Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: HMA Kobalt Anjlok 30 Persen, Nikel Turun

20 Oktober 2026 • zul • 19 kali dibaca
Kawasan pelabuhan PT Indonesia Morowali Industrial Park di Desa Labota, Morowali
Marwan Mohamad, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Harga Batu Bara Acuan Naik di Semua Kalori

Berbeda dari mineral logam, harga batu bara acuan justru mencatat penguatan. Ditjen Mineral dan Batu Bara menyebut HBA naik di semua rentang nilai kalori, mulai GAR 6.322, 5.300, 4.100, hingga 3.400 kcal/kg. Kenaikan itu terjadi dibandingkan periode pertama Oktober 2026, berbeda dari pelemahan HBA dan HMA pada awal Oktober.

Penguatan batu bara ditopang permintaan energi global yang masih solid. Posisi ini berbeda dengan pelemahan nikel dan kobalt yang lebih terkait industri baterai dan logam olahan. Pergerakan dua kelompok komoditas itu kini jarang searah.

Seperti halnya mineral, HBA dihitung berdasarkan formula yang mempertimbangkan sejumlah indeks internasional. Karena itu, pergerakan harga acuan batu bara tidak selalu sama dengan harga transaksi yang disepakati pembeli dan penjual pada waktu tertentu.

Apa yang Diketahui

HMA kobalt periode kedua Oktober 2026 ditetapkan US$38.938,33 per dmt dan turun 30,30 persen dibandingkan periode kedua Agustus. HMA nikel ditetapkan US$15.847,67 per dmt atau turun 6,56 persen pada rentang waktu yang sama.

Tata Atur
Iklan

Tembaga menjadi satu-satunya logam utama yang menguat, naik 4,90 persen menjadi US$14.578,73 per dmt. Penetapan dilakukan lewat Kepmen ESDM Nomor 401.K/MB.01/MEM.B/2026 dan berlaku sebagai dasar perhitungan harga patokan penjualan.

HBA untuk periode yang sama naik di seluruh rentang nilai kalori. Data penetapan harga acuan dirilis dua kali setiap bulan, sehingga pembanding berikutnya akan tersedia pada awal November 2026.

Apa yang Belum Terkonfirmasi

Belum ada penjelasan resmi mengenai berapa lama tren penurunan kobalt dan nikel akan berlangsung. Pemerintah juga belum menyampaikan perkiraan dampak pelemahan harga terhadap target penerimaan negara dari sektor mineral.

Rencana pengurangan produksi oleh sejumlah produsen nikel asal China masih dalam tahap pembahasan. Bila terealisasi, dampaknya terhadap HMA periode berikutnya belum dapat dihitung karena besaran pemangkasan belum diumumkan secara resmi.

Pemerintah juga belum memerinci berapa besar koreksi harga patokan bijih nikel kadar rendah yang akan berlaku. Rincian itu penting bagi penambang kecil yang menjual bijih dengan kadar di bawah standar smelter.

Dampak bagi Daerah Penghasil dan Hilirisasi

Daerah penghasil nikel seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku Utara bergantung pada dana bagi hasil dari sektor mineral. Pelemahan harga acuan berpotensi menekan penerimaan tersebut meski volume produksi tetap. Pemerintah daerah perlu menyiapkan bantalan fiskal.

Bagi industri hilirisasi, penurunan harga bahan baku bisa berarti peluang. Smelter dan pabrik pengolahan yang membeli bijih dengan harga acuan lebih rendah berpotensi menikmati margin lebih baik, meski nilai ekspor minerba termasuk nikel Rp467,55 triliun pada periode sebelumnya menunjukkan volume yang tetap besar.

Ketidakpastian harga juga memengaruhi keputusan investasi proyek baru. Proyek pengolahan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun memerlukan asumsi harga jangka panjang, bukan harga satu periode. Karena itu, pergerakan tiga periode seperti sekarang menjadi pertimbangan penting bagi perbankan yang membiayai proyek.

Untuk pekerja dan masyarakat di sekitar tambang, dampak paling terasa lewat lapangan kerja dan belanja perusahaan. Penurunan harga yang berlanjut biasanya mendorong efisiensi, mulai dari pengurangan jam operasi hingga penundaan pekerjaan nonprioritas.

Cara Membaca Data Harga Acuan

HMA bukan harga jual yang berlaku di pasar bebas. Angka itu dihitung dari rata-rata harga internasional pada rentang tanggal tertentu, lalu ditetapkan lewat keputusan menteri. Karena itu, HMA sering tertinggal dari pergerakan harga harian.

Pembaca data sebaiknya membandingkan periode yang setara. Membandingkan HMA periode kedua Oktober dengan periode kedua Agustus memberi gambaran tren bulanan, sementara perbandingan dengan periode pertama Oktober menunjukkan perubahan dua pekan terakhir. Dua sudut itu bisa memberi kesan berbeda.

Perlu diingat juga bahwa HMA berlaku untuk mineral logam, sementara batu bara memakai HBA. Keduanya ditetapkan dalam satu keputusan menteri tetapi memakai formula dan indeks pembentuk harga yang berbeda. Mencampur keduanya dalam satu kesimpulan bisa menyesatkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa harga acuan nikel dan kobalt periode kedua Oktober 2026?

HMA nikel ditetapkan US$15.847,67 per dmt dan kobalt US$38.938,33 per dmt. Keduanya turun dibandingkan periode kedua Agustus 2026.

Mengapa harga kobalt turun paling dalam?

Kobalt sebagian besar dihasilkan sebagai produk samping pengolahan bijih nikel, sehingga pasokannya sulit dikendalikan. Ketika produksi nikel tetap tinggi sementara permintaan industri baterai melambat, harga tertekan lebih tajam.

Apakah penurunan ini memengaruhi royalti negara?

Ya. HMA menjadi dasar perhitungan harga patokan penjualan, sehingga pelemahan harga acuan berpotensi menekan nilai penjualan dan penerimaan negara dari sektor mineral pada periode berjalan.

Baca juga

Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga