Viral nusantara kali ini datang dari pasar bahan pangan. Data pemantauan pemerintah pada Rabu 14 Oktober 2026 menunjukkan harga beras dan sejumlah jenis cabai bergerak naik, sementara beberapa komoditas protein justru turun. Perbedaan arah harga itu membuat belanja harian rumah tangga perlu dicermati.
Viral Nusantara: Data Harga Pangan 14 Oktober 2026
Melansir Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan pukul 13.38 WIB, dari 16 komoditas tercatat 10 komoditas naik dan 6 komoditas turun. Komoditas yang naik antara lain beras premium, bawang merah, tepung terigu, cabai merah besar, dan minyak goreng sawit kemasan premium. Sementara minyakita, bawang putih, minyak goreng curah, dan cabai rawit merah tercatat turun.
Harga cabai merah besar melonjak paling tinggi, yaitu Rp437 atau 0,72 persen menjadi Rp61.551 per kilogram. Sebaliknya, harga cabai rawit merah turun paling tajam Rp648 atau 0,81 persen menjadi Rp79.585 per kilogram. Beras premium naik tipis 0,1 persen menjadi Rp15.693 per kilogram dan beras medium naik 0,05 persen menjadi Rp14.016 per kilogram.
Gula pasir curah juga naik 0,09 persen menjadi Rp18.446 per kilogram. Telur ayam ras naik 0,14 persen menjadi Rp26.749 per kilogram, sedangkan daging ayam ras turun 0,25 persen menjadi Rp39.966 per kilogram. Harga daging sapi paha belakang tercatat relatif stabil di Rp144.101 per kilogram.
Dari sisi pangan pokok, posisi beras menjadi perhatian karena kenaikannya berlangsung bertahap. Kenaikan tipis pada satu hari dapat terasa signifikan bila berlanjut dalam beberapa pekan. Karena itu, pantauan harga harian menjadi acuan penting bagi pedagang maupun konsumen.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Data PIHPS Bank Indonesia di Pasar
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat pergerakan yang bervariasi pada hari yang sama. Harga daging sapi turun dari kisaran Rp150.000 per kilogram menjadi Rp139.600 per kilogram. Harga daging ayam turun dari Rp47.950 menjadi Rp47.150 per kilogram, sedangkan telur ayam turun dari Rp32.700 menjadi Rp31.950 per kilogram.
Harga cabai masih cenderung tinggi meski sebagian bergerak turun. Cabai rawit merah turun dari Rp112.500 menjadi Rp104.500 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau naik dari Rp65.450 menjadi Rp68.950 per kilogram. Cabai merah besar naik dari Rp71.700 menjadi Rp95.750 per kilogram, sementara cabai merah keriting turun dari Rp155.400 menjadi Rp101.050 per kilogram.
Bawang merah tercatat turun dari Rp46.250 menjadi Rp37.450 per kilogram dan bawang putih turun dari Rp41.300 menjadi Rp38.900 per kilogram. Minyak goreng curah turun dari Rp22.450 menjadi Rp20.000 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal turun dari Rp20.600 menjadi Rp18.800 per kilogram.
Perbedaan angka antara kedua sumber muncul karena cakupan dan metode pemantauannya berbeda. Sistem Kemendag memantau pasar kebutuhan pokok, sementara PIHPS Bank Indonesia memantau pasar strategis di sejumlah daerah. Konsumen disarankan membandingkan harga di beberapa pasar sebelum menyimpulkan tren.
Faktor yang Mendorong Pergerakan Harga
Sejumlah pengamat menyoroti risiko cuaca sebagai faktor utama pergerakan harga pangan. Ancaman El Nino dan musim kemarau dapat menekan produksi cabai, beras, dan bawang di sentra pertanian. Gangguan pasokan di satu daerah biasanya cepat menular ke pasar lain lewat jaringan distribusi.
Biaya distribusi juga menentukan harga akhir di tingkat konsumen. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik membuat selisih harga antardaerah melebar. Daerah yang bergantung pada pasokan luar, seperti Kalimantan Tengah, sering merasakan dampaknya lebih dulu.
Peran Bulog dan pemerintah daerah tetap menjadi penopang utama stabilisasi. Bank Indonesia bersama tim pengendalian inflasi daerah menambah pasokan beras dari daerah surplus untuk menekan harga. Langkah serupa ditempuh untuk komoditas yang sedang naik tajam.
Permintaan rumah tangga yang stabil menjelang akhir tahun ikut menjaga harga tetap tinggi. Pola ini berulang setiap tahun, terutama untuk cabai dan bahan pangan segar. Karena itu, penambahan pasokan dinilai lebih efektif daripada penekanan harga secara administratif.


