Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Pariwisata Lutim: Desa Wisata Balantang dan Kapal Sejarah

5 Oktober 2026 • Admin • 19 kali dibaca
Suasana kegiatan warga di kawasan Sungai Malili, pariwisata lutim di Kecamatan Malili
Dokumentasi SuaraLutim
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Pariwisata Lutim punya satu sudut yang jarang dibahas: Desa Wisata Balantang Gembae di Kecamatan Malili. Desa yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari Kota Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur, ini memadukan hamparan pesisir, sungai yang bermuara ke laut, serta jejak sejarah berupa bangkai kapal perang yang kini menjadi bagian dari narasi cagar budaya daerah.

Dalam direktori desa wisata Kementerian Pariwisata (Jadesta), Balantang tercatat sebagai desa wisata dengan lanskap pegunungan hijau dan sungai yang mengalir ke lautan. Pemerintah Desa Balantang menyebut objek “Kapal Sejarah Perang Dunia” sebagai salah satu daya tarik utama, bersanding dengan Pulau Morie, Pulau Bulu Poloe, Bukit Agro Tabarano, hingga Gunung Belang Bebatuan (Bulu Bellang).

Pariwisata Lutim: Balantang dan Jejak Sejarah di Tepi Sungai

Balantang bukan desa yang jauh dari pusat keramaian. Dari Kota Malili, perjalanan darat ke desa ini hanya menempuh jarak pendek. Lokasi objek wisata sejarahnya berada di Jalan Lure, Dusun Malluse Tasi, Kelurahan/Desa Balantang, Kecamatan Malili.

Daya tarik utamanya adalah bangkai kapal perang yang teronggok di tepi sungai. Jadesta mencatat kapal tersebut sebagai peninggalan sejarah yang karam di pinggir sungai Balantang dan menjadi bahan promosi warisan budaya desa. Sementara itu, situs resmi Desa Balantang memasukkan objek ini dalam daftar wisata desa dengan nama “Kapal Sejarah Perang Dunia”.

Tata Atur
Iklan

Ada catatan menarik soal asal-usul kapal itu. Sejumlah pemberitaan menyebutnya sebagai bangkai kapal perang Jepang. Namun catatan sejarah desa juga menyinggung peninggalan kapal perang era kolonial yang dikenal warga sebagai “Kappala Telengge”. Hingga artikel ini disusun, SuaraLutim belum memperoleh keterangan resmi yang memastikan asal-usul bangkai kapal tersebut secara final, sehingga atribusi sejarahnya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari narasi lokal yang masih terus diteliti.

Yang lebih pasti: Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menyatakan bangkai kapal perang di lokasi itu telah masuk sebagai cagar budaya. Pemerintah daerah juga menyiapkan tim ahli, termasuk di bidang kepariwisataan dan perencanaan, untuk mengkaji pemanfaatan kawasan tersebut sebagai objek wisata. Informasi itu disampaikan melalui pemberitaan media lokal Kabar Lutim, yang juga menyebut lokasi kapal berada di Jalan Lure, Dusun Malluse Tasi.

Atraksi: Perahu ke Tambak hingga Kemping Tepi Pantai

Bagi wisatawan yang datang, Balantang menawarkan kombinasi wisata alam dan aktivitas warga. Jadesta menguraikan sejumlah aktivitas outdoor yang bisa dilakukan, mulai dari berkunjung ke tambak atau empang menggunakan perahu, bersepeda menyusuri pedesaan, hingga berkemah di tepi pantai.

Selain kapal sejarah, beberapa titik yang bisa dijajal antara lain:

  • Pulau Morie, pulau kecil di kawasan pesisir Malili yang masuk daftar wisata Desa Balantang.
  • Pulau Bulu Poloe, yang oleh warga sekitar dikaitkan dengan kisah awal terbentuknya kampung Balantang.
  • Bukit Agro Tabarano, titik pandang yang mengarah ke lanskap perbukitan dan pesisir.
  • Gunung Belang Bebatuan (Bulu Bellang), formasi perbukitan bebatuan yang menjadi bagian lanskap desa.
  • Masjid Jami Babul Imam, masjid tua yang masuk daftar wisata desa.
  • Kawasan Pelabuhan PT Vale Indonesia, yang oleh desa dicatat sebagai bagian dari wisata tambang di wilayah tersebut.

Aktivitas warga juga menjadi atraksi tersendiri. Di kawasan pesisir sekitar Malili, pengunjung dapat menyaksikan kehidupan nelayan, lalu lintas perahu, hingga budidaya tambak yang menjadi denyut ekonomi kampung pesisir.

Fasilitas dan Kapan Sebaiknya Berkunjung

Dari sisi amenitas, Jadesta mencatat Desa Wisata Balantang Gembae memiliki area parkir, kamar mandi umum, penyedia kuliner, musholla, area swafoto, spot foto, dan tempat makan. Fasilitas itu tersebar di sekitar kawasan inti desa wisata.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga sore, ketika cahaya cukup untuk menelusuri tepi sungai dan pesisir. Wisatawan yang ingin menyaksikan aktivitas nelayan biasanya datang pada jam kerja nelayan, sedangkan pencari suasana tenang memilih sore menjelang matahari terbenam.

Karena kawasan ini merupakan desa wisata yang dikelola bersama warga, pengunjung disarankan berkoordinasi dengan pengelola desa, menjaga kebersihan, dan tidak mengganggu aktivitas tambak maupun pelabuhan. Informasi soal tarif masuk dan jam operasional resmi sebaiknya dikonfirmasi langsung ke pengelola desa karena belum ada pengumuman resmi yang bisa dikutip.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga