Viral nusantara hari ini datang dari Badung, Bali. Tebing di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat longsor dan menimbun satu unit penginapan. Dua orang pengunjung diduga berada di dalam bangunan saat peristiwa terjadi.
Longsor berlangsung pada Minggu malam, 1 November 2026, sekitar pukul 23.00 WITA. Laporan resmi baru diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada Senin pagi pukul 06.10 WITA. Tim SAR langsung diberangkatkan dari pos Jimbaran menuju lokasi.
Lokasinya berada di Banjar Bukit Munduk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Kawasan itu dikenal sebagai daerah dataran tinggi dengan tebing dan akses jalan curam. Hujan lebat sejak Minggu malam menjadi pemicu awal.
Viral Nusantara: Longsor Timbun Satu Unit Penginapan
Menurut laporan awal, tebing di sekitar area penginapan mendadak longsor. Material tanah dan batuan langsung menimbun salah satu unit penginapan. Unit itu sedang dipakai dua orang pengunjung.
Kepala Basarnas Bali menyatakan pihaknya menerima informasi dari pemilik penginapan. Pemilik mencurigai ada dua orang di dalam bangunan saat longsoran terjadi. Informasi itu yang menjadi dasar pengerahan tim rescue.
Selain unit yang tertimbun, sejumlah bangunan lain dilaporkan ikut terdampak. Media melaporkan ada bangunan yang roboh dan satu unit terbawa arus sungai di bawahnya. Rincian kerusakan masih dalam pendataan petugas.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Dua Pengunjung Diduga Tertimbun
Hingga Senin siang, dua pengunjung masih dalam proses pencarian. Basarnas menyebut satu korban sudah teridentifikasi sebagai warga negara Indonesia berusia 30 tahun. Identitas korban kedua belum diketahui, termasuk kewarganegaraannya.
Dalam kebijakan redaksi, nama korban tidak ditulis untuk melindungi keluarga. Artikel ini hanya menyebut jumlah dan status korban. Fokus pemberitaan diarahkan pada proses pencarian dan penyebab kejadian.
Sejumlah media menyebut kedua korban berstatus hilang, sementara laporan lain menyebut keduanya diduga tertimbun material longsor. Perbedaan istilah itu muncul karena posisi korban belum dipastikan. Penyisiran masih berlangsung di area bangunan dan aliran sungai.
Tim SAR Dikerahkan dari Pos Jimbaran
Basarnas Bali memberangkatkan sembilan personel tim rescue dari pos Jimbaran. Perjalanan menuju lokasi diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam. Medan di kawasan Petang memang menanjak dan berkelok.
Tim membawa peralatan penyelamatan untuk membuka material longsor. Pencarian dilakukan bertahap sambil memantau risiko longsor susulan. Cuaca di lokasi dilaporkan masih hujan saat tim bergerak.
Laporan lengkap soal pengerahan tim dimuat di ANTARA. Sementara kondisi lokasi dan dampak pada jalan penghubung dijelaskan dalam laporan CNN Indonesia.
Cuaca Ekstrem Picu Longsor
Hujan lebat mengguyur kawasan Desa Pelaga dan sekitarnya sejak Minggu malam. Air meresap ke tanah dan menambah beban pada tebing. Kondisi itu membuat lereng kehilangan kestabilan.
Sejumlah laporan menyebut hujan berlangsung sejak Minggu sore hingga Senin dini hari. Sungai di bawah kawasan penginapan dilaporkan berarus kencang. Arus itu diduga ikut memperparah kerusakan bangunan.
BMKG Wilayah III Denpasar sebelumnya mengeluarkan peringatan dini. Peringatan itu menyebut potensi hujan lebat disertai angin kencang di kawasan tengah Bali, termasuk Petang. Wilayah Badung utara masuk dalam cakupan peringatan tersebut.
Pencarian Mandiri Sempat Dihentikan
Sebelum tim SAR tiba, pengelola penginapan melakukan pencarian awal. Mereka dibantu BPBD Kabupaten Badung, Camat Petang, dan Polsek Petang. Upaya itu dilakukan untuk mencari korban secepat mungkin.
Namun pencarian mandiri terpaksa dihentikan sementara. Penyebabnya adalah hujan yang masih tinggi dan akses menuju titik longsor yang sangat curam. Keselamatan warga yang membantu pencarian menjadi pertimbangan utama.
Pengelola kemudian menghubungi Basarnas untuk meminta bantuan teknis. Keputusan itu dinilai tepat karena penyelamatan di medan longsor membutuhkan peralatan khusus. Tim SAR juga lebih terlatih membaca risiko susulan.


