Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Kesehatan

Luwu Timur: RSUD Wotu Edukasi Deteksi Dini Gangguan Jiwa

18 Oktober 2026 • Admin • 29 kali dibaca
Peserta mengikuti penyuluhan kesehatan jiwa di ruang tunggu poliklinik RSUD I Lagaligo Wotu
Gambar: Dok. Luwurayapos.com (penyuluhan kesehatan jiwa di RSUD I Lagaligo Wotu, 12 Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I Lagaligo Wotu menggelar penyuluhan kesehatan bertema deteksi dini gangguan jiwa pada Senin (12/10/2026). Kegiatan berlangsung di ruang tunggu poliklinik rumah sakit tersebut dan menghadirkan dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Hardawati, Sp.KJ, sebagai narasumber.

Penyuluhan digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober. Tujuannya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengenali tanda dan gejala gangguan jiwa sejak dini.

Edukasi di Ruang Tunggu Poliklinik

Memilih ruang tunggu poliklinik sebagai lokasi kegiatan membuat penyuluhan menjangkau pasien dan keluarga yang sedang menunggu. Mereka tidak perlu datang khusus; edukasi berlangsung di tengah aktivitas layanan harian.

Pendekatan seperti ini punya kelebihan. Peserta berada di lingkungan yang akrab dengan persoalan kesehatan, sehingga pertanyaan yang muncul biasanya lebih konkret. Namun, durasi kegiatan terbatas karena pasien menunggu giliran pemeriksaan.

Tata Atur
Iklan

Pada akhir kegiatan, peserta diberi kesempatan mengikuti sesi tanya jawab. Panitia juga menyiapkan suvenir bagi peserta yang mengajukan pertanyaan, sebagai upaya mendorong partisipasi aktif.

Tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026

Kegiatan itu mengusung tema “Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change” atau “Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”. Tema tersebut menegaskan pentingnya mendengarkan pengalaman dan cerita setiap individu terkait kesehatan jiwa.

Pilihan tema itu relevan dengan praktik layanan. Banyak orang dengan gangguan jiwa tidak mencari bantuan karena takut dinilai, dicap, atau dijauhi. Ketika pengalaman mereka didengar, peluang mendapatkan pertolongan lebih besar.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Stigma sebagai Penghalang

Stigma masih menjadi penghalang utama dalam penanganan kesehatan jiwa. Di banyak komunitas, gangguan jiwa dianggap aib keluarga atau kelemahan iman. Akibatnya, penderita dan keluarganya menutup diri dan datang ke layanan ketika kondisi sudah berat.

Stigma juga memengaruhi lingkungan kerja dan sekolah. Orang yang sedang mengalami tekanan psikologis sering memilih diam karena khawatir dianggap tidak mampu bekerja atau belajar. Padahal, penanganan awal dapat mencegah kondisi memburuk.

Karena itu, edukasi tidak cukup menyasar penderita. Keluarga, guru, tokoh agama, dan tempat kerja perlu memahami bahwa gangguan jiwa adalah kondisi kesehatan yang dapat ditangani, bukan kekurangan moral.

Deteksi dini di layanan primer

Deteksi dini paling mungkin dilakukan di puskesmas dan posyandu, tempat warga berhubungan rutin dengan tenaga kesehatan. Keluhan tidur, kecemasan berlebihan, atau perubahan perilaku yang menetap bisa menjadi pintu masuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, tenaga kesehatan di layanan primer membutuhkan pelatihan agar mampu membedakan keluhan biasa dan tanda gangguan yang perlu dirujuk. Rujukan ke spesialis jiwa juga harus didukung ketersediaan layanan di rumah sakit daerah.

Layanan Jiwa di Daerah

Ketersediaan dokter spesialis jiwa di kabupaten menjadi faktor penentu. Kehadiran dr. Hardawati, Sp.KJ, dalam penyuluhan menunjukkan RSUD I Lagaligo Wotu memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan edukasi sekaligus layanan rujukan.

Selain tenaga medis, layanan jiwa membutuhkan psikolog, perawat terlatih, dan pekerja sosial. Tanpa tim yang lengkap, penanganan berhenti pada pemberian obat tanpa pendampingan psikososial.

Di sisi lain, RSUD tidak bisa bekerja sendiri. Puskesmas, dinas sosial, sekolah, dan organisasi masyarakat perlu terhubung dalam jalur rujukan yang jelas. Kasus yang berkaitan dengan kekerasan, misalnya, membutuhkan pendampingan lintas sektor.

Ketersediaan layanan juga berkaitan dengan jarak. Warga di kecamatan utara dan timur harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju rumah sakit rujukan. Jika layanan awal di puskesmas tidak siap, perjalanan itu menjadi satu-satunya pilihan, bahkan untuk keluhan yang sebenarnya bisa ditangani lebih dekat.

Peran keluarga

Keluarga adalah tempat pertama seseorang mencari dukungan sebelum berhubungan dengan layanan kesehatan. Sikap menerima, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mendampingi ke layanan kesehatan dapat menentukan apakah pengobatan berjalan atau terputus.

Keluarga juga perlu memahami bahwa pemulihan membutuhkan waktu. Pengobatan gangguan jiwa sering berlangsung panjang dan menuntut kedisiplinan. Dukungan untuk minum obat teratur dan mengikuti kontrol menjadi bagian penting.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga