Warga Malili dan sekitarnya punya agenda belanja murah pada Kamis pagi ini. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur menggelar Gerakan Pangan Murah di Jalan Jeruk, tepatnya di depan Toko Diffa arah Pasar Sentral Malili, mulai pukul 09.00 WITA. Kegiatan ini masuk dalam program stabilisasi pasokan dan pengendalian inflasi daerah tahun 2026.
Sebagai berita lutim yang paling ditunggu rumah tangga, kegiatan ini menyediakan sejumlah bahan pokok dengan harga di bawah pasaran. Panitia menyebut barang dijual bebas tanpa syarat kartu tanda penduduk, dengan catatan ketersediaan dan harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Berita Lutim: Daftar Harga Bahan Pokok di Gerakan Pangan Murah
Berdasarkan keterangan penyelenggara, sejumlah komoditas dijual dengan harga yang lebih rendah dibanding harga pasar harian. Berikut rinciannya.
- Beras SPHP kemasan 5 kilogram: Rp58.000
- Gula pasir: Rp17.500 per kilogram
- Minyak goreng kemasan 2 liter merek Kunci Mas: Rp45.000
- Telur ayam: Rp46.000 per rak
- Daging sapi: Rp130.000 per kilogram
- Bawang putih: Rp38.000 per kilogram
- Bawang merah: Rp38.000 per kilogram
- Aneka sayuran organik: Rp5.000 per paket
Rincian harga itu juga dilaporkan dalam pemberitaan Karebata.id sehari sebelum kegiatan berlangsung.
Tanpa Syarat KTP, tapi Ketersediaan Terbatas
Satu hal yang membedakan Gerakan Pangan Murah dari program bantuan sosial adalah tidak adanya syarat administrasi. Panitia menyatakan pembeli tidak perlu menunjukkan kartu tanda penduduk, sehingga siapa pun yang datang bisa berbelanja selama stok masih tersedia.
Meski begitu, keterbatasan stok tetap perlu diantisipasi. Pengalaman kegiatan serupa di sejumlah daerah menunjukkan komoditas tertentu, terutama beras dan minyak goreng, sering habis lebih cepat dari komoditas lain.
Karena itu, warga yang hendak memanfaatkan kesempatan ini sebaiknya datang lebih awal dan menyiapkan daftar kebutuhan sebelum berangkat, bukan memutuskan di lokasi.
Bagian dari Pengendalian Inflasi Daerah
Program ini berjalan di bawah kebijakan pemerintahan Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dan Wakil Bupati Puspawati Husler, yang menempatkan pengendalian inflasi pangan sebagai salah satu agenda prioritas tahun ini.
Pelaksanaannya melibatkan dukungan Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, serta Tim Pengendali Inflasi Daerah Luwu Timur. Perum Bulog sendiri mencatat Gerakan Pangan Murah sebagai salah satu kanal penyaluran beras SPHP kepada masyarakat, sebagaimana dijelaskan dalam keterangan resmi Bulog.
Di tingkat provinsi, persoalan harga pangan memang masih menjadi perhatian. Inflasi Sulawesi Selatan sempat tercatat 2,86 persen dan dibahas dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, seperti kami rangkum dalam artikel Luwu Timur: Inflasi Sulsel 2,86 Persen Disorot di HLM TPID.
Dari sisi pasokan, Luwu Timur juga menyiapkan musim tanam ketiga. Jadwalnya sudah dipatok, dan pemerintah daerah meminta pendampingan petani berjalan sesuai rencana. Rinciannya bisa dibaca pada artikel Berita Luwu Timur: Jadwal Tanam Serentak MT III 3 Oktober.
Bagaimana Skema Pangan Murah Bekerja
Secara nasional, penugasan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan kepada Perum Bulog pada 2026 tercatat 828 ribu ton. Penyalurannya dilakukan lewat beberapa kanal, mulai dari pedagang pengecer di pasar rakyat, koperasi, outlet binaan pemerintah daerah, hingga kegiatan Gerakan Pangan Murah bersama kementerian dan pemerintah daerah.
Bulog juga menyebut jaringan Rumah Pangan Kita telah mencapai sekitar 80 ribu titik di seluruh Indonesia. Jaringan itu menjadi jalur distribusi tambahan agar beras kebijakan pemerintah lebih mudah dijangkau warga di luar pasar induk.
Di tingkat kabupaten, kanal seperti inilah yang membuat komoditas tertentu bisa dijual di bawah harga pedagang. Skemanya menyambung antara cadangan pangan pemerintah, dukungan Badan Pangan Nasional, dan perangkat daerah yang menyiapkan lokasi serta penjualan langsung.


