SUARALUTIM.COM, MALILI — Berita Luwu Timur hari ini datang dari ruang kelas. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur bersama Save the Children Indonesia mengintensifkan pemantauan program kesehatan sekolah pada Selasa (20/10/2026), dengan menerjunkan tiga tim pengamat ke enam sekolah sasaran. Langkah itu dilakukan untuk memastikan lingkungan belajar yang sehat bagi siswa benar-benar terbangun, bukan sekadar tertulis di dokumen program.
Pemantauan melibatkan Yayasan Celosia Marennu dan merupakan tindak lanjut Rapat Persiapan Monitoring Bersama Working Group Healthier Smiles Program. Fokusnya bukan pada kelengkapan berkas, melainkan pada praktik harian di sekolah: bagaimana layanan kesehatan berjalan, bagaimana sanitasi dirawat, dan bagaimana kebiasaan hidup sehat dibudayakan oleh guru serta murid.
Berita Luwu Timur: Enam Sekolah Jadi Sasaran Hari Pertama
Pada hari pertama peninjauan, tiga tim diterjunkan langsung ke enam sekolah. Daftar sasarannya adalah SDN 114 Batangnge, SDN 109 Majaleje, MIN 1 Lutim, SDN 108 Bone Pute, MIS DDI Cendana Hijau, dan SDN 136 Cendana Hijau. Pemantauan akan berlanjut ke sekolah berbeda pada Senin (26/10/2026).
Pemilihan sekolah-sekolah itu memperlihatkan pola yang penting: sasaran program tidak dipusatkan di satu kawasan, tetapi tersebar. Ada sekolah negeri, ada madrasah, ada sekolah dasar di kawasan permukiman transmigran seperti Cendana Hijau. Bagi daerah yang wilayahnya membentang dari pesisir Wotu sampai dataran tinggi Towuti, penyebaran lokasi seperti ini menentukan apakah program kesehatan sekolah menyentuh warga di pinggiran atau berhenti di sekolah-sekolah dekat pusat kota.
Tim Observer Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sekaligus Pengawas Sekolah Binaan, Hamsi, menekankan bahwa sinergi antarinstansi dan pemantauan berkala sangat penting. Menurutnya, tujuan akhirnya agar sekolah benar-benar membudayakan pola hidup sehat dalam keseharian siswa, bukan menjadikannya formalitas administratif.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Tiga Aspek yang Dinilai di Setiap Sekolah
Penilaian dan evaluasi lapangan berfokus pada tiga aspek utama. Ketiganya dinilai melalui observasi langsung serta diskusi terarah bersama guru dan murid di tiap sekolah.
- Pendidikan dan pelayanan kesehatan. Sejauh mana sekolah menjalankan pembelajaran kesehatan dan menyediakan layanan dasar bagi murid.
- Fasilitas sanitasi sekolah. Ketersediaan dan kondisi sarana sanitasi yang layak, aman, dan terawat.
- Lingkungan sekolah sehat. Kebersihan, sirkulasi udara, ketersediaan air, serta kebiasaan warga sekolah dalam menjaga lingkungan.
Pendekatan tiga aspek itu sejalan dengan kerangka Sekolah Sehat yang dipakai secara nasional, yang menempatkan kesehatan bukan sebagai mata pelajaran tambahan, melainkan sebagai kondisi yang harus tersedia agar proses belajar berjalan. Anak yang sering sakit, atau belajar di ruang yang sanitasinya buruk, hampir selalu tertinggal dalam capaian belajar meski gurunya kompeten.
Karena itu, hasil observasi di lapangan menjadi bahan penting. Catatan tentang toilet rusak, air bersih yang tidak stabil, atau tempat cuci tangan tanpa sabun adalah temuan yang jauh lebih berguna bagi perencanaan anggaran dibanding laporan yang hanya menyebut kegiatan sudah dilaksanakan.
Suara dari Sekolah dan Pendamping Program
Kepala Sekolah SDN 109 Majaleje, Sabrum, menyatakan komitmen pihak sekolah untuk segera menindaklanjuti setiap catatan evaluasi. Ia menyebut fasilitas yang kurang akan dilengkapi agar seluruh indikator sekolah sehat dapat dipenuhi.
Dari sisi pendamping program, District Coordinator Save the Children Indonesia, Rina Zulwiyati, menjelaskan tujuan pemantauan lapangan. “Monitoring ke sekolah dampingan ini dimaksudkan untuk memantau pelaksanaan program, memastikan kegiatan, serta mengetahui perkembangan, tantangan dan kebutuhan sekolah dalam implementasi program dampingan,” kata Rina.
Pernyataan itu menegaskan satu hal yang kerap luput dalam program kesehatan sekolah: kebutuhan tiap sekolah berbeda. Sekolah dengan ratusan murid dan sekolah dengan rombongan belajar kecil menghadapi persoalan sanitasi yang tidak sama. Pemetaan kebutuhan di lapangan menjadi dasar agar bantuan tidak dibagi rata tanpa perhitungan, tetapi diarahkan pada titik yang paling menahan perbaikan.


