Viral hari ini datang dari dunia kecerdasan buatan untuk layanan kesehatan: OpenEvidence, platform yang dijuluki ChatGPT untuk dokter, disebut bernilai US$15 miliar setelah putaran pendanaan baru. Angka itu menempatkan pendirinya, Daniel Nadler, di jajaran orang terkaya dunia. Bagi banyak dokter di Amerika Serikat, aplikasi ini sudah menjadi alat bantu harian sebelum namanya ramai dibicarakan.
Viral Hari Ini: Valuasi US$15 Miliar
Business Insider melaporkan OpenEvidence memperoleh US$250 juta dari sejumlah sistem rumah sakit dan Andreessen Horowitz pada September 2026. Putaran itu menilai perusahaan di US$15 miliar. Nilai tersebut jauh di atas valuasi sebelumnya, ketika perusahaan masih dianggap sebagai alat pencari medis khusus kalangan dokter.
Lompatan valuasi itu bukan yang pertama. Pada Januari 2026, CNBC mencatat OpenEvidence menutup pendanaan Seri D senilai US$250 juta dan menilai perusahaan di US$12 miliar. Putaran tersebut dipimpin Thrive Capital dan DST Global. Dalam waktu kurang dari setahun, nilai perusahaan naik dari US$1 miliar menjadi dua belas kali lipat.
Kenaikan itu menarik perhatian karena produknya tidak dijual ke konsumen umum. Penggunanya adalah dokter dan tenaga medis berlisensi yang membutuhkan jawaban cepat dari literatur ilmiah. Model bisnisnya pun masih dalam proses pencarian bentuk akhir.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Siapa Daniel Nadler
Daniel J. Nadler lahir di Toronto, Kanada, pada 3 Juni 1983. Ayahnya imigran Rumania yang bekerja sebagai insinyur, ibunya imigran Polandia. Ia menempuh studi sarjana di Universitas Toronto, lalu melanjutkan pendidikan pascasarjana di Harvard hingga meraih gelar doktor di bidang ekonomi politik.
Selama di Harvard, Nadler juga memperdalam matematika dan sastra. Ia sempat menjadi visiting scholar di Federal Reserve Bank of Boston pada 2013. Pengalaman itu menjadi titik baliknya masuk ke industri teknologi, karena ia melihat regulator dan analis keuangan masih bekerja manual dalam membaca dampak kebijakan global.
Catatan CNN Indonesia menyebut Nadler kini memiliki kekayaan US$7,6 miliar atau sekitar Rp137,5 triliun dengan asumsi kurs Rp18.093 per dolar AS. Angka itu menempatkannya pada peringkat ke-516 daftar real time orang terkaya dunia versi Forbes. Majalah Time juga memasukkannya dalam daftar sosok paling berpengaruh di bidang kecerdasan buatan 2026.
Dari Kensho ke OpenEvidence
Pada Mei 2013, Nadler mendirikan Kensho Technologies, mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan. Perusahaan itu kemudian diakuisisi S&P Global pada 2018 dengan nilai US$550 juta. Pengalaman membangun mesin pencari untuk data keuangan menjadi dasar pendekatan yang ia bawa ke dunia medis.
OpenEvidence dibangun bersama Zachary Ziegler, peneliti dari Harvard. CNN Indonesia menulis platform itu lahir pada 2022, sementara profil CNBC mencatat OpenEvidence diluncurkan pada 2021 di Miami, Florida. Perbedaan tahun itu muncul dari cara masing-masing media menghitung masa pengembangan dan peluncuran produk.
Sejak awal, produk ini diposisikan sebagai mesin pencari yang hanya memproses sumber medis terpercaya dan berlisensi. Dokter mengajukan pertanyaan klinis, lalu sistem menampilkan jawaban dengan rujukan jurnal. Pendekatan itu berbeda dari chatbot umum yang jawabannya sulit dilacak asalnya.
Cara Kerja untuk Dokter
OpenEvidence bekerja seperti mesin pencari khusus klinis. Pengguna menuliskan pertanyaan tentang diagnosis, dosis, atau pilihan terapi, kemudian sistem merangkum bukti dari literatur. Setiap jawaban disertai tautan ke sumber aslinya agar dokter bisa memeriksa sendiri.
Karena itu, posisinya lebih sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan pengganti penilaian dokter. Keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang menghadapi pasien. Dalam praktik, alat seperti ini dipakai untuk mempersingkat waktu pencarian di tengah jadwal layanan yang padat.
Pendekatan berbasis rujukan itu juga menjadi pembeda di pasar yang semakin ramai. Berbagai perusahaan berlomba menyediakan asisten AI klinis, termasuk yang menguji kemampuan model menghadapi kasus sulit seperti dibahas dalam artikel tentang AI Microsoft yang mengalahkan dokter pada kasus rumit.


