Apa yang Bisa Dilakukan Warga
Langkah paling sederhana adalah berhenti menganggap gangguan jiwa sebagai hal yang memalukan. Sikap itu tidak menuntut pengetahuan medis, tetapi mengubah cara berbicara dan memperlakukan orang di sekitar.
Kedua, mengenali tanda yang perlu diperhatikan: perubahan pola tidur yang menetap, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, keluhan fisik tanpa sebab jelas, atau pikiran untuk menyakiti diri. Tanda seperti ini sebaiknya dibawa ke layanan kesehatan, bukan dipendam.
Ketiga, mendampingi keluarga atau tetangga yang sedang menjalani pengobatan. Dukungan sederhana seperti mengingatkan jadwal kontrol dan mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu keberlanjutan pengobatan.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Peran Pemerintah Daerah dan Puskesmas
Pemerintah daerah menentukan apakah layanan jiwa tersedia dan terjangkau. Anggaran untuk tenaga kesehatan, obat, dan ruang layanan menjadi prasyarat. Tanpa itu, edukasi hanya berhenti pada imbauan.
Puskesmas memegang peran pada skrining dan rujukan. Tenaga kesehatan perlu dilatih agar percaya diri menangani keluhan awal dan tidak ragu merujuk kasus yang membutuhkan spesialis.
Sekolah juga menjadi titik penting. Guru dapat mengenali perubahan perilaku siswa dan menghubungkan keluarga dengan layanan. Program edukasi di sekolah perlu disusun bersama tenaga kesehatan agar tidak menjadi ceramah tanpa tindak lanjut.
Terakhir, data layanan perlu dicatat rapi. Jumlah kunjungan, jenis keluhan, dan pola rujukan memberi gambaran kebutuhan nyata. Data itu menjadi dasar penyusunan program berikutnya, bukan sekadar laporan tahunan.
Masyarakat yang Lebih Peduli
Tujuan akhir penyuluhan bukan sekadar pengetahuan. Yang diharapkan adalah perubahan sikap: warga tidak lagi menjauhi orang dengan gangguan jiwa, tetapi membantu mereka mendapatkan layanan.
Perubahan itu membutuhkan kegiatan berulang dan konsisten, bukan hanya sekali dalam setahun. Satu penyuluhan tidak cukup mengubah kebiasaan komunitas. Kegiatan serupa perlu digelar di puskesmas, sekolah, dan kelompok masyarakat, dengan materi yang disesuaikan audiens.
RSUD I Lagaligo Wotu menyatakan harapan agar kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa meningkat, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas, termasuk melalui kegiatan lanjutan di tingkat kecamatan. Harapan itu masuk akal, asalkan edukasi berjalan konsisten dan layanan rujukan benar-benar tersedia.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kapan penyuluhan kesehatan jiwa di RSUD I Lagaligo Wotu digelar?
Pada Senin, 12 Oktober 2026, di ruang tunggu poliklinik RSUD I Lagaligo Wotu, dengan narasumber dr. Hardawati, Sp.KJ.
Apa tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026?
“Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change” atau “Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”.
Mengapa deteksi dini penting?
Karena penanganan lebih awal dapat mencegah kondisi memburuk dan mengurangi beban penderita serta keluarga. Deteksi dini juga memungkinkan rujukan dilakukan sebelum kondisi menjadi berat.
Sumber: Luwurayapos.com (12 Oktober 2026) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal kesehatan mental. Baca juga cakupan imunisasi Luwu Timur diperkuat dan 152 dos susu untuk anak TK.
Baca juga
- Luwu Timur: Dinkes Borong 8 Penghargaan APKESMI 2026
- Berita Luwu Timur: 152 Dos Susu untuk Anak TK di 11 Kecamatan
- Berita Lutim: Kesiapsiagaan Krisis Kesehatan Diperkuat
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


