Viral hari ini datang dari Sirkuit Autodromo Hermanos Rodriguez, Kota Meksiko. Pembalap Mercedes Andrea Kimi Antonelli memastikan diri sebagai juara dunia Formula 1 2026 pada usia 20 tahun 68 hari, setelah finis ketiga di GP Meksiko pada Senin dini hari WIB. Gelar itu membuatnya menjadi kampiun termuda sepanjang sejarah Formula 1 dan memutus penantian Italia selama lebih dari tujuh dekade.
Viral hari ini: gelar juara dikunci di Meksiko
Antonelli sebenarnya tidak perlu menang di Meksiko. Ia hanya butuh tambahan poin kecil untuk mengunci gelar, dan finis di posisi ketiga sudah lebih dari cukup. Hasil itu membuat koleksi poinnya menjadi 380, tidak mungkin lagi dikejar pembalap lain meski musim masih menyisakan empat seri.
Balapan dimenangi Max Verstappen dari Red Bull Racing, dengan Lewis Hamilton dari Ferrari finis kedua. Antonelli menempel di belakang Hamilton dengan selisih 4,006 detik, cukup untuk memastikan gelar sebelum musim berakhir. Charles Leclerc dan Lando Norris melengkapi lima besar.
Bagi Mercedes, hasil ini menutup musim yang berjalan naik turun dengan cara paling rapi. Tim asal Brackley itu kembali memiliki juara dunia setelah era dominasi mereka bersama Hamilton berakhir. Antonelli sendiri baru menjalani musim keduanya di Formula 1 bersama Mercedes.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Jalannya balapan di Autodromo Hermanos Rodriguez
Hamilton memulai balapan dari pole position, tetapi posisi terdepan langsung luruh setelah Leclerc menyalip di awal lomba. Verstappen menyusul merebut posisi kedua, sementara Hamilton turun ke urutan ketiga dan harus bekerja lebih keras sepanjang 71 lap.
Leclerc mendapat penalti lima detik pada lap ke-13 karena manuver yang dinilai melanggar regulasi. Hukuman itu dijalani saat ia masuk pit pada lap ke-27, dan Verstappen memanfaatkan momen tersebut untuk kembali ke depan. Hamilton menyusul masuk pit dua lap kemudian.
Situasi itu membuat Antonelli sempat mengambil alih posisi terdepan sebelum ia sendiri masuk pit pada lap ke-44. Ia kembali ke lintasan di posisi keempat, lalu menyalip Leclerc pada lap ke-48 untuk naik ke urutan ketiga. Posisi itulah yang membawanya ke gelar juara.
Rekor Vettel tumbang di usia 20 tahun 68 hari
Rekor juara dunia termuda sebelumnya dipegang Sebastian Vettel, yang menjadi kampiun pada 2010 ketika berusia 23 tahun 133 hari. Antonelli memecahkan rekor itu dengan selisih usia hampir tiga tahun, sebuah jarak yang sangat lebar dalam ukuran Formula 1 modern.
Ia juga menjadi pembalap Italia ketiga yang meraih gelar juara dunia, setelah Giuseppe Farina pada 1950 serta Alberto Ascari pada 1952 dan 1953. Italia terakhir kali memiliki juara dunia pembalap pada era Ascari, sehingga penantian itu berlangsung sekitar 73 tahun.
Kantor berita ANSA melaporkan Antonelli menangis bahagia di parc ferme, dikelilingi keluarganya. Dalam wawancara singkat, ia menyebut musim 2026 sebagai musim yang luar biasa dan sulit dipercaya. Sejak kecil, ia memang menjadikan Ayrton Senna sebagai panutan.
Poin 380 dan empat seri yang tersisa
Dengan 380 poin, Antonelli unggul jauh atas Verstappen yang mengoleksi 261 poin dan Hamilton dengan 251 poin. Selisih sebesar itu tidak mungkin ditutup dalam empat seri tersisa, masing-masing dengan maksimal 26 poin untuk pemenang plus poin tambahan.
Empat seri yang masih tersisa adalah GP Sao Paulo, GP Las Vegas, GP Qatar, dan GP Abu Dhabi. Bagi Antonelli, sisa musim berubah menjadi rangkaian balapan tanpa tekanan gelar, meski persaingan posisi kedua dan ketiga masih terbuka lebar.
Verstappen sendiri baru mengoleksi tiga kemenangan pada musim ini, termasuk GP Meksiko. Kemenangan di Meksiko tidak cukup menahan laju Antonelli yang lebih konsisten mengumpulkan poin sejak paruh pertama musim. Hamilton, yang finis kedua, masih harus berjuang mempertahankan posisi tiga besar.
Pebalap Italia ketiga setelah Farina dan Ascari
Bagi publik Italia, gelar ini punya bobot emosional tersendiri. Formula 1 telah lama menjadi ajang dengan banyak pembalap Italia, tetapi tidak ada yang mampu menembus gelar juara dunia sejak dekade 1950-an. Antonelli mengakhiri masa tunggu yang panjang itu.
Ia juga menjadi bagian dari generasi pembalap muda yang naik ke Formula 1 lebih cepat dari biasanya. Sebelum Mercedes, Antonelli menempuh jalur pembinaan tim melalui seri junior, termasuk Formula 2, dengan tekanan ekspektasi yang besar sejak awal.
Kombinasi usia muda, kecepatan, dan ketenangan di bawah tekanan membuat banyak pengamat menilainya sebagai wajah baru Formula 1. Gelar juara dunia pada usia 20 tahun memberi dasar kuat untuk prediksi itu, meski perjalanan karier pembalap muda tidak selalu lurus.


