Tambang Nasional kembali menyorot pergerakan harga acuan mineral logam periode kedua Oktober 2026. Harga Mineral Logam Acuan untuk kobalt turun paling dalam, sementara nikel melanjutkan pelemahan dua periode berturut-turut. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 401.K/MB.01/MEM.B/2026.
Kobalt ditetapkan US$38.938,33 per dry metric ton, turun 30,30 persen dibandingkan periode kedua Agustus yang masih US$55.869 per dmt. Nikel berada di US$15.847,67 per dmt, turun 6,56 persen dari posisi periode kedua Agustus sebesar US$16.960 per dmt. Tembaga justru bergerak berlawanan arah.
Angka itu menjadi dasar perhitungan Harga Patokan Mineral yang dipakai dalam transaksi penjualan bijih dan logam di dalam negeri. Bagi perusahaan tambang, arah harga acuan menentukan proyeksi penerimaan negara sekaligus margin usaha pada periode berikutnya.
Tambang Nasional: Rincian HMA Periode Kedua Oktober
Penurunan kobalt berlangsung selama tiga periode bulanan berturut-turut. Harga acuan kobalt tercatat US$55.869 per dmt pada periode kedua Agustus, turun menjadi US$52.704,33 per dmt pada periode kedua September, lalu merosot ke US$38.938,33 per dmt pada periode kedua Oktober.
Nikel bergerak serupa meski dengan amplitudo lebih kecil. Setelah berada di US$16.960 per dmt pada periode kedua Agustus, harga acuan nikel turun ke US$16.698 per dmt pada periode kedua September. Posisi terakhir US$15.847,67 per dmt tercatat turun US$475 atau 2,91 persen dari periode pertama Oktober.
Sejumlah komoditas lain juga melemah pada periode ini. Harga acuan timbal berada di US$1.864,03 per dmt, seng US$3.902,07 per dmt, dan aluminium US$3.172,93 per dmt. Emas sebagai mineral ikutan ditetapkan US$4.199,73 per troy ounce dan perak US$62,14 per troy ounce.
Kobalt Turun Tiga Periode Berturut-turut
Kobalt termasuk komoditas yang jarang menjadi perhatian publik meski perannya besar. Logam ini menjadi bahan penting baterai lithium, paduan logam, dan berbagai produk industri berteknologi tinggi. Sebagian besar produksi kobalt Indonesia muncul sebagai produk samping dari pengolahan bijih nikel laterit.
Karena sifatnya sebagai produk ikutan, pasokan kobalt sulit dikendalikan secara mandiri. Ketika produksi nikel tetap tinggi, volume kobalt yang ikut dihasilkan juga besar. Kondisi itu menekan harga ketika permintaan dari industri baterai melambat atau ketika pasokan global melimpah.
Pelemahan tiga periode berturut-turut menunjukkan tekanan pasar yang tidak bersifat sesaat. Meski demikian, harga acuan resmi berbeda dari harga spot harian di bursa. Menurut penjelasan Ditjen Minerba, HMA dihitung dari rata-rata harga logam pada rentang tanggal tertentu, sehingga pergerakannya lebih lambat dibandingkan fluktuasi harian.
Nikel Melemah, Tembaga Menguat
Nikel masih menjadi komoditas andalan ekspor Indonesia, sehingga arah harga acuannya banyak dinanti pelaku usaha. Penurunan periode ini memperpanjang tren lemah yang mulai terlihat pada awal Oktober. Sebelumnya, harga acuan nikel periode pertama Oktober sudah turun ke US$16.322,67 per dmt.
Tembaga mencatat tren berbeda. Harga acuannya naik 4,90 persen menjadi US$14.578,73 per dmt dari posisi periode kedua Agustus sebesar US$13.897,33 per dmt. Kenaikan itu menjadikan tembaga satu-satunya logam utama yang mencatat penguatan pada periode ini.
Perbedaan arah itu mencerminkan struktur pasar yang tidak seragam. Permintaan tembaga ditopang kebutuhan jaringan listrik, kendaraan listrik, dan pembangunan infrastruktur. Sementara nikel dan kobalt lebih bergantung pada siklus industri baterai dan pasokan dari smelter yang terus beroperasi.
Apa Arti HMA dan HPM bagi Pelaku Usaha
HMA adalah harga acuan yang ditetapkan pemerintah dua kali sebulan. Angka ini menjadi dasar perhitungan Harga Patokan Mineral untuk penjualan bijih nikel dan komoditas lain di dalam negeri. Dengan begitu, tidak ada penjualan yang boleh berada di bawah patokan yang ditetapkan.
Bagi perusahaan, penurunan HMA langsung memengaruhi nilai penjualan meski volume produksi tidak berubah. Penerimaan royalti negara juga bergerak mengikuti harga acuan, sehingga pelemahan harga berdampak pada kas daerah penghasil. Perencanaan anggaran daerah perlu mempertimbangkan volatilitas ini.
Pelaku usaha kecil, termasuk pemasok bahan bakar dan jasa angkut di kawasan tambang, merasakan dampaknya secara tidak langsung. Ketika margin perusahaan menyempit, penyesuaian biaya biasanya menular ke rantai pasok di sekitarnya.


