Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Tambang Luwu Timur: 50 Mangrove dan 200 Lamun di Malili

19 September 2026 • Admin
Penanaman mangrove di Mangkasa Point, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Luwu Timur
Gambar: PT Vale Indonesia via Luwuraya.com

(SuaraLutim) — Malili. Rehabilitasi pesisir kembali dilakukan di Kabupaten Luwu Timur. PT Vale Indonesia bersama Universitas Hasanuddin, Sorowako Diving Club, aktivis lingkungan, dan relawan menanam 50 bibit mangrove serta mentransplantasi 200 lamun di Mangkasa Point, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu catatan tambang Luwu Timur yang berkaitan langsung dengan upaya menjaga ekosistem pesisir di kawasan Danau Towuti dan sekitarnya.

Rehabilitasi pesisir tersebut bertujuan memperkuat ekosistem yang berperan melindungi garis pantai, menjadi habitat biota laut, dan menyimpan karbon. Sekitar 50 peserta terlibat dalam tiga rangkaian kegiatan: penanaman mangrove, transplantasi lamun, dan bersih pantai. Pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional.

Peran Industri Tambang Luwu Timur dalam Rehabilitasi Pesisir

Kabupaten Luwu Timur memiliki garis pantai dan kawasan perairan yang menjadi sumber penghidupan sebagian warga, mulai dari nelayan kecil hingga pelaku usaha pengolahan hasil laut. Karena itu, pemulihan ekosistem pesisir tidak bisa hanya menjadi agenda seremonial satu hari. Program rehabilitasi dinilai penting sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan perusahaan yang beroperasi di daerah ini.

Dalam kegiatan tersebut, PT Vale menanam mangrove jenis Avicennia atau yang dikenal warga sebagai api-api. Menurut perusahaan, jenis ini memiliki perakaran kuat yang membantu menahan abrasi serta menyediakan habitat bagi beragam biota laut. Pemilihan jenis bukan hal sepele, karena mangrove yang salah jenis bisa gagal tumbuh dan hanya menyisakan biaya tanpa manfaat ekologis.

Lamun yang Sering Terlupakan

Selain mangrove, peserta mentransplantasi 200 lamun jenis Enhalus acoroides. Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di dasar perairan dangkal dan berfungsi sebagai tempat ikan serta biota pesisir mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.

Bagi banyak orang, padang lamun kurang dikenal dibandingkan mangrove atau terumbu karang. Padahal, ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar dan membantu menstabilkan dasar perairan. Karena alasan itu, kegiatan pengayaan ekosistem pesisir dianggap lebih seimbang jika tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove.

Kolaborasi Lintas Pihak sebagai Kunci

Head of External Relations PT Vale, Yusri Yunus, menyatakan pelestarian lingkungan membutuhkan kerja sama banyak pihak. Ia menilai upaya menjaga ekosistem darat dan pesisir tidak dapat berjalan hanya oleh perusahaan.

“Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama agar langkah yang kita lakukan hari ini memberikan dampak nyata bagi masa depan,” kata Yusri dalam siaran pers perusahaan.

Keterlibatan tim Pusat Penelitian Sumberdaya Alam LPPM Universitas Hasanuddin menambah bobot teknis kegiatan ini. Tim tersebut melakukan kajian sebelum penanaman dan transplantasi, yang menurut PT Vale membantu memastikan lokasi yang dipilih sesuai serta meningkatkan peluang keberhasilan rehabilitasi jangka panjang.

Mengapa Kajian Teknis Menentukan

Penanaman mangrove dan transplantasi lamun termasuk pekerjaan yang sering gagal jika dilakukan tanpa kajian. Faktor seperti arus, kedalaman, salinitas, jenis substrat, serta riwayat gangguan di lokasi ikut menentukan tingkat keberhasilan. Kesalahan memilih lokasi biasanya baru terlihat berbulan-bulan kemudian, ketika bibit tidak berkembang.

Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting. Data hasil kajian tidak hanya dipakai untuk satu kegiatan, tetapi dapat menjadi rujukan bagi program serupa di titik pesisir lain di Luwu Timur.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga