Berita indonesia hari ini menyorot capaian pembangunan konektivitas nasional. Layanan internet publik menjangkau hampir 32.000 lokasi di seluruh Indonesia hingga September 2026.
Angka tersebut memperkuat konektivitas nasional dan mendukung layanan publik yang lebih baik, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Pembangunan akses internet itu dijalankan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital.
Sebagian besar titik layanan berada di sektor pendidikan, disusul kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, dan ruang kegiatan masyarakat.
Berita Indonesia: Internet Publik Jangkau 32.000 Lokasi
Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menyatakan sekitar 68 persen lokasi pembangunan infrastruktur internet dialokasikan untuk sektor pendidikan.
Sektor kesehatan mendapat porsi sekitar 5,89 persen, sementara sekitar 19,9 persen berada di kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat.
Program BAKTI AKSI menyediakan akses internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik. Adapun BAKTI Sinyal membangun menara 4G dan menara kewajiban pelayanan universal di 6.747 lokasi wilayah tertinggal.
Hingga awal Juni 2026, satelit SATRIA-1 dengan kapasitas 150 Gbps dilaporkan melayani 31.803 lokasi, termasuk 21.718 sekolah dan 6.353 kantor pemerintahan.
Selain satelit, program ini memanfaatkan Palapa Ring, tulang punggung serat optik sepanjang 12.148 kilometer yang menghubungkan 131 pusat operasi jaringan di 57 kabupaten dan kota.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Manfaat di Daerah Terpencil
Di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, jaringan BAKTI membantu sekolah melakukan modernisasi layanan dan mempermudah administrasi digital.
Siswa dan guru kini punya akses ke sumber belajar nasional. Puskesmas di kawasan terpencil juga lebih mudah terhubung dengan jaringan rujukan medis.
Pemerintah daerah merasakan manfaat serupa pada percepatan pengiriman data laporan. Proses yang sebelumnya menunggu kunjungan petugas kini bisa dilakukan lebih cepat.
Di sejumlah daerah, bantuan akses internet menyasar kantor desa dan sekolah. Program serupa juga berjalan di kabupaten kepulauan yang sebelumnya kesulitan sinyal.
Meski begitu, masih ada desa yang belum terjangkau jaringan. Data Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sekitar 2.300 desa belum memiliki akses internet.
Menjaga Infrastruktur Tetap Terpakai
Fadhilah menegaskan pembangunan infrastruktur tidak cukup berhenti pada ketersediaan sinyal. Keberadaan jaringan tidak berdampak maksimal jika masyarakat dan instansi belum memanfaatkannya secara optimal.
BAKTI menyusun strategi keluar dari sejumlah lokasi yang tingkat pemanfaatannya dinilai sudah matang. Keberhasilan program diukur dari kemampuan daerah mandiri, bukan dari lamanya pendampingan.
Empat pilar yang dipakai adalah keberlanjutan masyarakat, kualitas layanan, perluasan manfaat bagi usaha mikro, serta keberlanjutan industri.
Pendekatan itu dipilih agar pembangunan akses internet tidak berhenti setelah perangkat terpasang, tetapi juga mendorong adopsi dan inklusi digital di daerah.
Dukungan untuk Layanan Publik
Kementerian Komunikasi dan Digital juga bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal untuk memperluas akses internet di desa-desa yang belum terkoneksi.
Komisi I DPR sebelumnya meminta pemerintah menuntaskan wilayah tanpa sinyal. Di Riau, misalnya, tercatat ratusan desa yang masuk kategori blankspot sinyal.
Pemerintah menargetkan penyelesaian titik tugas di sekolah, puskesmas, dan kantor desa agar layanan dasar lebih merata.
Perluasan akses juga diarahkan untuk mendukung ekonomi masyarakat. Pelaku usaha kecil di daerah diharapkan bisa memanfaatkan jaringan untuk pemasaran produk.
Apa yang Diketahui
Layanan internet publik menjangkau hampir 32.000 lokasi di Indonesia hingga September 2026, dengan mayoritas titik berada di sektor pendidikan.
Pembangunannya memakai satelit SATRIA-1, jaringan serat optik Palapa Ring, serta menara 4G dan menara kewajiban pelayanan universal.
Program ini menyasar wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal yang sebelumnya tidak memiliki akses internet memadai.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Belum ada evaluasi independen yang mengukur dampak konektivitas terhadap hasil belajar siswa atau kualitas layanan kesehatan di setiap lokasi.
Jumlah desa yang masih tanpa akses internet masih berbeda antar kementerian, sehingga angka finalnya belum dipastikan.
Rincian lokasi yang akan dilepas melalui strategi keluar BAKTI belum diumumkan secara lengkap.


