Viral nusantara kembali diwarnai aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut itu erupsi 24 kali dalam sepekan terakhir hingga 14 Oktober 2026. Status aktivitas masih berada di Level III atau Siaga, dengan kolom abu teramati hingga 800 meter di atas puncak pada erupsi pagi.
Viral Nusantara: Semeru Erupsi 24 Kali dalam Sepekan
Erupsi tercatat pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 05.40 WIB. Menurut data PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dikutip Databoks Katadata, kolom abu teramati mencapai 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat daya dan barat.
Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 100 detik. Beberapa jam kemudian, erupsi muncul kembali. Menurut laporan Warta Ekonomi yang mengutip Badan Geologi Kementerian ESDM, letusan pukul 06.26 WIB menghasilkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau 3.876 meter di atas permukaan laut dengan sebaran ke arah timur.
Gunung Semeru berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Pola erupsi bertingkat seperti ini bukan hal baru bagi gunung yang berstatus Siaga sejak lama. Yang membedakan adalah frekuensinya dalam sepekan terakhir, sehingga laporan harian PVMBG kembali menjadi perhatian publik.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Kolom Abu 800 Meter dan Getaran Seismik
Pada pengamatan kegempaan 14 Oktober 2026 pukul 18.00 sampai 23.59 WIB, petugas mencatat 37 kali gempa letusan atau erupsi. Amplitudo gempa berkisar 10 sampai 24 milimeter dengan durasi 63 sampai 159 detik, jauh lebih banyak dibandingkan catatan awal Oktober.
Selain gempa letusan, terdeteksi dua kali gempa guguran dengan amplitudo 3 sampai 4 milimeter serta enam kali gempa hembusan dengan amplitudo 3 sampai 7 milimeter. Data itu menunjukkan suplai material dari dalam gunung masih aktif. Petugas mengimbau masyarakat memantau informasi resmi setiap hari.
Tinggi kolom abu tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat bahaya. Arah angin menentukan sebaran abu, dan potensi bahaya terbesar tetap berasal dari awan panas guguran serta aliran lahar di lembah sungai yang berhulu di puncak. Karena itu, rekomendasi radius menjadi acuan utama bagi warga.
Rekor Letusan 2026: 5.099 Erupsi Nasional
Sepanjang 2026, MAGMA Indonesia mencatat 5.099 letusan atau erupsi gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru menempati urutan tertinggi dengan 1.982 kali letusan, jauh meninggalkan gunung api lain. Angka itu menegaskan posisi Semeru sebagai gunung paling aktif dalam catatan pemantauan tahun ini.
Pada awal Oktober 2026, jumlah letusan yang tercatat masih di kisaran 4.946 kali dengan 1.922 letusan di antaranya dari Semeru. Artinya, penambahan sekitar 150 letusan terjadi hanya dalam hitungan hari. Lonjakan itu membuat pembaruan data harian penting bagi warga di lereng gunung.
Status Siaga Level III pernah ditetapkan ulang pada 9 Oktober 2026 setelah serangkaian erupsi. Menurut laporan CNBC Indonesia, saat itu kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak. Peningkatan status berdampak pada pengetatan rekomendasi aktivitas warga dan pendaki.
Rekomendasi PVMBG dan Radius Aman
PVMBG meminta tidak ada aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar jarak itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Alasannya, kawasan tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Rekomendasi lain adalah larangan beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak. Zona itu rawan lontaran batu pijar yang dapat jatuh tanpa peringatan panjang. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai diminta menyiapkan jalur evakuasi mandiri.
Petugas juga mengingatkan potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang menjadi anak Besuk Kobokan. Aliran material vulkanik dapat membawa batu dan kayu ketika hujan turun di puncak. Menurut laporan Antara, lembah yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.


