SUARALUTIM.COM, NUHA — Kabupaten Luwu Timur punya kanal baru bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Rumah Oleh-Oleh Telaloa resmi hadir di Desa Magani, Kecamatan Nuha, menjadi ruang bagi produk lokal untuk bertemu pasar sekaligus melengkapi pengalaman wisatawan yang berkunjung ke kawasan danau di Lutim.
Bagi destinasi wisata, oleh-oleh bukan pelengkap kecil. Ia menjadi cara warga membawa pulang cerita, sekaligus memperpanjang manfaat kunjungan bagi pelaku usaha lokal. Kehadiran rumah oleh-oleh yang dikelola dengan baik dapat mengubah kunjungan singkat menjadi dampak ekonomi yang lebih awet.
Destinasi Luwu Timur: Rumah Oleh-Oleh Telaloa di Nuha
Keberadaan Rumah Oleh-Oleh Telaloa merupakan bagian dari upaya memberi ruang bagi produk UMKM untuk bertemu dengan pasar, sehingga bisnis lokal dapat tumbuh lebih pesat. Dengan kanal pemasaran yang lebih dekat ke masyarakat, pelaku usaha diharapkan lebih mudah memperkenalkan dan mengembangkan produknya.
Lokasinya di Desa Magani, Kecamatan Nuha, berada di kawasan yang berdekatan dengan pusat aktivitas Sorowako dan jalur menuju kawasan wisata danau. Posisi itu membuatnya mudah dijangkau, baik oleh warga maupun tamu yang datang ke Luwu Timur.
127 UMKM Binaan dan 49 UMKM Potensial
Saat ini tercatat 127 UMKM telah menjadi UMKM binaan Vale Indonesia, sementara 49 UMKM potensial sedang dibidik untuk ikut dibina. Para pelaku usaha itu tersebar di empat kecamatan, yakni Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili.
Keempat kecamatan tersebut merupakan wilayah yang berdekatan dengan kawasan danau Matano, Towuti, dan sekitarnya. Dengan begitu, produk yang dijual di Telaloa tidak hanya menjangkau kebutuhan harian warga, tetapi juga berpeluang masuk ke tas para pelancong yang mencari buah tangan khas Luwu Timur.
Akses Pasar Jadi Kunci Pertumbuhan UMKM
Head of External Relations Sorowako & Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus, mengungkapkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan menghasilkan produk. Pelaku usaha, katanya, juga membutuhkan ekosistem yang mendukung.
“Pelaku usaha juga membutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari kapasitas pengelolaan usaha, pemenuhan legalitas, hingga akses terhadap pasar. Tanpa dukungan tersebut, produk lokal berpotensi memiliki keterbatasan dalam menjangkau konsumen dan berkembang secara berkelanjutan,” ujar Yusri.
Ia menambahkan, pembinaan UMKM didorong berjalan beriringan dengan pembukaan akses pasar. Tujuannya agar pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memenuhi kebutuhan pasar dan punya ruang untuk bertumbuh.
Kolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan
Camat Nuha, Arief Fadillah Amier, menilai pengembangan UMKM membutuhkan komunikasi dan sinergi banyak pihak. “Perlu kolaborasi, duduk bersama, dan banyak komunikasi agar kita bisa memberikan solusi kepada UMKM, termasuk agar semakin banyak produk yang dapat masuk dan dipasarkan di sini,” katanya.
Menurutnya, pemerintah kecamatan akan terus mendukung upaya yang memberi manfaat bagi pelaku UMKM dan masyarakat. Ia berharap pusat oleh-oleh itu terus berkembang dan mendukung kemajuan ekonomi lokal.
Jam Operasional dan Rencana Pengembangan
Rumah Oleh-Oleh Telaloa beroperasi Senin hingga Sabtu, pukul 09.00–17.00 WITA. Kehadirannya diarahkan menjadi salah satu kanal pemasaran bagi produk UMKM dari empat kecamatan sekaligus mendukung terbentuknya ekosistem usaha yang menghubungkan pelaku UMKM, koperasi, masyarakat, dan pasar.
Melalui integrasi pendampingan, penguatan kapasitas, pemenuhan legalitas, dan perluasan akses pasar, UMKM lokal didorong memiliki fondasi usaha yang lebih kuat. Bagi wisatawan, rumah oleh-oleh ini menjadi titik singgah yang praktis: satu tempat untuk melihat ragam produk warga sebelum kembali dari perjalanan di Lutim.


