Jakarta, SuaraLutim – Artikel ini disusun dari pernyataan resmi dan pemberitaan media arus utama pada 12 Oktober 2026.
Viral hari ini, perhatian publik Indonesia terarah ke Arab Saudi setelah milisi Houthi mengklaim
serangan terhadap dua bandara internasional dan fasilitas energi di negara itu. Serangan di Bandara
Internasional King Khalid, Riyadh, dan Bandara Internasional King Fahd, Dammam, menimbulkan korban
serta mengganggu operasional penerbangan sipil. Kementerian Luar Negeri memastikan tidak ada warga
negara Indonesia yang tewas dalam insiden tersebut, sementara kemungkinan korban luka masih
diverifikasi.
Viral Hari Ini: Houthi Klaim Serangan ke Dua Bandara Saudi
Kelompok Houthi dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua bandara Saudi
dan fasilitas minyak utama. Klaim itu disampaikan lewat pernyataan yang disiarkan televisi dan
dikutip kantor berita internasional. Pemerintah Arab Saudi menyatakan penilaian kerusakan dan
pemeriksaan keselamatan sedang dilakukan di lokasi terdampak.
Menurut laporan kantor berita Anadolu yang dikutip Katadata, Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab
Saudi menyatakan insiden terjadi di tengah rangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil.
Pihak berwenang belum merinci tingkat kerusakan pada tahap awal. Operasional bandara sempat
dihentikan sementara untuk pemeriksaan.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan sistem pertahanan udara mencegat dan menghancurkan sebuah
pesawat nirawak di Provinsi Timur. Pernyataan itu disampaikan melalui media sosial resmi koalisi.
Serangan serupa dilaporkan terjadi pada beberapa hari terakhir dengan sasaran berbeda.
Peristiwa ini menjadi salah satu topik paling banyak dibicarakan di platform internasional pada
Senin, 12 Oktober 2026. Media Indonesia menyoroti aspek keselamatan warga negara Indonesia yang
bekerja dan bermukim di Arab Saudi. Pemberitaan itu berkembang cepat karena menyangkut keselamatan
WNI di luar negeri.
Klaim Juru Bicara Militer Houthi
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim serangan mengenai sasaran secara langsung dan
mengganggu lalu lintas udara. Ia menyebut sasaran mencakup Bandara Internasional King Fahd,
Bandara Internasional King Khalid, serta fasilitas gas Shedgum dan fasilitas minyak Tanajib milik
Aramco di Provinsi Timur.
Saree menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas serangan udara Saudi terhadap Yaman. Ia
juga mengancam melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi. Klaim dan ancaman tersebut belum
diverifikasi secara independen oleh otoritas penerbangan maupun perusahaan energi terkait.
Pihak Aramco belum mengeluarkan keterangan rinci mengenai dampak serangan pada fasilitasnya.
Pemerintah Arab Saudi menyebut evaluasi keselamatan penerbangan menjadi prioritas saat ini.
Pembaca perlu membedakan antara klaim pihak yang bertikai dan keterangan resmi otoritas.
Apa yang Diketahui soal Serangan di Riyadh
Serangan pertama dilaporkan menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Otoritas
penerbangan sipil Saudi menyatakan satu proyektil menghantam bandara dan menyebabkan kebakaran di
salah satu aula penumpang. Operasional bandara dihentikan sementara untuk pemeriksaan dan penilaian
keselamatan.
Serangan berikutnya dilaporkan terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026, dengan sasaran Bandara
Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi. Seorang juru bicara militer Saudi
menyatakan proyektil menghantam bandara Riyadh pada hari yang sama. Pihak berwenang menyebut
pemeriksaan lanjutan masih berlangsung.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut, berdasarkan informasi otoritas Arab Saudi, serangan
terhadap Bandara Internasional King Khalid menewaskan 12 orang dan menyebabkan 309 orang lainnya
luka-luka. Sebagian korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis dan telah mendapat penanganan medis.
Data itu disampaikan Kemlu dalam pernyataan resmi pada 11 Oktober 2026.
Laporan media internasional menyebut serangan kedua di bandara Riyadh menyebabkan satu orang
meninggal dan belasan lainnya luka. Seorang warga negara Pakistan disebut menjadi korban tewas
dalam serangan tersebut menurut keterangan otoritas penerbangan sipil Saudi. Angka korban dari
kedua peristiwa masih dapat berubah seiring pemutakhiran data resmi.


