Indonesia. Cochilco memperkirakan produksi tambang Chile tahun ini hanya 4,94 juta ton, jauh di bawah estimasi Agustus yang masih 5,27 juta ton.

Sepanjang Januari sampai September 2026, Chile memproduksi 3,63 juta ton tembaga. Angka itu turun 8,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Untuk mencapai target tahunan, tambang di Chile harus memproduksi sekitar 434.000 ton per bulan pada kuartal keempat, atau 7,6 persen di atas rata-rata sembilan bulan pertama.

Tiga operasi tambang menyumbang sebagian besar penurunan, yaitu Escondida dan Spence milik BHP serta tambang-tambang Codelco. Ketiganya menjelaskan 77,3 persen dari penurunan bersih produksi nasional Chile, menurut laporan resmi Cochilco.

Tata Atur
Iklan

Penyebabnya bukan satu faktor tunggal. Cochilco menyebut kadar bijih yang lebih rendah, kegiatan pemeliharaan, serta gangguan operasional yang memengaruhi proses pengolahan dan pemulihan logam. Kombinasi itu membuat produksi sulit mengejar target meski harga sedang menarik.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Harga Tembaga Naik, Produksi Justru Turun

Cochilco menaikkan proyeksi harga rata-rata tembaga 2026 dari 5,95 dolar menjadi 6,18 dolar per pon. Untuk 2027, proyeksi harga juga naik dari 5,10 dolar menjadi 5,95 dolar per pon. Kenaikan itu didorong pasokan tambang yang lambat merespons pertumbuhan permintaan.

Wakil Presiden Eksekutif Cochilco Claudia Rodríguez menyatakan, penopang utama harga adalah terbatasnya respons produksi tambang terhadap permintaan yang terus tumbuh. Ia menyebut surplus yang diproyeksikan relatif kecil dan mudah berubah bila ada keterlambatan operasional atau konsumsi yang lebih tinggi dari perkiraan.

Untuk 2026, Cochilco memproyeksikan produksi tambang dunia turun 0,6 persen menjadi 23,30 juta ton. Pasokan tembaga olahan justru naik 1,1 persen menjadi 27,64 juta ton, ditopang penggunaan stok antara dan bahan baku sekunder. Permintaan olahan tumbuh 1,5 persen menjadi 27,50 juta ton, menyisakan surplus hanya 144.000 ton.

Surplus sebesar itu hanya setara 0,5 persen konsumsi dunia. Artinya, pasar tembaga tidak punya bantalan besar. Sedikit gangguan di satu tambang besar bisa langsung mengubah neraca menjadi defisit dan mengerek harga, seperti dilaporkan kantor berita Reuters melalui TradingView.

Proyeksi 2027 dan Tempat Indonesia

Untuk 2027, Cochilco memperkirakan produksi tambang dunia pulih 3,4 persen menjadi 24,08 juta ton. Kenaikan itu datang dari Chile, Republik Demokratik Kongo, Mongolia, Zambia, dan Indonesia. Chile bersama Kongo disebut menjelaskan sekitar 37 persen dari tambahan produksi global.

Pasokan tembaga olahan 2027 diperkirakan naik 2,0 persen menjadi 28,20 juta ton, lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi 1,8 persen yang mencapai 27,98 juta ton. Dengan begitu, surplus melebar menjadi 215.000 ton atau 0,8 persen konsumsi dunia.

Surplus yang lebih besar itulah yang mendasari proyeksi penurunan harga rata-rata 3,7 persen antara 2026 dan 2027. Namun Cochilco menegaskan, penurunan itu bergantung pada terpenuhinya jalur produksi yang diperkirakan. Bila tambang kembali gagal mencapai target, harga bisa bertahan lebih lama di level tinggi.

Bagi Indonesia, posisi sebagai salah satu penyumbang kenaikan produksi 2027 penting. Itu berarti tambahan pasokan konsentrat dan katoda dari dalam negeri akan masuk ke pasar saat permintaan masih tumbuh. Namun nilai tambahnya sangat bergantung pada kesiapan smelter dan penyerapan industri hilir.

Mengapa Chile Kesulitan Memenuhi Target

Chile menghadapi persoalan struktural, bukan hanya gangguan sesaat. Kadar bijih di beberapa tambang tua terus menurun, sehingga untuk menghasilkan jumlah logam yang sama dibutuhkan material lebih banyak. Biaya pengolahan ikut naik seiring bertambahnya kedalaman tambang.

Pemeliharaan besar juga memakan waktu produksi. Sejumlah operasi harus menghentikan sebagian proses untuk perbaikan alat dan fasilitas. Di tambang terbuka berskala raksasa, satu kali penghentian bisa menghilangkan puluhan ribu ton produksi.

Faktor air dan izin lingkungan turut membatasi ekspansi. Beberapa proyek di Chile utara bergantung pada air laut yang didesalinasi, dan itu menambah biaya investasi. El País melaporkan tekanan produksi ini mulai menguji pemerintahan Chile karena sektor tambang menjadi penopang utama ekonomi negara itu.

Karena itu, perbaikan produksi 2027 tidak bisa diasumsikan otomatis. Cochilco sendiri menyebut pemulihan 3 persen tahun depan hanya akan mengembalikan sekitar sepertiga dari penurunan produksi 2026. Sisa penurunan sebelumnya tetap hilang dari pasokan global.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga