Berita Lutim — Lima puluh peternak babi di Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, mengikuti bimbingan teknis penerapan biosekuriti di kandang masing-masing. Pelatihan yang digelar Rabu (7/10/2026) itu menyasar satu tujuan utama: menekan risiko masuk dan menyebarnya penyakit pada ternak babi.
Dua penyakit yang jadi perhatian dalam kegiatan ini adalah African Swine Fever (ASF) dan Classical Swine Fever atau yang lebih dikenal sebagai hog cholera. Keduanya termasuk penyakit yang ditakuti peternak karena bisa memukul usaha dalam waktu singkat, sebagaimana dilaporkan Karebata.id.
Bimtek tersebut merupakan kerja sama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, serta Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan.
Empat Fokus Biosekuriti yang Diajarkan
Peserta menerima materi teknis lebih dulu, lalu langsung praktik. Dalam laporan Karebata.id, ada empat hal yang ditekankan kepada peternak:
- Membatasi keluar-masuk orang dan kendaraan ke area kandang, karena lalu lintas manusia dan kendaraan menjadi jalur penyebaran yang paling sering luput diperhatikan.
- Melakukan disinfeksi peralatan dan lingkungan secara rutin, memakai bahan dan cara yang sesuai anjuran petugas.
- Menyediakan area isolasi bagi ternak baru atau ternak sakit, sehingga tidak langsung bercampur dengan ternak yang sehat.
- Menjaga pakan dan air bersih dari kemungkinan kontaminasi virus.
Empat langkah itu terlihat sederhana dan tidak menuntut peralatan mahal. Justru di situlah tantangannya: yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi disiplin menjalankannya setiap hari, termasuk pada musim ketika harga ternak sedang baik dan aktivitas jual beli sedang ramai.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa Itu ASF dan Hog Cholera
African Swine Fever adalah penyakit virus yang menyerang babi domestik dan babi liar. Menurut keterangan World Organisation for Animal Health (WOAH), penyakit ini sangat menular di antara populasi babi dan sering berujung pada kematian ternak dalam jumlah besar. Yang perlu ditegaskan sejak awal: ASF bukan penyakit zoonosis, artinya tidak menular ke manusia.
Hog cholera atau Classical Swine Fever juga merupakan penyakit virus pada babi dengan dampak ekonomi besar. Karena gejalanya bisa saling mirip, penegakan diagnosis biasanya memerlukan pemeriksaan laboratorium oleh petugas berwenang, bukan sekadar pengamatan visual di kandang.
Bagi peternak, konsekuensi wabah bukan hanya soal ternak yang mati. Rantai usaha bisa terganggu: pedagang menahan pembelian, harga di tingkat peternak tertekan, dan biaya pengobatan atau penggantian ternak membengkak. Itulah alasan mengapa pencegahan lewat biosekuriti dipandang lebih murah daripada penanganan setelah wabah terjadi.
Siapa yang Terlibat dan Mengapa Pendekatannya Berbasis Komunitas
Metode yang dipakai dalam pelatihan ini disebut Community-based ASF Biosecurity Intervention. Dari namanya terlihat pendekatannya: intervensi biosekuriti dirancang agar dijalankan bersama komunitas peternak, bukan hanya oleh satu peternak secara terpisah.
Pendekatan itu masuk akal untuk wilayah seperti Luwu Timur. Kandang peternak rakyat umumnya berdiri berdekatan, kadang masih dalam satu lingkungan permukiman. Dalam kondisi seperti itu, biosekuriti satu kandang bisa sia-sia jika kandang tetangga tidak menerapkan hal yang sama.
Itulah sebabnya dalam pelatihan, peserta yang sudah mendapat materi dan praktik diminta membagikan ilmunya kepada peternak lain di sekitar mereka. Setiap peserta juga menerima sertifikat pelatihan. Peran pemerintah daerah diharapkan berlanjut pada tahap pendampingan, karena penerapan biosekuriti butuh pemeriksaan berkala, bukan sekali latihan.
Sebagai rujukan kelembagaan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI mempublikasikan informasi teknis dan panduan penanganan penyakit hewan melalui laman ditjenpkh.pertanian.go.id.


