Malili – Setahun setelah kebocoran pipa minyak PT Vale Indonesia Tbk di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, dinamika tambang lutim di kawasan itu masih menyisakan pekerjaan rumah. Pemulihan lahan pertanian mulai memasuki tahap yang bisa diukur. Padi kembali ditanam, dan panen telah dilakukan di sepuluh titik berbeda hingga pekan pertama Agustus 2026. Meski begitu, sejumlah pekerjaan rumah belum tuntas sepenuhnya.
Insiden bermula pada 23 Agustus 2025 ketika pipa minyak milik perusahaan mengalami kebocoran. Minyak masuk ke saluran air dan area pertanian. Penanganan melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, masyarakat, serta sejumlah pihak independen. Enam desa tercatat terdampak, yaitu Lioka, Wawondula, Langkea Raya, Matompi, Baruga, dan Timampu.
Bagi warga yang menggantungkan hidup dari sawah, perikanan, dan aktivitas ekonomi di sekitar Danau Towuti, pertanyaan setahun terakhir bukan lagi sebatas apakah minyak sudah dibersihkan, tetapi apakah lahan bisa produktif kembali dan apakah kerugian mereka sudah diganti.
Tambang Lutim: Kronologi Singkat Insiden Lioka
Pada fase awal, tim tanggap darurat dikerahkan untuk mengisolasi sumber kebocoran dan menahan penyebaran minyak. Posko pengaduan dibuka untuk menerima laporan masyarakat. Besarnya persoalan terlihat dari lonjakan laporan pada hari-hari pertama: 88 laporan tercatat pada 29 Agustus 2025 dan menjadi 112 laporan sehari kemudian.
Sebanyak 225 warga dari enam desa terlibat dalam kegiatan pembersihan. Pelibatan warga itu penting karena pembersihan awal membutuhkan tenaga besar di area yang cukup luas, mulai dari saluran air sampai lahan pertanian.
Direktur sekaligus Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, menyatakan perusahaan ingin menjadikan masukan warga sebagai dasar penentuan langkah pemulihan. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog dengan warga Dusun Molindowe, Desa Lioka, beberapa hari setelah insiden.
Sawah Kembali Ditanami, Panen di Sepuluh Titik
Pada bulan-bulan pertama setelah kebocoran, kondisi lahan pertanian menjadi sumber kekhawatiran terbesar warga. Petani menggambarkan tanah yang menghitam, bau minyak yang masih kuat, hingga tanaman padi yang mati. Pada saat yang sama, pengujian kualitas air bersama ahli dari Universitas Indonesia menunjukkan parameter yang diuji berada di bawah baku mutu.
Dua gambaran itu membuat ukuran pemulihan tidak tunggal. Kondisi air perlu diperiksa, tetapi kemampuan tanah untuk kembali digunakan sebagai lahan pertanian juga harus dilihat. Karena itu, pemulihan lahan kemudian berjalan dengan pendampingan ahli pertanian dari Institut Pertanian Bogor.
Wilayah pemulihan mencakup area persawahan di lima desa, yakni Lioka, Baruga, Langkea Raya, Matompi, dan Timampu. Tahapannya panjang, mulai dari persiapan lahan, penyediaan bibit, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pendampingan teknis, analisis laboratorium, hingga evaluasi berkala.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur, Subhan, menyatakan tanaman padi pada sejumlah lokasi yang diamatinya tumbuh hijau dan tidak menunjukkan kelainan. Pengamatan itu dilakukan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi pemulihan produksi pertanian di wilayah Kecamatan Towuti pada 17 Juli 2026.
Tampilan tanaman yang normal tetap dilengkapi pengambilan sampel, pengujian, pengukuran hasil panen, dan evaluasi kondisi tanah. Hasil evaluasi itu menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah pada musim tanam berikutnya.
Keterlibatan perguruan tinggi memberi konteks lebih luas. Ketua Puslitbang Natural Heritage & Biodiversity LPPM Unhas, Prof. Siti Halimah Larekeng, menilai basis pemantauan biodiversitas yang dibangun sejak 2019 dapat membantu melihat perubahan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah insiden.