SUARALUTIM.COM, WOTU — Pariwisata Lutim tidak hanya bertumpu pada tiga danau purbanya. Di kawasan barat kabupaten, wisata pemancingan dan desa wisata tumbuh sebagai alternatif rekreasi yang menjangkau warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah.
Salah satu agenda yang mencuri perhatian adalah Lomba Mancing Lopi Mangkutana. Kegiatan tahunan itu digelar di kolam pemancingan Desa Lopi, Kecamatan Mangkutana, dan menjadi agenda rekreasi yang dinanti penghobi mancing di wilayah Luwu Raya.
Antusiasme peserta tercermin dari jumlah pendaftar yang terus bertambah menjelang hari pelaksanaan. Panitia bahkan menyiapkan pembatasan kuota karena kapasitas lokasi pemancingan terbatas.
Pariwisata Lutim: Mengapa Wisata Pemancingan Bertumbuh
Ketua Panitia Lomba Mancing Lopi Mangkutana, Vera Salurante, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan sebuah penginapan di Mangkutana. Tahun tersebut menjadi penyelenggaraan kedua setelah mendapat sambutan positif pada pelaksanaan sebelumnya.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat baik. Sampai hari ini sudah ada 73 peserta yang mendaftar. Biasanya semakin mendekati hari pelaksanaan jumlah pendaftar terus bertambah, sehingga kami akan membatasi kuota sesuai kapasitas lokasi,” kata Vera, seperti dikutip Luwuraya.com.
Yang menarik, peserta tidak hanya datang dari berbagai wilayah Luwu Timur. Sebagian pendaftar berasal dari luar daerah, seperti Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Soppeng, hingga Kota Parepare.
Menurut Vera, tingginya minat peserta menunjukkan bahwa lomba tersebut mulai menjadi agenda yang dinantikan para penghobi mancing di wilayah Luwu Raya dan sekitarnya. Kegiatan itu digelar pada 8 Agustus 2026, pukul 09.00 hingga 15.00 WITA, di Pemancingan Nek Belo, Desa Lopi, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Total hadiah yang disiapkan mencapai Rp21 juta. Nilai itu menjadi daya tarik tersendiri, di samping suasana kebersamaan antar penghobi mancing dari berbagai daerah.
Dari Rekreasi Menuju Produk Wisata
Wisata pemancingan memiliki karakter berbeda dari wisata danau atau pantai. Kegiatan ini tidak bergantung pada musim libur panjang, tetapi pada komunitas penghobi yang datang berulang.
Selain itu, wisata pemancingan mudah diakses keluarga. Kolam pemancingan umumnya berada dekat permukiman, sehingga perjalanan tidak menuntut waktu tempuh panjang. Model wisata semacam itu cocok menjadi penyangga kunjungan wisata di daerah.
Dampak ekonominya pun bersifat langsung: penjualan tiket kolam, kuliner di sekitar lokasi, hingga penginapan bagi peserta dari luar kabupaten. Bagi pelaku usaha kecil, agenda semacam ini memberi penghasilan tambahan yang bisa diperhitungkan.


