SUARALUTIM.COM, MALILI β Destinasi Luwu Timur di kawasan pesisir Pulau Bulu Poloe masuk tahap penanganan baru. Setelah dua hari aksi bersih-bersih pada akhir September 2026, sekitar dua ton sampah yang didominasi botol plastik bekas air mineral diangkut dari pulau tak berpenghuni di Desa Harapan, Kecamatan Malili, itu. Seiring kegiatan tersebut, sejumlah pihak mulai membahas langkah lanjutan: menjadikan perairan Bulu Poloe sebagai titik konservasi terumbu karang.
Persoalannya bukan hanya sampah. Hasil survei yang disebut dalam pemberitaan menunjukkan kondisi terumbu karang di sisi kanan pulau berada dalam kondisi kritis, bahkan di beberapa titik nyaris tidak terlihat. Kondisi itu membuat pemulihan ekosistem laut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kawasan sebagai tujuan wisata.
Destinasi Luwu Timur yang Menyimpan Masalah Ganda
Bulu Poloe dikenal sebagai salah satu ikon wisata Luwu Timur dan Tana Luwu. Bentang pantainya menjadi sasaran kunjungan warga, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Namun, posisinya sebagai pulau tak berpenghuni membuat kawasan ini rentan: tidak ada penduduk tetap yang menjaga kebersihan harian, sementara arus laut dan aktivitas pengunjung membawa sampah ke pesisirnya.
Fungsional Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur, Muh Risal, menilai aksi bersih pantai penting untuk menjaga keindahan kawasan yang menjadi ikon wisata daerah. Menurutnya, kampanye lingkungan seperti itu diharapkan mengubah perilaku masyarakat, dari membuang sampah sembarangan menjadi lebih peduli.
Data lapangan memberi gambaran soal volume persoalan. Dalam aksi yang digelar selama dua hari dan melibatkan sekitar 70 orang itu, sampah yang terkumpul mencapai ratusan karung dan kantong, dengan mayoritas berupa botol plastik. Perwakilan TNI Angkatan Laut di wilayah pesisir Lampia, Yosep, menyebut sampah di pulau ini pernah terkumpul dalam jumlah ton, bukan hanya satu atau dua karung, seperti dilaporkan Sarambang.id.
Transplantasi Terumbu Karang Dimulai
Bagian terpenting dari rangkaian kegiatan itu bukan pengangkutan sampah, melainkan pemulihan ekosistem laut. PT Citra Lampia Mandiri (CLM) menginisiasi World Cleanup Day dan Transplantasi Terumbu Karang di kawasan tersebut, melibatkan Polairud Polres Luwu Timur, TNI AL, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Luwu Timur, PMI, Basarnas, Karang Taruna, Kwarcab Pramuka Luwu Timur, jurnalis yang tergabung dalam JMSI, komunitas pegiat literasi, mahasiswa, hingga kelompok penyelam Mori Diving Club.
Pada tahap awal, sebanyak 100 spider diturunkan sebagai media tanam terumbu karang. Spider adalah kerangka besi berbentuk menyerupai laba-laba yang dipakai sebagai tempat menempelnya bibit karang. Aksi transplantasi dilakukan pada kedalaman sekitar 10 meter dan melibatkan delapan penyelam.
Manajer Eksternal PT CLM, Fauzi Lukman, menyatakan persoalan yang dihadapi Pulau Bulu Poloe tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah. Menurutnya, kerusakan ekosistem laut membutuhkan upaya pemulihan secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga agenda pembersihan dipadukan dengan transplantasi terumbu karang.
βIni menjadi kolaborasi kita bersama untuk menjaga pulau tersebut, sehingga ekosistem di perairan maupun pulaunya tetap terjaga,β kata Fauzi, dikutip KabarLutim.com.


