Berita viral hari ini datang dari ruas Tol Pasuruan-Probolinggo di Jawa Timur, tempat pesawat tempur TNI Angkatan Udara melakukan pendaratan dan lepas landas. Uji coba berlangsung Kamis 22 Oktober 2026 di kilometer 834 hingga kilometer 837+500. Kegiatan itu menyiapkan jalan tol sebagai landasan alternatif bila pangkalan udara tidak bisa dipakai. Empat pesawat dikerahkan dari dua pangkalan berbeda.
Berita Viral: F-16 Lepas Landas di Tol Paspro
Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyaksikan langsung jalannya pengujian. Ia menyatakan kegiatan itu menguji kesiapan operasional sekaligus kemampuan memanfaatkan infrastruktur daerah. Menurutnya, jalan tol dapat menjadi pilihan ketika landasan atau bandara tidak lagi bisa digunakan. Fungsi utama tol sebagai jalur transportasi masyarakat, katanya, tetap menjadi prioritas.
Dalam kutipan Antara, Tonny menjelaskan bahwa pemanfaatan jalan tol bersifat terbatas dan situasional. TNI AU ingin memastikan infrastruktur daerah bisa mendukung operasi penerbangan dalam kondisi tertentu. Pernyataan itu menegaskan bahwa uji coba bukan ajang demonstrasi kekuatan. Fokusnya adalah kesiapan prosedur dan kelayakan teknis.
Sejumlah media nasional melaporkan kegiatan ini sepanjang hari. Republika menyoroti kesuksesan pendaratan kedua jenis pesawat. VIVA menulis rincian lokasi dan jumlah pesawat yang dikerahkan. Pemberitaan itu memberi gambaran seragam tentang tujuan dan pelaksanaan uji coba.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Empat Pesawat dari Dua Lanud
Pengujian melibatkan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Lanud Iswahjudi, Madiun. Dua pesawat lainnya adalah EMB-314 Super Tucano dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Kombinasi itu mencakup pesawat latih tempur ringan dan jet tempur utama. Keduanya diuji pada ruas yang sama.
Pemilihan dua jenis pesawat memberi variasi beban dan karakter pendaratan. Super Tucano lebih ringan dan lambat, sementara F-16 membutuhkan jarak dan kecepatan berbeda. Dengan menguji keduanya, TNI AU bisa menilai kelayakan ruas tol untuk berbagai tipe. Hasilnya menjadi bahan pertimbangan untuk pemetaan landasan alternatif.
Ruas yang dipakai memiliki lebar 24 meter. Pemerintah daerah dan pengelola jalan melakukan penyesuaian agar kegiatan berjalan aman. Sejumlah fasilitas jalan harus dibongkar sementara, termasuk median pemisah arah. Setelah pengujian, ruas itu disiapkan untuk dibuka kembali bagi pengguna jalan.
Mengapa Jalan Tol Dipakai sebagai Landasan
Landasan alternatif atau alternate runway adalah konsep yang dipakai banyak negara. Gagasan dasarnya, pesawat militer membutuhkan lokasi pendaratan cadangan bila pangkalan utama terganggu. Jalan tol lurus dengan perkerasan kuat bisa menjadi pilihan dalam kondisi darurat. Karena itu sejumlah negara menjalin kerja sama dengan pengelola jalan raya.
Bagi Indonesia, konsep ini relevan karena wilayahnya luas dan tersebar di banyak pulau. Pangkalan udara tidak selalu tersedia di dekat wilayah operasi. Infrastruktur jalan bisa memperpendek jarak dan waktu respons. Namun pemanfaatannya harus memperhitungkan keselamatan pengguna jalan.
Tonny menegaskan bahwa penggunaan jalan tol hanya untuk keadaan tertentu. Ia menyebut koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum akan terus dilakukan. Koordinasi itu mencakup pemetaan ruas yang memenuhi syarat teknis, sejalan dengan pola kerja antarlembaga yang juga terlihat saat TNI menindaklanjuti surat KPK soal BNPB.
Syarat Teknis: 3,5 Kilometer dan Lebar 24 Meter
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Ni Komang Resminiati menyebut ruas Tol Paspro punya lintasan lurus sekitar 3,5 kilometer. Lebarnya 24,5 meter menurut ukuran BPJT. Menurutnya, dimensi itu memenuhi kriteria teknis TNI AU untuk landasan pacu pesawat tempur. Perbedaan angka lebar dengan laporan TNI AU berasal dari cara pengukuran yang berbeda.
Selain panjang dan lebar, perkerasan jalan harus mampu menahan beban pesawat. Permukaan juga perlu bersih dari benda yang bisa merusak mesin. Faktor cuaca dan drainase ikut menentukan kelayakan. Semua syarat itu menjelaskan mengapa tidak semua ruas tol bisa dipakai.
Median jalan dibongkar agar pesawat punya ruang cukup. Fasilitas seperti penerangan dan rambu juga perlu disesuaikan selama pengujian. Pekerjaan persiapan itu memakan waktu beberapa hari sebelum pesawat mendarat. Karena itu penutupan ruas dilakukan sejak 19 Oktober 2026.


